Thursday, 31 December 2020

CURHAT KIREI: SELAMAT TINGGAL 2020 DAN SELAMAT DATANG 2021, AKU SIAP!

2020 sucks!

Seperti itulah mungkin kesan yang akan kita ingat sampai kapanpun. Tahun 2020 bagi sebagian orang hanya ada di bulan Januari sampai Maret, bahkan hanya ada yang sampai Februari saja, selebihnya seperti dalam mimpi. Segalanya ambyar. Rencana-rencana yang telah dibuat rapi sedemikian sehingga hancur berantakan karena sebuah bencana global, pandemi virus Covid-19. Entah bagaimana caranya dengan sekejap virus itu berkeliling dunia bahkan lebih jauh daripada kita yang sudah capek-capek nabung buat traveling 😂

Well, bukan kalian saja. Aku turut merasakannya. Segala rencana traveling yang sudah disiapkan matang-matang tiba-tiba saja bubar, ambyar, sakit. Kemudian harus bergelut dengan refund-refund tiket yang sudah telanjur dibeli di tahun 2019. Legowo. Harus bagaimana lagi. Selain kesehatan itu penting, lagipula hampir semua border di negara lain pun ditutup untuk wisata. Jadi mungkin memang saatnya kita setback hidup kita. 

Tapi, kemudian di akhir 2020 ini, aku kembali melihat ke belakang mulai dari Januari hingga Desember, I think it was not bad at all, it was just different. Bahkan sepertinya aku lebih banyak belajar sesuatu di tahun ini. 

Aku akan rangkum kejadian-kejadian yang patutnya aku syukuri di tahun 2020, sebagai kenangan di masa depan, dan untuk dibaca lagi kalau tiba-tiba semangat hidupku turun. 

Januari

Awal tahun 2020 ku diawali dengan sakit. Ya sakit, demam dan diare, lalu kalau sekarang aku pikir-pikir lagi, jangan-kangan dulu itu aku sudah diserang Covid-19 karena gejalanya mirip. Apalagi ketika itu aku habis traveling dari Singapur yang waktu itu banjir turis dari Tiongkok. Tapi ternyata bukan. Ketika itu habis trip bolak-balik Singapur untuk urusan kerja dan kurang minum air putih (lebih milih boba dong 😆). Di bulan Januari pula trip terakhir aku ke luar negeri sebelum pandemi melanda Indonesia dan border ditutup. Trip aku waktu itu ke Kuala Lumpur karena dapat tiket super murah dari AA (90 ribu untuk round trip Johor-Kuala Lumpur). Disana aku ditampung host dari Couchsurfing yang super baik dan juga ketemu temen lain dari Couchsurfing. Sepulang dari Malaysia itu baru pertama kali dengar ada virus Corona (kudet parah) 😂


Pemandangan dari rumah host CS ku


Februari 

Setelah tahu ada virus Corona dan dengan peningkatan imun kita bisa cegah virusnya, aku pun mulai kebiasaan hidup sehat lagi. Join gym dekat kantor dan meskipun bolong-bolong tetap datang sepulang kerja. Aku senang karena bulan itu aku ikutan acara Couchsurfing bareng sama komunitas Bye Bye Plastic Batam yang diadain di simpang Kepri Mall dengan agenda bersih-bersih. Setelah itu aku ketemu Temo, mahasiswa internasional Meksiko yang aku kenal di event CS. Di bulan Februari juga aku terakhir bisa nonton di bioskop karena setelahnya nggak berani lagi (lagian juga ditutup sih). Waktu itu aku nonton Little Women bareng Kak Maya, Kak Ratih dan Kak Ida, lanjut wisata kuliner di BCS Mall. Lalu aku juga seneng bisa ngajak Mario, Lina dan Umer jalan-jalan dan makan bareng dalam rangka ulang tahun Mario yang ke-10. 


Kuliner bareng kakak-kakakku


Maret

Akhir Februari, tepatnya tanggal 29 aku bareng Icha, Mbak Nila, Bang Anggi dan Aria liburan ke Bintan. Kami nginep di kelong yang namanya Bintan Dori (ceritanya aku tulis lengkap di sini kok). Dari sana kami makin akrab dan sering olahraga bareng termasuk trekking. Di bulan ini aku pertama kalinya lebih sering di rumah, masak sendiri, kayak parno gitu mau keluar. Keluar paling buat belanja makanan dan ke kantor. Nongkrong-nongkrong kayak dulu udah nggak lagi. Di waktu ini juga aku banyak ngobrol jadinya sama temen-temen di luar negeri kayak Dave, Sam, Mir dan lain-lain. Mereka selalu ngasih kabar terbaru di tempat masing-masing.


Bintan bersama Dora 


April

Bulan ini anggota keluarga kami nambah satu, Sigit yang udah lamaran dari bulan Desember akhirnya menikah. Meski kasihan karena pesta nggak dibolehin waktu itu tapi Alhamdulillah semuanya lancar. Oh iya, di bulan ini harusnya aku berangkat umroh, tapi karena umroh lagi di stop sementara jadi kami batal berangkat. Aku juga udah terpaksa cancel penerbangan ke Palembang buat ngunjungin Nurpin. Lalu aku memutuskan staycation bareng Kak Ratih karena dia lagi bete nggak bisa pulang kampung di long weekend. Kami stay di Sahid Batam Center yang waktu itu sepi banget, tamunya cuma lima orang, gym dan kolamnya juga tutup. Aku mulai aktif nulis blog di bulan ini juga. Semoga konsisten ya. Aku juga sempat dua minggu break dari dunia sosial media, karena lelah. 


Mamaku mantu 


Mei

Aku baru beli buku bagus tentang Pakistan. Isinya seru dan bikin ketawa terus karena relate banget sama mantanku 😂 empat ratus halaman selesai dalam seminggu. Lumayan kan. Lalu buku selanjutnya 1Q84 punya Murakami yang ternyata butuh waktu tiga bulan buat tamatin. Pokoknya di bulan ini karena puasa jadi lebih banyak di rumah dan baca buku, terus ngabisin waktu bareng keluarga. Alhamdulillah waktu lebaran kami juga ngumpul semua, makin rame dan Umer ponakanku jadi pusat perhatian di keluarga dengan tingkahnya yang lucu dan bikin gemes. Cerewet pula. 


Keluargaku


Juni

Aku coba beli tanaman untuk dirawat, monstera, kaktus dan sukulen. Yah walaupun ternyata akhirnya aku harus terima kenyataan nggak bisa berkebun. Mereka semua sekarang udah wafat 😓 Bulan ini aku pergi staycation bareng temen di ESKA hotel Kepri Mall karena ngabisin poin dari Tiket.com yang lumayan banyak waktu itu. Lalu karena aku, Icha, Mbak Nila, Bang Anggi dan Aria udah jadi geng pertemanan sehat, kami pun mulai perjalanan buat jadi sehat yang pertama kali, yaitu jalan kaki dari Kepri Mall ke Alun-alun (pulang pergi). Di sela-selanya kami sarapan pagi di Morning Bakery. Dari sanalah terbentuk geng Dora the Explorer 😆 dengan petualangan-petualangan yang seru.


Jalan pagi Dora


Juli

Tanggal satu, ulang tahun keponakanku tercinta, Umar Kahfi Riswanda. Akhirnya dia tiga tahun juga. Makin cerewet, makin lucu, makin aktif. Alhamdulillah bisa ikut pesta kecil-kecilan bareng dan dapet potongan kue dong. Di bulan ini aku mendadak sibuk setiap hari karena aku ikut kursus TEFL online, kelasnya hanya bisa diakses selama tiga bulan. Makanya harus ngebut bikin catatan. Alhamdulillah selesai dalam waktu dua bulan dan sekarang aku udah punya sertifikat dan udah bisa ngajar secara internasional. Di pertengahan bulan, Dora ikut trip dari temen kantor Icha ke Pulau Labun. Seru banget.


Salah satu spot di Pulau Labun


Agustus

Yak, umurku nambah satu. Alhamdulillah masih hidup sehat sampai saat ini. Sempet ada kejadian yang bikin kesel sih karena udah masak capek-capek nggak ada yang datang. Habis itu aku minggat ke Batam Center ngopi sambil baca buku. Adem rasanya. Di bulan ini aku ketemuan sama temen yang udah lama banget nggak ketemu, pertama ketemu tuh waktu interview di salah satu perusahaan di Kabil, connect di online, akhirnya ketemu lagi. Oh, iya pas ketemu temenku juga nggak sengaja ketemu mantan manajerku, Shaun, yang ternyata udah punya istri dan mau punya anak. Seneng lihatnya. Terus Agustus juga diawarnai dengan camping di Pulau Putri Nongsa bareng anak-anak Couchsurfing. Walaupun nggak banyak yang bisa ikut tapi seru dan rame. 


Menyaksikan matahari terbenam 


September

Masih sibuk sama kelas TEFL sih. Tapi aku selalu punya waktu buat main dan baca buku, termasuk ngasuh adik juga 😂 Aku dan geng Dora pertama kali trekking nih. Kami trekking ke Bukit Mangsang, Piayu, yang ada air terjunnya. Sebenernya kami pengennya ke Telaga Bidadari tapi masih ragu takut masih ditutup. Dengan petunjuk temen gowes, kami pun sampai di air terjunnya. Berhubung hujan, jadi airnya keruh, tapi lumayan lah. Lelah juga. Pulang-pulang penuh lumpur. Lalu aku sama Kak Ratih sempet juga piknik kecil-kecilan berdua sambil baca buku di Orchard Park. Sepi banget sih waktu itu tapi jadi tenang buat baca. 


Bersama Geng Dora


Oktober 

Yang paling berkesan di bulan ini adalah trekking. Kali ini kami berhasil berkunjung ke Telaga Bidadari di hutan Muka Kuning. Yang membuat kami merasa beruntung adalah air yang mengalir deras dan jernih serta sejuk. Lelah perjalanan selama dua jam berangkat dan dua jam pergi terbayarkan. Kondisi air terjunnya yang nggak selalu seperti itu yang membuat kami senang. Di bulan ini aku juga sempat piknik kecil-kecilan bareng sahabat SMA ku, keponakan dan adik-adik ke pantai dekat rumah. Terus di akhir bulan, aku dan Bang Anggi sempat ke pameran buku Gramedia dan cobain kopi baru di tempatnya Alex, kopi sakura. 


Air terjun Telaga Bidadari


November 

Awal November aku dan Kak Ratih lagi-lagi staycation. Kali ini di Aston Hotel. Lumayan juga tamunya dan sarapannya enak. Lalu yang paling berkesan adalah, aku pertama kalinya ngajakin adikku Lina untuk snorkeling. Aku pikir dia bakalan takut, ternyata dia seneng banget dan nggak mau udahan. Kami naik motor dari rumah dan sempat hujan, tapi ternyata di tengah Pulau Abang nggak hujan sama sekali, malah sempat panas. Lalu di bulan ini aku sempat baca buku yang bagus banget menurutku, karya Fumio Sasaki dan sepertinya berhasil membuat aku mengubah pandangan hidupku untuk hidup minimalis. Selain buku itu, ada lagi yaitu Titik Nol punya Mas Agustinus Wibowo yang sedikit memberikan aku pencerahan tentang kenapa aku traveling. Aku juga mulai rajin review buku di blog loh. 


She did her best


Desember 

Sudah akhir tahun, nggak ada tanda-tanda virus Corona bakalan minggat dari bumi. Mungkin memang kita ditakdirkan beradaptasi dengan segala sesuatu yang baru. Di akhir tahun ini, banyak kabar bahagia yang aku dapat. Sahabat dekatku menikah akhirnya setelah perjalanan panjang untuk menemukan belahan jiwanya. Lalu sahabatku yang lain, dilamar pacarnya setelah sekian lama dia galau mau dibawa kemana hubungan mereka. Intinya aku bahagia banget atas kebahagiaan mereka sampai nggak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Di bulan ini juga CS sempat ngadain gathering akhir tahun dan tukar kado serta chit chat yang rame (bukan CS Batam kalau nggak rame). Oya, di bulan ini juga aku memutuskan untuk ikut lomba terjemahan novel sastra klasik yang ternyata tidak semudah yang aku bayangkan. Ini bisa jadi pelajaran buat aku biar kedepannya nggak mencibir para penerjemah kalau terjemahannya kacau. Memang sesusah itu bagi orang yang bukan lulusan sastra tapi menggandrungi Bahasa.


Couchsurfing Batam

Well, itu kilas balik 2020 yang paling berkesan buat aku. Kalau dipikir-pikir lagi, ternyata 2020 nggak seburuk yang kita nilai kan ya. Memang, hidup kita kayak dibalik 180 derajat dari kehidupan biasanya. Tapi kita hebat loh sudah bisa bertahan dan beradaptasi. Ayo sejenak puji diri sendiri dulu. *Puk puk*

Lalu hal-hal yang aku pelajari juga banyak, diantaranya:

1. Hidup itu singkat, jadilah orang yang berguna untuk sesama

2. Kemanapun kita pergi, sejauh apapun, tetap keluarga adalah rumah paling nyaman

3. Hidup sehat bukan untuk gaya-gayaan, tapi memang harus kita lakukan biar nggak menyesal di kemudian hari

4. Side hustle itu penting, mengatur keuangan juga penting, aku mulai belajar nabung

5. Ngabisin waktu bareng temen juga berguna buat kesehatan mental kita

Kalian sudah siap untuk 2021???

Aku siapppp!!!!


Nos vemos,

Kirei Khan


Monday, 14 December 2020

REVIEW BUKU KIREI: THE ACCIDENTAL FURTHER ADVENTURES OF THE 100-YEAR-OLD MAN

Halo sobat buku, 

Kali ini aku mau review satu buku lagi dari Jonas Jonasson. Buku ini lanjutan dari buku sebelumnya, The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared.




Judul buku            : The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared
Penulis                   : Jonas Jonasson                           
Penerbit                 : Bentang Pustaka                    
Tahun terbit           : 2018
Bahasa                   : Bahasa Indonesia  
Penerjemah           : Yunita Candra 
Jumlah halaman   : 500 halaman
ISBN                        : 978-602-291-510-2
Tempat beli            : Toko Buku Gramedia, BCS Mall, Batam

"Ya, keadaan sekarang memang kelihatannya buruk, Teman. Kehidupanku sebelum ini juga suram, tetapi aku tetap berdiri di sini. Lihat saja nanti, angin akan berubah. Atau, sesuatu yang lain." (Allan Karlsson)

"Akan tetapi, mereka juga selalu tepat waktu, seakan-akan arloji Swiss ditanam dalam kepala mereka. Dan mereka sukses dalam setiap pekerjaan. Singkatnya, pakar senjata nuklir Swiss tidak mungkin dusta. Begitu, bukan? (Pemimpin Tertinggi Korea Utara)

"Lagi pula, negara yang terpecah belah adalah negara yang lemah." (Presiden Putin)

"Jika kau ingin naik pangkat, kau harus memilih tempat dan waktu yang tepat untuk beraksi." (Agen Berlin)

Masih dari penulis yang sama, Jonas Jonasson, buku ini adalah lanjutan cerita dari petualangan Allan Karlsson di buku pertama, The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared. 

Dilanda kejenuhan yang memuncak menjelang ulang tahun ke-101, Allan memutuskan bertamasya dengan balon udara. Doanya terkabul. Dia berakhir di Korea Utara sebagai ahli nuklir gadungan dan harus segera menyelamatkan diri sebelum kebohongannya terendus.

Petualangan konyol ini pun dimulai, melibatkan para pemimpin dunia, dari Presiden Trump, Kanselir Merkel, sampai perusahaan peti jenazah "Mati Bermartabat AB" dan seorang pemuda neo-Nazi penuh dengki yang terobsesi dengan insiden memalukan dalam pemakaman kakaknya. Lantas, bagaimana akhir keruwetan ini?

Di dalam buku ini Allan Karlsson digambarkan kecanduan gadget, sebuah tablet hitam yang dia bawa kemana-mana, nggak boleh sampai lepas dari tangannya. Dari dalam tablet hitam itu pula dia tahu keadaan politik dunia saat ini. Ini yang membuat Julius selalu kesal dan uring-uringan. Allan, dengan sikapnya yang selalu santai terbukti bisa menyelesaikan berbagai masalah pelik, termasuk saat dikejar pria neo-Nazi yang ingin balas dendam karena dipermalukan saat pemakaman kakaknya. 

Sama seperti buku pertamanya, aku suka isi buku ini karena bukan hanya lucu dan menghibur tetapi ceritanya juga cerdas. Bukan lucu yang bikin ngakak tapi nggak berisi sama sekali, justru cerita di buku ini mengandung banyak banget pelajaran yang bisa diambil. Kekurangan dari buku ini hampir nggak ada, mungkin hanya kurang panjang aja ceritanya, aku masih berharap ada kelanjutannya. 

Masih sama dengan buku pertama, aku masih mengidolakan sosok Allan Karlsson, si tokoh utama yang selalu bikin Julius uring-uringan dengan pemikirannya yang sering out of the box tapi sukses bikin masalah terpecahkan. 

Ditulis pakai alur maju, cerita di buku ini berlatar di banyak tempat mulai dari Bali (Indonesia), Korea Utara, Amerika Serikat, Swedia bahkan hingga di hutan Afrika. Ini menggambarkan kalau sosok Allan memang senang petualangan. Gaya penulisannya pun masih sama dengan buku yang pertama. Walaupun ini buku terjemahan tapi aku bisa ngerasain pesan dari penulis aslinya. 

So, buat sobat buku yang belum baca buku ini, coba baca deh. Buat yang suka drama komedi cerdas, ini cocok banget. Tebal 500 halaman itu bisa aku habisin selama seminggu (lama banget karena diselingi kegiatan lain sih), yang harusnya bisa beberapa hari aja saking ngalirnya ceritanya. 

Selamat membaca 😉

Kirei Khan 


Wednesday, 9 December 2020

REVIEW BUKU KIREI: THE 100-YEAR-OLD-MAN WHO CLIMBED OUT OF THE WINDOW AND DISAPPEARED

Halooooo....


Aku mau review buku lagi nih. Kali ini salah satu buku best seller, yang juga salah satu yang direkomndasiin sama klub buku Narasi (cek deh di Instagram, terus follow). Alasanku beli buku ini karena rekomendasi dari penerbitnya terus setelah baca sinopsis yang ada di cover belakangnya kayaknya seru. 



Judul buku            : The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared
Penulis                   : Jonas Jonasson                           
Penerbit                 : Bentang Pustaka                    
Tahun terbit           : 2013
Bahasa                   : Bahasa Indonesia  
Penerjemah           : Marcalais Fransisca 
Jumlah halaman   : 498 halaman
ISBN                        : 978-602-291-500-3
Tempat beli            : Toko Buku Gramedia, BCS Mall, Batam

Jonas Jonasson, pria kelahiran Swedia tahun 1960, sebelumnya bekerja sebagai wartawan dan juga pernah punya perusahaan di bidang konsultasi media. Buku ini terlahir karena Jonas membayangkan dirinya menjadi pria seratus tahun yang persis seperti Allan. 

Allan Karlsson hanya punya waktu satu jam sebelum pesta ulang tahunnya yang keseratus dimulai. Wali Kota akan hadir. Pers akan meliput. Seluruh penghuni Rumah Lansia juga ikut merayakannya. Namun ternyata, justru yang berulangtahunlah yang tidak berniat datang ke pesta itu. 

Melompat lewat jendela kamarnya, Allan memutuskan untuk kabur. Dimulailah sebuah perjalanan luas biasa yang penuh kegilaan. Siapa sangka, petualangannya itu menjadi pintu yang akan mengungkap kehidupan Allan sebelumnya. Sebuah kehidupan yang tanpa terduga Allan memainkan peran kunci di balik berbagai peristiwa penting paa abad kedua puluh. Membantu menciptakan bom atom, berteman dengan Presiden Amerika dan Tiran Rusia, bahkan membuat pemimpin komunis Tiongkok berutang budi padanya! Siapa sebenarnya Allan Karlsson. 

Kalau kalian lagi nyari buku non fiksi yang bisa balikin mood kalian, aku juga mau rekomendasiin ini salah satunya. Ceritanya kocak tapi berisi bukan sekadar cerita garing ya. Berawal dari kabur menjelang pesta ulang tahunnya yang keseratus, Allan Karlsson bisa-bisanya sampai tiba di Bali dengan kehidupan yang serba mewah. 

Aku paling suka tentu saja tokoh utamanya, si kakek tua yang tingkah polos dan konyol tapi cerdasnya menggelitik dan membuat aku sampe "hah kok bisa kayak gitu?"

Selain lucu, ternyata ada terselip pelajaran hidup yang aku ambil dari Allan, yaitu santai saja dalam menghadapi hidup, tidak perlu khawatir yang berlebihan mengenai peristiwa yang belum tentu akan terjadi. Hal itu yang selalu membuat Julius, kawan seperjalanan Allan kerap gondok sih. Tapi ada benarnya kan? Dengan begitu dia bisa hidup hinggal seratus tahun. Selain itu, Allan juga pria yang masih aktif meng-update informasi mengenai dunia politik yang selalu mengingatkannya pada masa Perang Dunia. 

Kutipan bagus yang aku ambil dari buku ini:

"Orang boleh saja bertingkah semau mereka, tetapi menurut Allan, secara umum tidak perlu bersikap uring-uringan kalau ada kesempatan untuk tidak begitu." 


Buku berlatar Swedia tahun 2005 ini ditulis dengan gaya yang begitu santai, khas Allan sampai aku pikir ini kayaknya Allan sendiri deh yang nulis ceritanya. Alur di buku ini pakai alur maju mundur di mana sebagian buku ini ada semacam flash back Allan ke masa Perang Dunia dimana dia bisa menjadi orang penting yang bertemu para pemimpin dunia. 

Secara keseluruhan aku suka isi bukunya. Cuma mungkin kurang menikmati di bagian politiknya. Dan kelemahanku, baca buku dengan banyak tokoh, itu sulit. Sama halnya degan menonton film dengan banyak tokoh, butuh konsentrasi. Lemah 🙈

So, buat kalian yang pengin cerita gokil dan fresh, read this book! Kalau ada waktu luang bagusan langsung habis soalnya kalau bacanya ditunda-tunda kurang dapet feel-nya. 😁


Selamat membaca,

Kirei Khan



Monday, 7 December 2020

MENJEMPUT JAKET GUCCI DI CHANGI AIRPORT, SINGAPURA

April 2019

Selalu ada kisah di setiap perjalanan. Mungkin gitu kali ya kira-kira intinya. 
Well kali ini aku mau cerita tentang perjalanan ke Singapur. Apaan sih lagi-lagi Singapur?


Di Jewel Changi Airport 

Ya emang, kayaknya Singapur itu saksi bisu beberapa kekonyolan tripku, makanya aku selalu kangen Singapur. Elahhhh 😂

Gloomy trip. Begitulah kira-kira trip hari itu ke Singapur. Diawali pagi-pagi kehujanan basah dari atas sampe bawah, kedinginan, lengkap. Oh, no kan harusnya aku berangkat ke Singapur pagi ini untuk jemput barang masa basah begini, pikirku. 

Akhirnya dengan modal limapuluh ribu aku beli kaos di minimarket yang ala kadarnya (nitip temen yang keluar kantor) lalu bawahannya? Alhamdulillah ada stok coverall baru di store yang belum ada pemiliknya. Berangkattt!!

Kemudian terjadi percakapan antara petugas imigrasi Batam dengan aku yang tak biasa (biasa mereka jutek-jutek kan ya?). Beginilah kira-kira:

👨    : Pake seragam kerja apa tuh?
👧    : Kenapa Pak?
👨    : Mau ke mana kok pake wearpack?
👧    : Mau ke Jurong Pak
👨    : Ngerjain apa? Bawa kapal ya?
👧    : Enggak Pak, ambil barang 
👨    : Terkejut saya
👧    : Iya Pak, tadi bajunya basah jadi ganti ini. Ganteng nggak Pak?
👨    : Ada-ada aja

Gokil kan? Jarang-jarang loh. In short, urusan imigrasi kedua negara clear dan aku langsung cabut ke Penjuru Road, Jurong. 

Sampai di kantor Penjuru Road, aku selesaikan tugasku jemput barang yang pertama. Aku duduk-duduk sebentar dan ngobrol santai dengan resepsionis yang super ramah, Jeet namanya, seorang wanita India. Tak lama aku minta bantuan Jeet untuk pesan taksi dan cabut ke Jurong West Avenue untuk jemput barang kedua. Gempor yah? Ya enggak lah kan tinggal duduk di taksi. Tapi kantor vendorku yang kedua ini di lantai tiga dan nggak ada lift coyyyyy 😆😓

Bersama Jeet

Selesai transaksi, aku turun dengan lemas. Laper. Beruntung di depan ruko itu ada pasar yang jualan aneka jajanan. Aku pun langsung gercep jajan, makan dan minum di halte sebelum pesan taksi untuk pulang. Oh, aku punya satu tujuan lagi tapi nggak jauh dari pelabuhan, Henderson Industrial Park. 

Di sini, salesnya udah akrab banget kayak temen, namanya William, pria Chinese yang suka bercanda. Dia langsung girang banget denger aku datang. Aku disuruh langsung naik. Anggap aja rumah sendiri, ress 😂😂

"Hey Qori-san, how are you?" Will kegirangan begitu mukaku nongol di kantor mereka. Iya dia emang kebiasaan pake san karena tahu aku pernah belajar Bahasa Jepang dan mereka juga perusahaan Jepang.

"I am okay, but cold," jawabku sambil duduk tanpa dipersilakan (nggak sopan emang). Seperti judulnya, gloomy trip, emang hujan deras sejak pagi.

Will nawarin aku teh hijau dan aku mengiyakan. Pas banget kan sama suasana. Setelah transaksi, chit chat dan beberapa pergosipan kami, akhirnya aku pamit dan Will ngantar aku sampai ke bawah sampai aku dapat taksi. Tugas selesai, saatnya kembali ke pelabuhan. Perutku sudah keroncongan juga ternyata. 

Sampai di Pelabuhan, aku teringat pesanan GM kami yang dari Jakarta. Setelah keliling cari ternyata nggak ada. Tiba-tiba ada telepon dari bos di Batam.

👨    : Qori udah pulang belum?
👧    : Belum Pak, baru nyariin titipannya Pak X tapi nggak ada, gimana ya?
👨    : Ya udah nggak apa-apa, eh tapi ada satu lagi nih tugas, kalau mau
👧    : Apa tuh?
👨    : Jemput jaket Pak A di airport, kalau mau nanti saya kasih emailnya

Tanpa pikir panjang aku pun setuju, lumayan sekalian lihat air terjun Jewel yang baru buka. Berhubung kelaperan, aku cari tempat makan di pelabuhan yang bisa kuterima selain Bagus. Sembari makan, aku coba hubungi layanan pelanggan airport sesuai arahan bos. Aku sempat berpikir Pak A beli jaket di salah satu outlet bandara, terus tinggal ambil barangnya gitu. Ternyata jaketnya ketinggalan. Pas aku lihat detail pengaduannya, jaket Gucci coyyyy 😂😅

Mereka info kalau kantor mereka bakal tutup jam sembilan. Aku pun buru-buru ngabisin makanku. Di sini terjadi miskomunikasi yang pertama. 

👨    : Kami kan nggak sembarangan kasih barangnya ke orang, jadi kami minta surat kuasa ya
👧    : Tapi kan orangnya di Jakarta, boleh nggak orangnya email aja ke kalian? 
👨        : Ya udah nggak apa-apa di email, kamu boleh ke sini dua jam lagi ya

Aku putuskan untuk datengin bibiku dulu di Pasir Panjang sebelum berangkat ke airport dan berakhir berantem karena aku nggak nemu alamatnya. Akhirnya kuabaikan dia dan aku berangkat ke airport. 

Sampai di Terminal 2, aku langsung ikutin tanda panah untuk ke Jewel. Entah kenapa aku tiba-tiba berinisiatif telepon dulu ke customer service nya untuk tanya lokasi mereka. Nah, disini baru ketahuan ada miskomunikasi yang kedua. 

👨    : Loh, kok kamu belum kirim suratnya? Mana? Dari tadi kami tunggu-tunggu
👧        : Hah? Bukannya bosku udah email ya?
👨    : Iya tapi dia cuma email gitu aja, kami butuh surat yang ada tanda tangan dia (mampus!!!) 

Singkat cerita setelah telepon bos di Batam, aku bikin surat kuasa ala-ala dengan tanda tangan yang juga ala-ala. Aku fotoin ke bos Batam via WhatsApp terus bos Batam kirim ke aku via email. Jeng, jadi. Untung juga kok ada kertas kosong di sela-sela dokumen yang aku bawa hari ini ya. Kalau pena sih udah biasa, wajib di tas. 

Jalan kaki ke Jewel juga bikin megap-megap karena panik juga sih. Sampai di pintu Jewel, aku temui customer service nya, dia mengarahkan ke lost and found. Sumpah ya tempatnya bikin keder, apalagi dalam keadaan panik dan buru-buru (keburu tutup ya sia-sia dong perjalanan sayaaaa). 

Kena lo. Sampai juga akhirnya di bagian lost and found. Lupa juga tepatnya di bagian mana. Dengan muka memelas, aku tunjukkin surat kuasa yang dikirim bos Batam. Mereka terima. Yes!!!! Tapi tunggu, mereka minta ID nya Pak A. Aduhhhh cobaan apa lagi????

Aku coba telepon bos Batam. Aku tanya KTP, hampir dikirim. Tapi aku baru ingat, KTP kan ada tanda tangannya, nanti mereka curiga donggg dengan surat kuasanya. Setelah itu tercetuslah paspor saja. Aku pun tunjukkin paspor Pak A dan pasporku ke mereka dan voilaaaaa, "tunggu sebentar ya kami proses, maaf lama dan ribet ya prosesnya karena kami nggak berani kasih gitu aja barangnya kalau bukan bener-bener pemiliknya." Aku pun meng-oke-kan sambil nyomot permen di meja mereka lalu buru-buru nyari charger. 

Nggak berapa lama, namaku dipanggil dan jaket berharga itu diserahkan dalam sebuah kantong plastik transparan. Terima kasih, begitulah kira-kira kami saling berucap. Aku pun langsung cabut ke air terjun yang lagi banyak diomongin. Ternyata bagus juga waktu malam. Tak lupa aku mampir ke toilet. Berhubung pakai coverall, nggak nyaman banget kalau bolak-balik ke toilet, jadi aku kurangin asupan airku hari ini. 

Muka kucel setelah petualangan

Aku sudah siap kalau harus nginap malam ini, karena selesai dari Jewel saja sudah jam setengah sepuluh. Akhirnya aku nginap semalam di sana dan besok paginya aku langsung pulang dengan kasi pegal-pegal minta dipijit. 😂😂


Nos vemos,

Kirei Khan


*Note: pemalsuan surat kuasa jangan ditiru ya gaes, takut juga sih awalnya tapi gimana daripada sia-sia jalan ke Jewel tapi zonk 😋







REVIEW BUKU KIREI: NORWEGIAN WOOD OLEH HARUKI MURAKAMI

Halooo...

Kali ini aku mau review salah satu novel kesukaan aku, Norwegian Wood. Novel ini nggak sengaja aku temuin pas ke toko buku. Kenapa aku tertarik untuk beli? Waktu itu aku lagi suka-sukanya segala sesuatu yang berbau Jepang. Sebelumnya aku juga membaca novel bernuansa Jepang karya Rei Kimura, Mawar Jepang yang juga bagus banget. Well, simak yuk ulasannya!



Judul buku            : Norwegian Wood
Penulis                   : Haruki Murakami                           
Penerbit                 : Kepustakaan Populer Gramedia                  
Tahun terbit           : 2013
Bahasa                   : Bahasa Indonesia  
Penerjemah          : Jonjon Johana 
Jumlah halaman   : 426 halaman
ISBN                        : 978-979-91-0563-9
Tempat beli            : Toko Buku Gramedia, BCS Mall, Batam

"Kalau kita membaca buku yang sama dengan yang dibaca orang lain, kita cuma bisa berpikir seperti orang lain." (Nagasawa)

"Di dalam kaleng biskuit itu ada bermacam-macam biskuit, ada yang kamu sukai ada pula yang tak kamu suka. Dan kalau terus memakan yang kamu suka, yang tersisa hanya yang tidak kamu suka. Setiap mengalami sesuatu yang menyedihkan aku selalu berpikir seperti itu. Kalau yang ini sudah kulewati, nanti akan datang yang menyenangkan, begitu. Karena hidup ini seperti kaleng biskuit." (Midori)

Norwegian Wood, salah satu lagu dari The Beatles, akan selalu mengingatkan Toru Watanabe kepada gadis cinta pertamanya, Naoko, yang juga mantan kekasih mendiang sahabatnya, Kizuki. Hal ini juga mengingatkan Watanabe masa lalunya ketika masih menjadi seorang mahasiswa di Tokyo. 

Kehidupan Watanabe sebagai mahasiswa hampir dua puluh tahun silam penuh dengan dunia pertemanan yang serba pelik, seks bebas, nafsu-nafsi dan rasa hampa yang tiba-tiba menghinggapinya.  

Kemunculan seorang gadis badung bernama Midori kemudian membuat Watanabe galau karena dia juga gadis yang menarik namun berbeda dengan Naoko. Watanabe seperti menemukan sesuatu yang dia cari di dalam diri Midori. 

Seperti kubilang di awal, novel ini kubeli waktu lagi seneng-senengnya sesuatu yang berbau Jepang. Setelah Mawar Jepang yang heroik itu, aku mencoba baca buku yang satu ini. Waktu aku ambil dari rak buku secara random, aku nggak menyangka kalau buku ini karya penulis terkenal. Aku cuma baca pengarangnya aja, oh Jepang, lalu kuambil, dan sekarang menjadi salah satu buku kesukaanku. 

Semua orang punya sisi gelap yang nggak pernah kita sangka. Itu menurutku yang menggambarkan novel ini. Di kehidupannya dari mulai SMA hingga masa kuliah, Watanabe mengalami berbagai peristiwa yang berhubungan dengan orang-orang di sekitarnya, yang ternyata satu persatu menampakkan sisi lainnya. 

Secara keseluruhan ceritanya bagus menurutku. Tapi mungkin ciri khas dari Murakami adalah akhir yang menggantung jadi jangan berharap cerita ini akan berakhir sesuai keinginan kalian. Read it

Gaya penulisan Murakami aku kagumi sejak membaca buku ini. Yap! Blak-blakan, semau dia tapi sangan detail dalam menggambarkan karakter setiap tokoh dan peristiwa. Aku bahkan bisa bayangin tokoh tersebut satu persatu dan apa yang mereka lakukan waktu baca novelnya. Berasa nonton filmnya (padahal belum pernah nonton filmnya, waktu itu belum tahu kalau di film-kan).

Novel ini menggunakan alur mundur dimana Watanabe dewasa yang baru saja mendarat di Jerman, tiba-tiba ingatannya terlempar kembali ke masa mudanya. 

Walaupun novel ini bagus, tapi aku saranin untuk pembaca dewasa aja. Soalnya ada beberapa adegan dewasa yang tertulis dalam novel ini. 

Selamat membaca 😉

Kirei Khan 










Thursday, 3 December 2020

PERTAMA KALI NAIK BUS TINGKAT DI SINGAPURA

Maret, 2018

Pasporku baru diperpanjang karena mau expired di bulan Juli. Berhubung aku mau traveling dalam waktu dekat, jadi aku buru-buru perpanjang (minimal masa berlaku enam bulan ya kalau mau ke luar negeri). 

Singkat cerita, kantor ngasih tugas buat jemput barang ke salah satu kantor supplier kami di Jurong, Singapura. Karena barangnya lumayan berat, jadi kami harus berangkat berdua. Terpilihlah aku dan Pak Eko, teman satu kantorku yang gokil abis. 

Sesuai rencana, aku dan Pak Eko berangkat dari pelabuhan yang berbeda. Aku lewat Batam Center, sedangkan Pak Eko lewat Harbourbay, yang lebih dekat dengan rumahnya. Berhubung pagi itu aku sakit perut karena malam sebelumnya aku makan bakso yang super pedes, aku terpaksa naik ferry yang kedua (harusnya yang paling pagi). 

Stempel pertama di paspor baru kudapat dengan mudah tanpa ba bi bu. Ternyata Pak Eko sudah nunggu di foodcourt BAGUS Harbourfront. Aku minta maaf karena sedikit terlambat. Sebelum berangkat ke Jurong, kami sarapan dulu di sana, apalagi waktu masih terlalu pagi. 

"Mbak Qori hari ini buru-buru nggak?" Pak Eko tiba-tiba bertanya.

"Hmmm...enggak sih, kenapa memangnya Pak?" tanyaku balik.

"Udah pernah naik bus tingkat?" tanya Pak Eko membuatku penasaran.

"Belum sih, nggak berani naik bus sendirian di sini, bingung," jawabku polos sambil ketawa.

"Gimana kalau kita naik bus aja ke Jurong nya? Kita naik MRT dulu sampai mana gitu terus kita lanjut pakai bus. Lumayan kan ongkosnya bisa buat beli cokelat, sekalian belajar naik bus. Nanti naiknya di lantai dua pas paling depan biar kayak main play station," Pak Eko jelasin ke aku dan akhirnya aku pun setuju.


Bus di Singapura (Source: Google)


Jujur sejak pertama kali ngetrip ke Singapura, aku nggak pernah belajar naik bus. Pertama kali aku naik bus di Singapura itu pas ketemu Mas Stewart. Dia yang tahu tujuannya dan aku cuma ngikut aja. Kedua kalinya juga sama, pas ketemu Andy. Jadi, I had no idea about taking bus in Singapore

Alasan kenapa menurut aku dulu naik bus di Singapura itu ribet adalah yang pertama nggak seperti MRT yang di setiap stasiun pasti berhenti, bus hanya akan berhenti kalau ada yang pencet tombol untuk berhenti di halte berikutnya. Kedua, nama halte bus yang terpampang nyata di plang haltenya nggak kebaca dari dalam bus, jadi aku ngerasa bingung harus turun di mana. 

Okay, selesai sarapan kami pun bergegas ke stasiun MRT. Ongkos dari kantor kami bagi dua. Aku isi kartu EZ link ku yang saldonya tinggal sedikit. Pak Eko masih punya saldo di kartunya. Well, we are ready for the adventure!

Mengikuti rencana Pak Eko, kami seharusnya turun di stasiun terakhir, Tuas Link. Kami pun senyum-senyum saking bisa hemat buat trip ini. Stasiun demi stasiun kami lalui. Hari itu kereta sepi sekali karena masih di jam kerja. Sampai di suatu stasiun (aku lupa namanya, kalau tidak salah Joo Koon) kami terpaksa turun karena kereta tidak akan sampai ke Tuas Link, sedang ada perbaikan. 


Horror, sepi banget 😆


Kami pun turun dan keluar dari stasiun untuk mencari bus. Aku yang sama sekali nggak tahu arah, cuma bisa ngikut Pak Eko. Ya walaupun Pak Eko juga pakai Google Map tetep aja dia lebih tahu caranya 😁

Setelah keluar dari stasiun, kami mencari halte terdekat menurut peta. Ternyata nggak jauh hanya jalan kaki sebentar. Tapi ternyata bus yang kami maksud lama banget datangnya. Sebelumnya ada bus dengan nomer yang sama tapi penuh dan akhirnya kami tunggu ada sekitar setengah jam lebih. 

"Itu jembatan apa Pak?" tanyaku ke Pak Eko.

"Itu lah Mbak Qor, kalau mau ke Johor dari Singapur lewat jembatan itu."

"Oh, deket juga berarti ya Pak?"

"Iya emang."

Akhirnya bus yang kami tunggu sampai juga. Tanpa basa basi aku langsung naik ke tingkat dua yang disusul Pak Eko. Sayang waktu itu tempat duduk paling depan sudah diduduki orang lain. Baiklah tak apa. Perjalanan lumayan panjang menuju ke tempat supplier kami di The Index, Tuas South Avenue. 

Halte demi halte kami lalui. Pemandangan Singapura yang tak pernah membuat aku bosan meskipun dikelilingi gedung-gedung. Untuk daerah Tuas sendiri merupakan daerah industri jadi jalanan sepi dari turis. 

Singkat cerita kami sampai di kantor supplier kami yang ternyata hanya berupa sebuah kontainer ukuran empat puluh kaki, tapi ketika masuk aku tercengang. Isinya kantornya lumayan lengkap. Di ujung dekat jendela, duduk seorang wanita, namanya Melisa. Dia menyambut kami. Kami duduk karena kelelahan. 

Sembari menunggu Melisa siapkan dokumen untuk hand carry, kami bergosip membayangkan punya kantor begitu. Saking lamanya Melisa menyiapkan dokumen, waktu makan siang pun datang. 

"Mbak Qor, makan siang nih," seru Pak Eko. 

"Yah, mau makan di mana Pak? Sekitar sini udah jelas nggak ada, nanti aja deh di pelabuhan," jawabku lesu.

"Ibuku bawain aku nasi goreng, ayok kita bagi dua," Pak Eko nawarin yang sudah pasti nggak akan aku tolak.

"Nanti bapak kenyang nggak?" 

"Aman itu," jawab Pak Eko setuju dan kami pun ijin ke Melisa untuk pakai pantry dan peralatan makannya. 

Singkat cerita kami selesai makan dan transaksi dengan Melisa, kami balik lagi buat cari bus. Tujuannya sudah pasti, ke Joo Koon. Kami jalan kaki ke bagian depan The Index (kantornya Melisa ada di paling belakang) dan mulai balik ke Google Map lagi. Kali ini aku dapat bus di tingkat dua dan kursi paling depan. Asyikkk!

"Main playstation, Mbak!" seru Pak Eko.

"Iya ya, serasa luas banget layarnya, ha..ha..!" 


Main Playstastion 😆


Setelah sampai tujuan, Pak Eko turun duluan dan aku nyusul di belakang. Ternyata gerakan Pak Eko cepat banget, belum lagi aku sampai di tingkat satu, dia udah di luar. Tiba-tiba "gedebuk" aku jatuh bersama kardus-kardus yang aku bawa. Mukaku langsung merah padam, bangun lagi dan mungut lagi kardus yang sempat terpelanting. 

"Mbak Qor, kenapa?" tanya Pak Eko.

"Nggak apa-apa!" 

"Kardusnya aman kan?" 

"Sialan..ha..ha..ha.. malu aku tapi untungnya nggak ada yang bereaksi apa gitu," hiburku.

Yup gaes, secuek itu memang orang di Singapur. Pas aku gedebuk jatuh nggak ada satu pun yang bereaksi apa gitu, cuma melongo aja. Semenjak itu aku takut mau naik bus ke tingkat dua. No more haha.

Stasiun Joo Koon masih sesepi pas pagi. Penumpang kereta cuma aku dan Pak Eko terus ada satu orang lagi. 

Sampai di Harbourfront kami pun pisah karena Pak Eko masih nyari sesuatu. Aku pun pulang dengan tulang kering yang "awww" sedikit memar. 

Sampai sekarang, aku masih mikir-mikir kalau disuruh naik bus karena bingung dan ribet. Kalau deket mending jalan kaki aja sih. Haha!


Nos vemos,

Kirei Khan