Saturday, 27 January 2024

NANGIS KARENA NGGAK BOLEH JAJAN KOPI

Alay banget sih, nggak boleh jajan kopi aja nangis! 😂

Tunggu dulu, jadi gini ceritanya.... (ceileh) 

Ini masih kelanjutan cerita liburanku di Kuala Lumpur Desember 2023 lalu. Tujuanku ke KL kali ini ya apa lagi selain leha-leha karena memanfaatkan libur panjang yang dikasih kantor. Di hari pertama aku sampai, aku benar-benar memanfaatkan untuk tidur seharian. Setelah pagi sampai, tidur sampai jam sebelas siang, bangun buat mandi, makan dan lain-lain lalu rebahan sampai tidur lagi. 

Malamnya, biasa lah setelah Bapak Kos pulang dari warung makannya, kami ngobrol. Aku sama Bapak Kos ini memang nggak pernah berhenti berdebat, tentang apapun. Kalau aku belum nangis pasti belum berhenti, terutama setiap aku cerita aku lagi dekat sama siapa. Alasannya, "listen, I am older than you and have more experiences than you." Iya lah si paling experience. "I know you always go to the wrong guy," lanjutnya. Dah lah bye.


Miyakori Coffee - JB City Square

Terus malam itu dia nanya aku ngapain aja seharian. Aku bilang aku tidur terus aku jajan kopi di minimarket bawah. Dia pun komen kenapa aku menghabiskan uang untuk beli kopi di cup kertas gitu, kenapa nggak beli sachet aja terus kan ada air panas di rumah. Mulai deh. 😒

Aku                : Kamu tuh nggak ngerti esensinya beli kopi, senang aja tau!

Bapak Kos    : Buang-buang duit 

Aku                : Kan cuma lima ringgit. Besok aku mau ke coba ke Sevel juga.

Bapak Kos    : Kamu tahu nggak di warung aku, orang-orang di sini kalau beli makan lima ringgit, nasinya minta dibanyakin, buat dua atau tiga kali makan. Kamu lima ringgit cuma buat beli kopi doang.

Tik..tik..tik.. menitik lah air mata ini. Bukan, bukan karena aku udah kalah debat seperti biasa. Punya hati yang sensitif emang susah banget. Aku nangis karena mikir, segitu egoisnya kah aku? Padahal kan cuma lima ringgit, ternyata duit segitu berarti banget buat orang lain sementara aku kayak jor-joran. Aku diam aja akhirnya dengarin ceramah dia sepanjang malam itu. No more debates.

Terus dia lanjut ke topik jadi orang yang bermanfaat. Menurut dia, hidup kalau nggak bermanfaat buat orang lain buat apa. Sebagai contoh, kita kerja ngumpulin duit, duitnya nggak dibawa mati. Oleh karena itu, kasih sebagian untuk sedekah. Contoh lain, aku suka belajar bahasa, apa manfaatnya buat orang lain? Nggak ada, kecuali aku mengajarkannya balik ke orang lain. 

Aku                : Are we having a deep talk?

Bapak Kos  : Whatever, yang penting jadilah orang yang bermanfaat buat orang lain, sesuai porsimu. 

Besok harinya, kami masak ayam penyet karena dia mau jualan ayam penyet di warung makannya. Walaupun nggak tahu resep aslinya, tapi karena pernah jualan waktu di kampus, aku pede aja ngasih resep ayam penyet dan sambalnya. Enak juga sambal buatanku. Lalu aku dikasih duit jajan sepuluh ringgit, buat beli kopi katanya. Tapi aku simpan buat ongkos jalan-jalan dan minum kopi sachet di rumah.

Aku pun berjanji dalam hati untuk selalu jadi manusia yang bermanfaat sesuai dengan nasihat Bapak Kos. Karena kalau dipikir-pikir, apa sih manfaat kita hidup di dunia ini selain menjadi manfaat bagi manusia lain? Lalu untuk lebih bijak juga untuk mengelola uang, mindful spending, karena kecil bagi kita jumlahnya tapi bagi orang lain itu jumlah yang besar. 

Thank you Bapak Kos. Aku selalu berdoa semoga warung makannya laris manis, jadi dia bisa menolong lebih banyak orang dengan kasih pekerjaan ke mereka. 


*Note: tulisan ini bukan untuk menggurui ya, tapi sharing aja dari pengalaman pribadi aku, dan memang Bapak Kos aku kalau ngasih nasihat ke aku to the point nggak pake pager. Kadang bikin aku nangis karena nggak selalu sesuai dengan point of view aku. But, he's my family, my brother, my bhai. Bukan berarti kita nggak boleh jajan juga, boleh tapi lebih bijak aja. 


Thanks for reading, guys! 

Nos vemos,

Kirei 😉

Saturday, 13 January 2024

DARI BATAM KE KUALA LUMPUR HAMPIR 24 JAM! KOK BISA???

Emang berapa lama sih normalnya perjalanan dari Batam ke Kuala Lumpur? 

Yea, tergantung sih pakai moda perjalanan apa. Moda pesawat sekitar satu setengah jam. Kalau kapal feri disambung dengan perjalanan darat pakai bus sekitar 8 jam.

Ini kok bisa sampe hampir 24 jam??


Pemandangan dari balkon rumah kosku di Cheras, KL


Jadi kemarin waktu dikasih libur panjang dari kantor, seperti tahun lalu juga, aku 'pulang kampung' ke Kuala Lumpur (ceileh pulang kampung). Aku nyebut pulang kampung karena I found a family there, Bapak Kos aku yang cerewet. Kenal dari Couchsurfing. Dan setiap kali aku disana tuh 'I feel home.'
Tanggal 23 Desember pagi aku berangkat dari rumah. Aku tuh kebiasaan kalau ke Malaysia lewat Johor selalu beli tiket feri on the spot. Begitu juga dengan hari ini. Rencanaku mau ikut jadwal feri jam 9.30 karena sudah perhitungan dengan jadwal bus dari Terminal Larkin jam 15.30.

Aku sampai di pelabuhan feri Batam Center jam delapan kurang. Waktu itu pelabuhan rame banget. "Oh iya, kan Senin masih tanggal merah, long weekend," pikirku. Santai saja, aku langsung jalan menuju konter tiket feri ke Johor dan jeng.. jeng... tiketnya habis. Jadwal paling cepat di jam 11.45. Sempat kepikiran mau lewat Singapura aja cuma nggak jadi karena pasti rame juga nanti keluar dari imigrasi Singapore ke Johor. Skip. Akhirnya aku beli aja tuh tiket. Hangus sudah tiket bus 35 ringgit. Sampai di lantai 2 pelabuhan, ternyata antriannya puanjaanggg banget. Aku baru 'ngeh' kan tanggal 26 masih cuti bersama, pastilah semua orang bertamasya..hi..hi..hi..

Lalu ngapain aku selama hampir empat jam di pelabuhan? Akhirnya aku ngopi di salah satu kafe di pelabuhan dan cari tempat duduk yang sepi buat baca buku, foto-foto, nulis diary. 

Jam sebelas aku beranjak dari kafe langsung menuju antrian imigrasi yang akhirnya sudah sepi. Tanpa ba bi bu pasporku langsung distempel. Pergilah aku ke ruang tunggu feri ke Johor yang sangat ramai. Aku duduk di bangku tunggu. Disitu aku ketemu sama temen baru, sebut saja Ami (cowok ya). Dia kebetulan mau ke Ampang, belum beli tiket bus, dan kami memutuskan untuk bareng. Kami pun berbagi banyak cerita sampai kemudian datang bapak-bapak yang cerewet sekali sepanjang kami menunggu feri ngomongggg terus nggak berhenti. 

Ternyata selain ramai, jadwal feri pun telat. Kami baru masuk ke dalam kapal di jam satu kurang. Jam satu kapal kami baru mulai meninggalkan Batam menuju Johor. Sampai di Johor ternyata kami harus mengantri di imigrasi selama kurang lebih dua jam. Astagaaaa... mana laper banget lagi. Aku bilang ke Ami kalau keluar dari pelabuhan harus cari makan dulu yang utama. 

Keluar dari pelabuhan, kami pun jalan sampai ke pasar. Kami sebenernya cari SIM Card lokal yang harganya miring. Aku kira di 7 Eleven ada, ternyata nggak ada. Kami pun masuk ke salah satu minimarket beli beberapa camilan dan nebeng wi-fi ke Mba kasirnya untuk pesan taksi online ke Terminal Larkin.

Sampai di Larkin, harusnya kami kan beli tiket dulu ya, kami malah nyari SIM Card dulu. Oneng banget emang bawaannya kalau laper. Kebetulan konternya lagi nggak bisa register SIM Card, jadi kami ke bawah cari tiket bus dulu. Ternyata oh ternyata.... tiket bus juga habis, dan sudah dikuasai calo. 

Kami nggak putus asa, kami antri di konter resmi, maksa minta jadwal bus yang ada di malam itu juga, jam berapapun juga. Akhirnya kami dapat lah di jam 23.59 dengan harga 50 ringgit plus. It's OK lah daripada harus cari hostel atau tidur di Larkin. Menunggu lagi, empat jam. Ngapain? Kami pun jalan-jalan keluar terminal, makan nasi kerabu, kepoin ruko-ruko disana jualan apa aja, rebahan di bangku mushola (si Ami tidur pulas malah), jajan es krim, karaoke dari YouTube, banyak lah sampe akhirnya kami dibolehin masuk ke ruang tunggu bus. Menunggu lagi.

Bus kami datang di jam satu malam dan baru meninggalkan Larkin di jam satu lewat. Aku dan Ami dapat kursi terpisah. Aku di bagian depan sedangkan Ami di bagian belakang. Karena keadaan hujan malam itu, bus nggak berani ngebut. Kami pun sampai di Terminal Bersepadu Selatan (TBS) jam 6 lewat. 

Karena agak linglung, aku sampai kesulitan cari tempat beli tiket LRT. Masukkin uang kertas pun sampai marah-marah. Untung saja rumah kosku nggak jauh jaraknya dari TBS, cuma tiga stasiun saja. Sampai di security, lapor dan karena aku sudah hafal jadi Bapak Kos nggak perlu lagi jemput ke bawah. Sesampainya di rumah kos, tanpa aba-aba aku langsung tidur sampai jam sebelas siang. Kebetulan Kuala Lumpur cuacanya lagis syahdu hari itu, jadi kesempatan aku setelah mandi dan minum chai buatan Bapak Kos, aku tidur lagi. Buset. Perjalanan Batam ke Kuala Lumpur hampir 24 jam. 

Cerita lucu:
Jadi terkadang, bus dari Johor Bahru itu ada yang nggak langsung ke KL, ada yang nurunin penumpang di terminal Seremban. Sama juga kalau dari KL ke Johor Bahru, kadang bus ada yang belok dulu ke Pulai. Nah, disini mesti perhatikan awak bus ngomong apa. 
Kemarin, si Ami salah turun. Seharusnya dia turun bareng aku di TBS, aku cari-cari kok nggak kelihatan. Setelah aku cek DM Instagram ternyata dia kirim pesan ke aku waktu aku tidur nyenyak di bus kalau dia turun di Seremban karena penumpang sebelahnya bilang udah sampai. Duh, kasihan tapi lucu. Dia harus merogoh kocek buat bayar taksi online seratus ringgit. Sejujurnya aku ngakak kalau ingat tapi kasihan. Maaf ya Ami. 


Thank you for reading. 

Nos vemos,
Kirei 😉