Sunday, 21 July 2024

SUSAH BILANG TIDAK? KAMU WAJIB BACA BUKU INI!

Hola amigos! 

Balik ke #reviewbykirei

Kali ini aku mau review buku self improvement yang menurutku bagus banget buat dibaca di saat-saat krisis mental seperti sekarang ini. Biar tetap waras ceunah 😁


Set Boundaries by Nedra Glover Tawwab

Kamu susah banget bilang "tidak"? Atau kamu susah banget buat menolak permintaan yang sebenernya nggak pengin kamu lakuin? Bahkan kadang kamu sampai frustrasi dan ingin menghilang aja dari dunia ini? 

Sebagai contoh, kamu lagi nggak pengin keluar rumah di akhir pekan, tapi temanmu maksa buat ngajak keluar. Kemudian demi menjaga perasaan temanmu, kamu mengiyakan dan pergi juga. 

Atau ada kasus lain, kamu nggak punya dana cadangan untuk dipinjamin ke orang lain, terus tiba-tiba teman atau saudaramu datang pinjam dengan banyak alasan dan karena merasa kasihan kita pinjami juga.

Masih banyak banget sebenernya hal-hal yang mirip-mirip seperti contoh barusan. Jujur aku salah satu orang yang susah banget untuk menolak permintaan orang lain, terutama permintaan tolong dari orang terdekat. Ketika akhirnya aku sadar kalau banyak dari mereka yang take me for granted.

I was frustrated, helpless, sampai akhirnya aku nemu orang posting bukunya Nedra Glover Tawwab ini. Pas banget waktu aku ke toko buku kesayangan, I felt like I found my cure. Langsung aja aku beli deh buku ini. 

Di sampul bukunya tertulis "Set Boundaries, agar hidup kita tenang." Emang kalau nggak punya batasan hidup kita jadi gimana? Yang jelas akan terasa melelahkan karena kita hampir nggak punya waktu untuk diri sendiri. 

Buku ini ditulis oleh seorang psikoterapis dan pakar hubungan yang sudah menangani berbagai macam persoalan untuk menjadikan relasi yang sehat. Kebayang kan gimana detailnya Bunda ini menulis. 

Buku ini ada 2 bagian dan terdiri dari 15 bab. Bagian pertama menjelaskan bagaimana pentingnya batasan di dalam hubungan yang sehat lalu bagian kedua menjelaskan tentang cara menetapkan batasan. Tawwab menuliskan beberapa contoh nyata kasus yang pernah ditanganinya di setiap awal bab supaya kita gampang menyerap apa tujuan dari penjelasannya kemudian. Lalu di akhir bab, Tawwab akan menyajikan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan pembahasan di bab tersebut untuk kita renungkan. Seringnya Tawwab menyuruh kita untuk menuliskan jawabannya di buku harian atau selembar kertas. Aku prefer nulis di buku harian jadi sekalian untuk brain dump juga.

Karena buku ini ditulis oleh pakarnya, buku ini bener-bener membantu buat kita yang baru belajar gimana caranya menetapkan batasan tapi nggak tau mulai dari mana. Bagian kedua buku menjelaskan bagaimana caranya kita menetapkan batasan mulai dari lingkungan keluarga, relasi romantis, pertemanan, pekerjaan bahkan bagaimana caranya menetapkan batasan di dunia media sosial. 

Di akhir buku, Tawwab menyuguhkan sekitar 15 pertanyaan yang mesti kita jawab untuk mengetes seberapa sehat batasan yang sudah kita buat untuk orang lain. Apakah itu keropos, sehat atau bahkan kaku. 

Lalu yang paling aku suka di buku ini, Tawwab menyguhkan beberapa judul referensi buku yang bisa kita baca untuk self improvement

Beberapa point yang aku dapat dari buku ini yang bisa jadi bahan pelajaran:

  1. Memberi batasan nggak selalu dengan cara mengatakan "tidak" dan bukan berarti juga jadi orang yang jahat
  2. Ketika baru pertama kali menetapkan batasan, mungkin beberapa orang akan heran dan mempertanyakannya. Nggak apa-apa, itu bagian dari proses. Kasih saja pengertian.
  3. Jangan pernah berasumsi orang akan memahami keinginan kita tanpa kita kasih tau apa yang kita inginkan. Kalau kita pengin kasih batasan, ngomong aja dan jangan pernah merasa bersalah karena sudah menetapkan batasan.
  4. Memberi batasan adalah hal yang paling aman untuk menjaga hubungan tetap sehat.

I highly recommend this book for you! 


Happy reading, guys! πŸ’–


Kirei πŸ’ž

Sunday, 7 July 2024

TREKKING DI BUKIT KIARA BARENG KOMPENI

Sabtu, 22 Juni 2024


Sekitar dua minggu sebelum trip singkatku ke Kuala Lumpur buat "istirahat sejenak", aku iseng buka aplikasi Couchsurfing dan cek ada nggak traveler yang lagi di KL di tanggal yang sama denganku. Aku juga cek ada event apa aja disana siapa tahu ada sesuatu yang baru yang bisa aku lakuin daripada cuma rebahan dan makan atau lagi-lagi ke toko buku (tapi ini kek wajib sih πŸ˜†)

Pas sedang scroll event, tiba-tiba ada satu event yang menarik perhatianku. Strolling around at TTDI Park di tanggal 22 Juni yang mana pas banget dengan jadwalku. Wah dimana itu TTDI Park? Baru pertama kali dengar nama itu setelah berkali-kali berkunjung ke KL. Akhirnya aku memberanikan diri gabung. Pesertanya baru aku dan si organiser. Aku langsung cari informasi mengenai tempat tersebut yang ternyata jaraknya sekitar sejam lebih naik kereta sambung menyambung dari rumah temanku di Cheras. Aku pikir kenapa tidak, menyambangi tempat baru plus ketemu teman baru. Yeay...!! 


TTDI Park Kuala Lumpur

Beberapa hari setelahnya, aku cek lagi event tersebut. Ternyata sudah dihapus. Mungkin organiser-nya sibuk atau nggak banyak peserta. Akhirnya aku mikir, kenapa nggak aku bikin aja event yang sama lalu aku bikin deh event nya di aplikasi Couchsurfing tersebut. Cuma aku ganti menjadi Trekking and PicnicAku tunggu sampai beberapa hari sampai akhirnya ada satu peserta yang join. Seorang cewek India kewarganegaraan Malaysia. Kami pun bertukar nomor telepon dan berkomunkasi lebih lanjut mengenai trip tersebut. 

Dua hari menjelang keberangkatan ke KL, barulah beberapa orang lagi bergabung ke event. Ada yang dari India, Yunani, Filipina, Belanda dan warlok juga. Wah bakal seru nih, pikirku. Aku pun bersemangat. Sehari sebelumnya, aku chat satu-persatu untuk mengucapkan terima kasih dan memastikan mereka bergabung. Namun hanya James, Couchsurfer asal Belanda yang membalas. Mungkin yang lain akan datang saja besok tanpa perlu membalas pesanku, begitu pikirku. 

Di hari H, aku pun bangun pagi sekali. Karena aku mengatur waktu trekking dari jam 8 sampai jam 10 pagi jadi aku harus berangkat sebelum jam 7 agar sampai tepat waktu. Tetapi ketika aku sedang bersiap, tiba-tiba Praveena, cewek India yang pertama kali bergabung di event mengabari kalau tidak bisa datang karena sakit. Sejujurnya aku jadi tidak bersemangat, tapi baiklah aku tetap pergi. 

Sesampainya di MRT TTDI, tidak seorangpun yang mengabari aku. Aku berpikir untuk putar balik saja. Ketika sedang di toilet MRT, kemudian aku menerima pesan dari James yang mengabari kalau dia sudah sampai di titik kumpul. OMG. Aku harus bergegas. Kemudian aku pesan taksi online agar cepat sampai. Aku pun sampai di lokasi jam 8 lewat. Sorry James.... πŸ˜“

Aku berlari-lari menghampiri James. Aku memastikan tidak ada peserta lain yang akan datang selain kami. Setelah basa-basi perkenalan, kami pun masuk melalui gerbang lokasi trekking. Jeng..jeng..tiba-tiba ada tiga cabang jalan πŸ˜† Aku mempersilakan James jalan di depan dan memutuskan jalan mana yang akan kami ambil. Setelah ambil cabang jalan satu dan dua, ternyata kami kembali ke tempat semula, kami pun mengambil jalan cabang ketiga. Coba aja semua 😁

Awalnya kami berjalan santai sambil ngobrol karena medan trekking masih "aman" untukku. Aku dan James ngobrolin banyak hal, terutama tentang traveling. Aku pun jadi tahu kalau James suka diving. Wah... dia harus diving di Indonesia, pikirku. Sepanjang berjalan di hutan, kami bertemu beberapa rombongan lain dan kami saling mengucapkan selamat pagi. Betapa menyenangkannya orang-orang ini. 

KL Golf & Country Club view from the hill

Perasaan senang itu luntur seketika saat tahu medan trekking sudah mulai ada tanjakan dan turunan. Ya iyalah, masa mau enaknya aja πŸ˜€ James memintaku berjalan di depan agar dia bisa mengimbangi kecepatanku. Ternyata aku lambat sekali seperti siput. Jujur memang karena udah lama banget nggak trekking plus malas olahraga. Nggak lama kemudian, kami sampai di gerbang C, seperti disebutkan penjaga ini adalah jalan keluarnya. Yes, sudah selesai, pikirku senang. Aku pun duduk di bangku taman sementara James bermain dengan alat olahraga taman. 

City view from the park 

James seperti masih belum puas karena masih belum trekking yang sesungguhnya. Akhirnya, aku dan James sepakat melanjutkan trip trekking dan ternyata inilah trek yang sesungguhnya. Jalan mulai naik turun. James nggak kenal ampun.

Kirei        : Ini kamu ceritanya lagi menjajah aku ya? πŸ˜‚
James    : Iya pokoknya hari ini kamu aku jajah πŸ˜‚ kamu menyesal ya ngadain acara ini?
Kirei        : Enggak sih, cuma aku lelah, aku udah lama nggak olahraga
James    : Sama sih, untung kamu bikin event ini 

Beberapa kali aku berhenti karena benar-benar nggak sanggup untuk lanjut jalan. James melirik kakiku yang memakai sandal gunung bukannya sepatu. 

James        : Emang kamu nyaman pakai itu?
Kirei      : Ya nyaman-nyaman aja kok, kan pakai kaos kaki (padahal bohongggg, menyesal kagak pakai sepatu) πŸ˜…

Singkat cerita kami pun sampai ke puncak Bukit Kiara. Aku meminta James memotretku pakai kameranya. Berhubung dia fotografer, dia memang sengaja membawa kamera. Aku jadi menyesal kenapa tidak membawa kameraku. Hanya mengandalkan kamera hapeku yang sudah burikπŸ˜“

Setelah dari puncak, jalan mulai menurun dan agak licin. James dengan sigap membantuku dengan mengulurkan tangannya. James ternyata menggunakan Google Map untuk memutuskan jalan mana yang diambil. Jujur jalurnya banyak sekali cabangnya jadi kalau nggak pakai Google Map kemungkinan akan tersesat. 

Kirei        : James, kamu tahu nggak kenapa aku cari teman buat trekking?
James    : Kenapa?
Kirei        : Karena aku takut anjing sama ular 
James    : Oh, jadi kamu bukan cari teman tapi cari perlindungan? πŸ˜’
Kirei        : Ya dua-duanya sih, makasih ya kamu udah join, otherwise aku bakal batalin
James    : 😊

Di titik terakhir kami pun menyambangi air terjun mini yang lokasinya menurun terjal. James dengan antusias nyemplung. Aku cuma masukkin kaki aja, nggak terlalu excited karena air terjunnya mirip sama dengan di Batam πŸ˜‚

Mini Waterfall

Setelah dari air terjun, kami pun keluar gerbang hutan, kembali ke dunia nyata. James bilang kalau dia ada janji dengan orang lain dan ini sudah melewati batas waktu yang aku set di aplikasi (dua jam), dia pun harus buru-buru kembali ke gerbang utama dan pulang. Berhubung kakiku rasanya sudah mau putus dan jalanku sudah seperti siput, aku minta James duluan saja. Kami pun berpisah di tengah jalan. 

Kirei        : Aku mau duduk-duduk disini dulu santai ya, aku nggak ada agenda lain
James    : Oh, baguslah. Aku harap aku nggak terlalu menyiksamu ya hehe
Kirei        : Enggak kok, malah bagus, aku jadi ketrigger buat olahraga lagi

Selepas kami berpisah, aku duduk cukup lama di tepi jalan sebelum kemudian melanjutkan jalan pelan-pelan ke gerbang utama. 

Bareng James, Couchsurfer asal Belanda

Hari ini cukup mengesankan buatku. Pertama kalinya membuat event Couchsurfing di negara lain dan ketemu teman baru. This is what I love about solo traveling. Next time mungkin aku akan coba lagi bikin event di tempat lain biar semakin banyak teman πŸ˜ŠπŸ˜‰

Thank you Couchsurfing, you connect me to many awesome people around the globe!

Thank you for reading guys!

Nos vemos,
Kirei πŸ˜‰

Saturday, 27 January 2024

NANGIS KARENA NGGAK BOLEH JAJAN KOPI

Alay banget sih, nggak boleh jajan kopi aja nangis! πŸ˜‚

Tunggu dulu, jadi gini ceritanya.... (ceileh) 

Ini masih kelanjutan cerita liburanku di Kuala Lumpur Desember 2023 lalu. Tujuanku ke KL kali ini ya apa lagi selain leha-leha karena memanfaatkan libur panjang yang dikasih kantor. Di hari pertama aku sampai, aku benar-benar memanfaatkan untuk tidur seharian. Setelah pagi sampai, tidur sampai jam sebelas siang, bangun buat mandi, makan dan lain-lain lalu rebahan sampai tidur lagi. 

Malamnya, biasa lah setelah Bapak Kos pulang dari warung makannya, kami ngobrol. Aku sama Bapak Kos ini memang nggak pernah berhenti berdebat, tentang apapun. Kalau aku belum nangis pasti belum berhenti, terutama setiap aku cerita aku lagi dekat sama siapa. Alasannya, "listen, I am older than you and have more experiences than you." Iya lah si paling experience. "I know you always go to the wrong guy," lanjutnya. Dah lah bye.


Miyakori Coffee - JB City Square

Terus malam itu dia nanya aku ngapain aja seharian. Aku bilang aku tidur terus aku jajan kopi di minimarket bawah. Dia pun komen kenapa aku menghabiskan uang untuk beli kopi di cup kertas gitu, kenapa nggak beli sachet aja terus kan ada air panas di rumah. Mulai deh. πŸ˜’

Aku                : Kamu tuh nggak ngerti esensinya beli kopi, senang aja tau!

Bapak Kos    : Buang-buang duit 

Aku                : Kan cuma lima ringgit. Besok aku mau ke coba ke Sevel juga.

Bapak Kos    : Kamu tahu nggak di warung aku, orang-orang di sini kalau beli makan lima ringgit, nasinya minta dibanyakin, buat dua atau tiga kali makan. Kamu lima ringgit cuma buat beli kopi doang.

Tik..tik..tik.. menitik lah air mata ini. Bukan, bukan karena aku udah kalah debat seperti biasa. Punya hati yang sensitif emang susah banget. Aku nangis karena mikir, segitu egoisnya kah aku? Padahal kan cuma lima ringgit, ternyata duit segitu berarti banget buat orang lain sementara aku kayak jor-joran. Aku diam aja akhirnya dengarin ceramah dia sepanjang malam itu. No more debates.

Terus dia lanjut ke topik jadi orang yang bermanfaat. Menurut dia, hidup kalau nggak bermanfaat buat orang lain buat apa. Sebagai contoh, kita kerja ngumpulin duit, duitnya nggak dibawa mati. Oleh karena itu, kasih sebagian untuk sedekah. Contoh lain, aku suka belajar bahasa, apa manfaatnya buat orang lain? Nggak ada, kecuali aku mengajarkannya balik ke orang lain. 

Aku                : Are we having a deep talk?

Bapak Kos  : Whatever, yang penting jadilah orang yang bermanfaat buat orang lain, sesuai porsimu. 

Besok harinya, kami masak ayam penyet karena dia mau jualan ayam penyet di warung makannya. Walaupun nggak tahu resep aslinya, tapi karena pernah jualan waktu di kampus, aku pede aja ngasih resep ayam penyet dan sambalnya. Enak juga sambal buatanku. Lalu aku dikasih duit jajan sepuluh ringgit, buat beli kopi katanya. Tapi aku simpan buat ongkos jalan-jalan dan minum kopi sachet di rumah.

Aku pun berjanji dalam hati untuk selalu jadi manusia yang bermanfaat sesuai dengan nasihat Bapak Kos. Karena kalau dipikir-pikir, apa sih manfaat kita hidup di dunia ini selain menjadi manfaat bagi manusia lain? Lalu untuk lebih bijak juga untuk mengelola uang, mindful spending, karena kecil bagi kita jumlahnya tapi bagi orang lain itu jumlah yang besar. 

Thank you Bapak Kos. Aku selalu berdoa semoga warung makannya laris manis, jadi dia bisa menolong lebih banyak orang dengan kasih pekerjaan ke mereka. 


*Note: tulisan ini bukan untuk menggurui ya, tapi sharing aja dari pengalaman pribadi aku, dan memang Bapak Kos aku kalau ngasih nasihat ke aku to the point nggak pake pager. Kadang bikin aku nangis karena nggak selalu sesuai dengan point of view aku. But, he's my family, my brother, my bhai. Bukan berarti kita nggak boleh jajan juga, boleh tapi lebih bijak aja. 


Thanks for reading, guys! 

Nos vemos,

Kirei πŸ˜‰

Saturday, 13 January 2024

DARI BATAM KE KUALA LUMPUR HAMPIR 24 JAM! KOK BISA???

Emang berapa lama sih normalnya perjalanan dari Batam ke Kuala Lumpur? 

Yea, tergantung sih pakai moda perjalanan apa. Moda pesawat sekitar satu setengah jam. Kalau kapal feri disambung dengan perjalanan darat pakai bus sekitar 8 jam.

Ini kok bisa sampe hampir 24 jam??


Pemandangan dari balkon rumah kosku di Cheras, KL


Jadi kemarin waktu dikasih libur panjang dari kantor, seperti tahun lalu juga, aku 'pulang kampung' ke Kuala Lumpur (ceileh pulang kampung). Aku nyebut pulang kampung karena I found a family there, Bapak Kos aku yang cerewet. Kenal dari Couchsurfing. Dan setiap kali aku disana tuh 'I feel home.'
Tanggal 23 Desember pagi aku berangkat dari rumah. Aku tuh kebiasaan kalau ke Malaysia lewat Johor selalu beli tiket feri on the spot. Begitu juga dengan hari ini. Rencanaku mau ikut jadwal feri jam 9.30 karena sudah perhitungan dengan jadwal bus dari Terminal Larkin jam 15.30.

Aku sampai di pelabuhan feri Batam Center jam delapan kurang. Waktu itu pelabuhan rame banget. "Oh iya, kan Senin masih tanggal merah, long weekend," pikirku. Santai saja, aku langsung jalan menuju konter tiket feri ke Johor dan jeng.. jeng... tiketnya habis. Jadwal paling cepat di jam 11.45. Sempat kepikiran mau lewat Singapura aja cuma nggak jadi karena pasti rame juga nanti keluar dari imigrasi Singapore ke Johor. Skip. Akhirnya aku beli aja tuh tiket. Hangus sudah tiket bus 35 ringgit. Sampai di lantai 2 pelabuhan, ternyata antriannya puanjaanggg banget. Aku baru 'ngeh' kan tanggal 26 masih cuti bersama, pastilah semua orang bertamasya..hi..hi..hi..

Lalu ngapain aku selama hampir empat jam di pelabuhan? Akhirnya aku ngopi di salah satu kafe di pelabuhan dan cari tempat duduk yang sepi buat baca buku, foto-foto, nulis diary. 

Jam sebelas aku beranjak dari kafe langsung menuju antrian imigrasi yang akhirnya sudah sepi. Tanpa ba bi bu pasporku langsung distempel. Pergilah aku ke ruang tunggu feri ke Johor yang sangat ramai. Aku duduk di bangku tunggu. Disitu aku ketemu sama temen baru, sebut saja Ami (cowok ya). Dia kebetulan mau ke Ampang, belum beli tiket bus, dan kami memutuskan untuk bareng. Kami pun berbagi banyak cerita sampai kemudian datang bapak-bapak yang cerewet sekali sepanjang kami menunggu feri ngomongggg terus nggak berhenti. 

Ternyata selain ramai, jadwal feri pun telat. Kami baru masuk ke dalam kapal di jam satu kurang. Jam satu kapal kami baru mulai meninggalkan Batam menuju Johor. Sampai di Johor ternyata kami harus mengantri di imigrasi selama kurang lebih dua jam. Astagaaaa... mana laper banget lagi. Aku bilang ke Ami kalau keluar dari pelabuhan harus cari makan dulu yang utama. 

Keluar dari pelabuhan, kami pun jalan sampai ke pasar. Kami sebenernya cari SIM Card lokal yang harganya miring. Aku kira di 7 Eleven ada, ternyata nggak ada. Kami pun masuk ke salah satu minimarket beli beberapa camilan dan nebeng wi-fi ke Mba kasirnya untuk pesan taksi online ke Terminal Larkin.

Sampai di Larkin, harusnya kami kan beli tiket dulu ya, kami malah nyari SIM Card dulu. Oneng banget emang bawaannya kalau laper. Kebetulan konternya lagi nggak bisa register SIM Card, jadi kami ke bawah cari tiket bus dulu. Ternyata oh ternyata.... tiket bus juga habis, dan sudah dikuasai calo. 

Kami nggak putus asa, kami antri di konter resmi, maksa minta jadwal bus yang ada di malam itu juga, jam berapapun juga. Akhirnya kami dapat lah di jam 23.59 dengan harga 50 ringgit plus. It's OK lah daripada harus cari hostel atau tidur di Larkin. Menunggu lagi, empat jam. Ngapain? Kami pun jalan-jalan keluar terminal, makan nasi kerabu, kepoin ruko-ruko disana jualan apa aja, rebahan di bangku mushola (si Ami tidur pulas malah), jajan es krim, karaoke dari YouTube, banyak lah sampe akhirnya kami dibolehin masuk ke ruang tunggu bus. Menunggu lagi.

Bus kami datang di jam satu malam dan baru meninggalkan Larkin di jam satu lewat. Aku dan Ami dapat kursi terpisah. Aku di bagian depan sedangkan Ami di bagian belakang. Karena keadaan hujan malam itu, bus nggak berani ngebut. Kami pun sampai di Terminal Bersepadu Selatan (TBS) jam 6 lewat. 

Karena agak linglung, aku sampai kesulitan cari tempat beli tiket LRT. Masukkin uang kertas pun sampai marah-marah. Untung saja rumah kosku nggak jauh jaraknya dari TBS, cuma tiga stasiun saja. Sampai di security, lapor dan karena aku sudah hafal jadi Bapak Kos nggak perlu lagi jemput ke bawah. Sesampainya di rumah kos, tanpa aba-aba aku langsung tidur sampai jam sebelas siang. Kebetulan Kuala Lumpur cuacanya lagis syahdu hari itu, jadi kesempatan aku setelah mandi dan minum chai buatan Bapak Kos, aku tidur lagi. Buset. Perjalanan Batam ke Kuala Lumpur hampir 24 jam. 

Cerita lucu:
Jadi terkadang, bus dari Johor Bahru itu ada yang nggak langsung ke KL, ada yang nurunin penumpang di terminal Seremban. Sama juga kalau dari KL ke Johor Bahru, kadang bus ada yang belok dulu ke Pulai. Nah, disini mesti perhatikan awak bus ngomong apa. 
Kemarin, si Ami salah turun. Seharusnya dia turun bareng aku di TBS, aku cari-cari kok nggak kelihatan. Setelah aku cek DM Instagram ternyata dia kirim pesan ke aku waktu aku tidur nyenyak di bus kalau dia turun di Seremban karena penumpang sebelahnya bilang udah sampai. Duh, kasihan tapi lucu. Dia harus merogoh kocek buat bayar taksi online seratus ringgit. Sejujurnya aku ngakak kalau ingat tapi kasihan. Maaf ya Ami. 


Thank you for reading. 

Nos vemos,
Kirei πŸ˜‰