Alay banget sih, nggak boleh jajan kopi aja nangis! 😂
Tunggu dulu, jadi gini ceritanya.... (ceileh)
Ini masih kelanjutan cerita liburanku di Kuala Lumpur Desember 2023 lalu. Tujuanku ke KL kali ini ya apa lagi selain leha-leha karena memanfaatkan libur panjang yang dikasih kantor. Di hari pertama aku sampai, aku benar-benar memanfaatkan untuk tidur seharian. Setelah pagi sampai, tidur sampai jam sebelas siang, bangun buat mandi, makan dan lain-lain lalu rebahan sampai tidur lagi.
Malamnya, biasa lah setelah Bapak Kos pulang dari warung makannya, kami ngobrol. Aku sama Bapak Kos ini memang nggak pernah berhenti berdebat, tentang apapun. Kalau aku belum nangis pasti belum berhenti, terutama setiap aku cerita aku lagi dekat sama siapa. Alasannya, "listen, I am older than you and have more experiences than you." Iya lah si paling experience. "I know you always go to the wrong guy," lanjutnya. Dah lah bye.
![]() |
| Miyakori Coffee - JB City Square |
Terus malam itu dia nanya aku ngapain aja seharian. Aku bilang aku tidur terus aku jajan kopi di minimarket bawah. Dia pun komen kenapa aku menghabiskan uang untuk beli kopi di cup kertas gitu, kenapa nggak beli sachet aja terus kan ada air panas di rumah. Mulai deh. 😒
Aku : Kamu tuh nggak ngerti esensinya beli kopi, senang aja tau!
Bapak Kos : Buang-buang duit
Aku : Kan cuma lima ringgit. Besok aku mau ke coba ke Sevel juga.
Bapak Kos : Kamu tahu nggak di warung aku, orang-orang di sini kalau beli makan lima ringgit, nasinya minta dibanyakin, buat dua atau tiga kali makan. Kamu lima ringgit cuma buat beli kopi doang.
Tik..tik..tik.. menitik lah air mata ini. Bukan, bukan karena aku udah kalah debat seperti biasa. Punya hati yang sensitif emang susah banget. Aku nangis karena mikir, segitu egoisnya kah aku? Padahal kan cuma lima ringgit, ternyata duit segitu berarti banget buat orang lain sementara aku kayak jor-joran. Aku diam aja akhirnya dengarin ceramah dia sepanjang malam itu. No more debates.
Terus dia lanjut ke topik jadi orang yang bermanfaat. Menurut dia, hidup kalau nggak bermanfaat buat orang lain buat apa. Sebagai contoh, kita kerja ngumpulin duit, duitnya nggak dibawa mati. Oleh karena itu, kasih sebagian untuk sedekah. Contoh lain, aku suka belajar bahasa, apa manfaatnya buat orang lain? Nggak ada, kecuali aku mengajarkannya balik ke orang lain.
Aku : Are we having a deep talk?
Bapak Kos : Whatever, yang penting jadilah orang yang bermanfaat buat orang lain, sesuai porsimu.
Besok harinya, kami masak ayam penyet karena dia mau jualan ayam penyet di warung makannya. Walaupun nggak tahu resep aslinya, tapi karena pernah jualan waktu di kampus, aku pede aja ngasih resep ayam penyet dan sambalnya. Enak juga sambal buatanku. Lalu aku dikasih duit jajan sepuluh ringgit, buat beli kopi katanya. Tapi aku simpan buat ongkos jalan-jalan dan minum kopi sachet di rumah.
Aku pun berjanji dalam hati untuk selalu jadi manusia yang bermanfaat sesuai dengan nasihat Bapak Kos. Karena kalau dipikir-pikir, apa sih manfaat kita hidup di dunia ini selain menjadi manfaat bagi manusia lain? Lalu untuk lebih bijak juga untuk mengelola uang, mindful spending, karena kecil bagi kita jumlahnya tapi bagi orang lain itu jumlah yang besar.
Thank you Bapak Kos. Aku selalu berdoa semoga warung makannya laris manis, jadi dia bisa menolong lebih banyak orang dengan kasih pekerjaan ke mereka.
*Note: tulisan ini bukan untuk menggurui ya, tapi sharing aja dari pengalaman pribadi aku, dan memang Bapak Kos aku kalau ngasih nasihat ke aku to the point nggak pake pager. Kadang bikin aku nangis karena nggak selalu sesuai dengan point of view aku. But, he's my family, my brother, my bhai. Bukan berarti kita nggak boleh jajan juga, boleh tapi lebih bijak aja.
Thanks for reading, guys!
Nos vemos,
Kirei 😉


