Wednesday, 29 July 2020

LIBURAN SINGKAT DI KRABI, THAILAND (BAGIAN DUA)

Day 2

Hari itu sesuai janji dari Ibtisham, aku dijemput di hotel untuk tur island hoping. Aku sudah bersiap-siap langsung menggunakan baju renang dan kulapisi gaun selutut tanpa lengan. Tak lupa topi fedora dan kacamata hitam kesayanganku pun ikut serta. Aku juga membawa makanan kecil, minuman dan handuk kecil. 

Mobil jemputan sudah menunggu di depan gang. Mobil jemputan tersebut berupa mobil pick-up dengan atap lengkap dengan kursi penumpang. Ketika aku naik, ada beberapa orang sudah duduk di sana. Beberapa di antaranya adalah orang tua. Aku pun langsung memberikan senyuman kepada mereka yang mereka balas dengan senyum. Mobil tersebut ternyata masih menunggu beberapa tamu lain.

Tak berapa lama, datang satu per satu tamu yang dimaksud. Ada sepasang suami istri yang duduk di dekatku. Mereka kemudian menyapaku dengan Bahasa Thailand. Aku hanya terbengong dan mereka pun langsung meminta maaf karena mereka pikir aku orang Thailand. Aku pun jadi tidak enak lalu kujawab "it's ok" dan kusertai senyuman manis.

Setelah mobil penuh dengan penumpang, mobil bergerak perlahan sampai ke tempat di mana aku "dirampok" wanita pria kemarin. Ternyata kami semua dikumpulkan untuk semacam registrasi ulang dan diberi gelang sebagai penanda peserta tur. Nama grup tur yang membawa kami bernama Barracuda. Wow keren sekali. Setelah itu kami diharapkan untuk menunggu sebentar. Ternyata yang menjemput tadi bukan mobil yang akan membawa ke lokasi, melainkan sejenis angkot di sana, sedangkan yang kami tunggu adalah mobil truck dengan kapasitas yang lebih banyak. 

Ketika itu kami menunggu di dekat patung ikan yang ada di dekat pantai. Aku duduk sendirian dan mengambil foto seorang diri. Di sebelahku duduk seorang wanita muda cantik Thailand dan wanita yang sudah cukup tua yang ternyata ibunya. Wanita tersebut memintaku untuk mengambilkan fotonya bersama ibunya. Aku pun mengiyakan. Kemudian kami pun berbincang-bincang. Ternyata dia bisa berbahasa Inggris. Aku bersyukur karena akhirnya ada orang yang bisa aku ajak bicara selama tur berlangsung. Oh iya namanya Sara, dia berasal dari Chiang Mai, daerah Utara Thailand. 

Tak berapa lama mobil yang dimaksud pun datang. Rombongan bertambah. Aku perkirakan jumlah tamu tur saat itu yang satu rombongan dengan aku lebih dari 30 orang jumlahnya. Sebagian besar rombongan adalah orang India, lalu sebagian lagi orang Thailand lalu seorang pria dari Malaysia dan seorang pria lagi dari Singapura. Aku sendiri yang berasal dari Indonesia. Untung saja aku sudah bertemu dengan Sara yang menjadi temanku selama tur, oh dan juga ibunya meskipun beliau tidak bisa berbahasa Inggris namun aku bisa merasakan ibu Sara orang yang ramah. 

Mobil berhenti di sebuah tempat pemberhentian boat yang ketika itu sedang surut airnya. Kami berjalan menuju long tail boat yang sudah disediakan. Pimpinan tur saat itu seorang wanita tomboy dengan badan mungil yang sangat aktif dan meyenangkan. Dia bertanya darimana aku berasal dan ternyata dia bisa berbahasa Indonesia. Kemudian dia pun bernyanyi lagu yang saat itu sempat booming "tak tuntuang" yang ternyata terkenal sekali di Thailand. Aku pun tertawa melihat tingkahnya. 

Tur pun dimulai dan boat bergerak perlahan kemudian agak cepat dan sangat cepat menuju tujuan pertama yaitu Phra Nang Cave Island. Perjalanan dari Ao Nang Beach ke Phra Nang Beach Cave ditempuh dalam waktu sekitar tiga puluh menit menggunakan long tail boat, akan lebih cepat jika menggunakan speed boat. Cuaca hari itu sangat cerah sesuai dengan yang aku harapkan, langit biru dan matahari cukup menyengat. 


Peserta Tur Barracuda


Phra Nang Cave Beach


Sesampainya di Phra Nang Beach Cave, kami pun satu per satu turun dari boat dan berhamburan menuju pantai. Aku, Sara dan ibunya menuju tempat yang teduh di dekat gua. Di mulut gua terdapat banyak kayu-kayu yang berbentuk alat kelamin pria, berwarna warni. Aku tidak tahu untuk apa. Aku pun kembali ke tepi pantai yang teduh dan melepas baju lapisan luarku dengan antusias lalu buru-buru mengajak Sara untuk berenang. 

"Let's swim Sara," ajakku sembari memasukkan baju dan ponselku ke dalam tas. 
"Yes, you go first, I will pray for a while," ujar Sara. 
"Oh, okay!" sahutku.

Sara pun berjalan menuju gua. Aku sudah berlari ke dalam air laut yang sangat jernih dengan pasir yang putih. Dari kejauhan aku melihat Sara dan ibunya berdoa di mulut gua tadi. Ternyata setelah aku cari di internet, berdoa di sana dilakukan oleh beberapa warga lokal Thailand untuk meminta kesuburan. Legenda Phra Nang melekat kuat dalam kepercayaan beberapa orang lokal Thailand termasuk Sara dan ibunya. Buat yang mau baca tentang Phra Nang Cave bisa klik di sini.


Phra Nang Cave dengan Kayu-kayu Berbentuk Kelamin Pria


Aku dan Sara sangat menikmati waktuku di pantai itu dengan berenang. Sementara ibu Sara duduk menunggui tas kami dan mengambil foto. Kami berenang hingga ke bawah tebing. Aku tidak sanggup berjalan di bebatuan sementara Sara dengan santai berjalan dan bermain-main. Aktivitas lain yang bisa dilakukan di sana adalah memanjat tebing. 

Setelah puas berenang dan waktu kami di pantai tersebut habis, kami pun satu per satu kembali ke boat dan melanjutkan perjalanan ke pulau berikutnya, Tup Island. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Phra Nang. Tup Island merupakan salah satu pulau yang terkenal di Krabi. Tempatnya seperti pasir timbul yang menghubungkan dua pulau kecil jika airnya sedang surut. Di pulau tersebut aku dan Sara sibuk berenang dan bermain dengan ikan-ikan yang terlihat di permukaan air pinggir pantai sementara ibu Sara senang memotret kami berdua yang seperti anak kecil. Aku bisa melihat Sara senang sekali berada di pantai. Aku berpikir mungkin karena dia tinggal di daerah Chiang Mai yang jauh dari laut..ha..ha.. 

Kami menyempatkan berjemur sebelum melanjutkan perjalanan ke pulau selanjutnya. Pulau selanjutnya yaitu Chicken Island. Seperti namanya, pulau ini jika dilihat dari kejauhan terlihat seperti ayam lengkap dengan kepala dan leher. Di Chicken Island kami tidak mendarat melainkan snorkeling di perairan sekitar pulau. Ini menjadi pengalaman snorkeling-ku yang kedua setelah beberapa bulan sebelumnya aku mengunjungi Pulau Abang di sekitar Batam. Aku sudah jatuh cinta dengan dunia bawah air semenjak itu. 

Aku dengan Latar Belakang Chicken Island


Masing-masing kami dipinjami pelampung, kacamata dan alat pernapasan namun tidak ada alas kaki jadi terpaksa aku menggunakan sandal gunungku agar tidak terkena karang jika ada. Ternyata medan snorkeling nya cukup dalam dan aku beberapa kali kesulitan karena pelampungku yang longgar. Pemandu kami yang begitu perhatian pun langsung memanggilku ke atas dan menukar pelampungku dengan yang cukup ketat. Sara yang sebelumnya bilang tidak bisa berenang ternyata berenang kesana kemari cukup jauh tiada henti. Aku tidak tahu entah karena lokasinya atau bagaimana, aku tidak melihat banyak ikan dan terumbu karang. Atau mungkin aku berenang kurang jauh. 

Waktu yang diberikan utuk snorkeling terlalu singkat menurutku, hanya sekitar tiga puluh menit. Setelah itu kami beranjak ke pulau terakhir yaitu Koh Poda atau Poda Island. Di sana kami menghabiskan waktu lebih lama dibanding di pulau lain. Kami juga menikmati makan siang di pulau tersebut. Makanan yang disajikan adalah makanan Thailand yang salah satunya adalah basil chicken yang ternyata enak. Salah seorang tamu pria yang tidak cocok dengan menu makanan yang disajikan tiba-tiba protes.

"Do you have another food?" tanya pria tersebut.
"No, we only have this. Do you know that Thai food is the best in the world?" celetuk pemandu tur kami seperti tidak mempedulikan protesan pria tadi.

Beberapa dari kami pun hanya tersenyum dan mengabaikan ocehan pria tersebut. Aku, Sara dan ibunya makan di atas sebuah kayu. Selesai makan, aku tak bisa menahan diri untuk menceburkan diri ke air laut yang begitu jernih dengan pasir putih bersih. Langit ketika itu sangat biru. Terlihat kilauan seperti kristal di permukaan air laut karena cuaca yang mendukung. 


Koh Poda / Poda Island

Aku menelepon Raja, temanku yang ketika itu sedang bekerja. Dia begitu terkagum-kagum dengan kecantikan pantainya dan membayangkan kalau kami bisa pergi ke sana bersama suatu hari. I wish so ;)  

Sara sudah lelah berenang dan dia memilih untuk langsung berganti baju. Sedangkan aku asyik bermain di air sementara ibu Sara berjalan-jalan di sepanjang pantai. Aku melihatnya memunguti serpihan karang yang cantik-cantik. Hal itu sering aku lakukan juga di pantai Batam. Lalu akupun mengikuti apa yang dilakukannya. Aku memasukkan karang-karang cantik itu ke dalam botol air mineral yang rencananya akan kubuang. Saking asyiknya hampir satu botol penuh aku mengisinya dengan karang-karang. 


Crystal Clear Water 


"I want to stay here forever Sara, I don't want to go home," ujarku kepada Sara.
"You can stay here if you want so you can swim every day to reduce weight," jawab Sara. Kami pun tertawa. 

Waktu menunjukkan pukul tiga sore ketika kami dikumpulkan kembali untuk pulang ke Ao Nang Beach. Sebelum kami beranjak, pemandu tur menawarkan untuk mengambil fotoku, Sara dan ibunya. Kami berpose dengan latar belakang langit biru dan pantai serta air laut dengan warna yang senada. Setelah itu kami pun beranjak kembali ke Ao Nang. Matahari masih terasa menyengat. Aku tertidur sebentar karena buaian angin. Benar-benar trip yang menyenangkan. 


Aku, Sara dan Ibunya Sara


Kami tiba di Ao Nang dengan selamat namun cuaca sedikit mendung. Kami turun satu per satu dari boat. Oh iya, mereka menyediakan kotak di bagian depan untuk kita memasukkan tips. Jangan lupa berikan tips ya karena tur ini benar-benar menyenangkan. Oh iya, setelah itu mereka juga membuat souvenir dari foto kita yang dibingkai dengan hiasan pasir dan kerang. Aku membelinya seharga 150 baht. Foto itu dengan latar belakang ibunya Sara sebagai kenang-kenangan.

Sesampainya di Ao Nang, kami dijemput kembali oleh mobil yang mengantar kami. Kami diantar satu per satu ke penginapan masing-masing hingga akhirnya tibalah aku di gang hotel tempatku menginap. Aku, Sara dan ibunya langsung turun. Ternyata aku dan Sara tinggal di hotel yang berseberangan gang. Aku mengucapkan selamat tinggal kepada Sara. Sara memintaku untuk mengirimkan foto-foto kami ke Whatsapp yang sebelumnya dia berikan nomornya. Aku pun mengiyakan dan kukirimkan foto-foto tersebut ketika sampai di hotel, begitu juga Sara, dia mengirimkan foto yang diambil menggunakan ponselnya. 

Ternyata setelah beberapa bulan Sara baru memberitahuku kalau dia tinggal bersama suaminya di Singapura. Kami pun bertemu kembali di bulan Februari 2019 ketika aku berkunjung untuk liburan akhir pekan di sana. 

Aku langsung melepas baju renangku yang masih lembap dan buru-buru mencucinya agar sebelum pulang sudah kering. Aku kemudian mandi, cukup lama. Namun ada yang membuatku sedikit sebal karena sampo yang seharusnya aku beli ternyata adalah kondisioner (akibat tulisan yang tertera hanya tulisan Thailand). Tapi tidak apa, yang penting rambutku tidak mengeras akibat rendaman air laut. 

Setelah mandi, aku pun bergegas tidur sore karena mataku sudah terasa sangat berat. Aku terbangun karena ada hujan badai yang suara anginnya cukup keras seperti mesin mobil. Aku tidak bisa tidur lagi hingga akhirnya aku memutuskan untuk mencari makan malam ketika hujan sudah reda. 

Jalanan Pantai Ao Nang malam hari masih sangat ramai seperti tempat wisata umumnya. Berbagai macam restoran, tempat pijat dan toko-toko yang menjual oleh-oleh bertaburan lampu. Aku menyusuri jalanan hingga menemukan sebuah kedai makan halal (aku lupa namanya). Pegawainya memakai hijab dan samar-samar terdengar musik yang tidak asing di telingaku. Ternyata mereka memutar lagu Sabyan yang ketika itu sedang naik daun. 

Aku membeli semangkuk tomyum dan segelas es teh susu Thailand yang juga sedang booming di Indonesia. Total yang aku keluarkan sebesar 180 baht ketika itu. Cukup mahal memang, tetapi tomyum yang disajikan sangat banyak dengan mangkuk yang besar (mungkin cukup untuk dimakan bertiga). Selesai makan aku pun kembali menyambangi minimarket untuk membeli makanan dan lagi-lagi aku disapa menggunakan bahasa Thai. Aku menyesal tidak belajar bahasanya terlebih dahulu. 

Aku pun kembali ke hotel untuk beristirahat. Salah satu kebiasaanku ketika tinggal di hotel adalah membiarkan televisi menyala sepanjang aku tidur agar tdak sepi. Namun malang malam itu saluran televisinya hilang semua berganti semut-semut. Aku pun langsung tidur agar hari cepat-cepat berganti. Good night!



Nos vemos,

Kirei Khan


Catatan: beberapa foto hilang ketika pindah laptop :( 









Wednesday, 22 July 2020

LIBURAN SINGKAT DI KRABI, THAILAND (BAGIAN SATU)

Aku lupa kapan tepatnya aku memutuskan Krabi, sebuah daerah di Thailand bagian Selatan, untuk menjadi destinasi liburan singkatku berikutnya. Aku memang tergila-gila dengan pantai berpasir putih, berair jernih, akan lebih sempurna jika hari cerah dan langit berwarna biru. Nah, ketika itu melayanglah pikiranku ke sebuah negara bernama Thailand. 

Foto diambil oleh Teman Mereka


Setelah Langkawi, Thailand menjadi tempat terbangku yang lebih jauh. Jujur, aku dulu sempat bingung bagaimana nanti jika sampai Thailand aku tersesat, sedangkan di Langkawi saja aku bisa tersesat..ha..ha.. Selain itu, aku memikirkan akankah mudah mencari makanan halal di Thailand. Walaupun aku suka makan, tetapi aku bukan seorang foodie yang gemar mencicipi berbagai makanan. Setiap traveling, aku hanya makan makanan yang biasa aku makan saja (ayam, nasi, street food itupun yang kelihatannya bisa aku terima), sungguh ribet ya? 

Setelah membaca-baca beberapa blog dan postingan member di grup Facebook, aku pun memutuskan Krabi sebagai destinasiku. Alasan utamanya, Krabi merupakan sebuah daerah dimana mayoritas penduduknya beragama Islam, sehingga akan mudah menemukan makanan halal di sana. Selain itu, tiket yang aku dapatkan ke sana pun lebih murah dibandingkan jika aku pergi ke daerah lain di Thailand. Well, tiket sudah di tangan. 

Day 1 :

Aku terbang dari Singapura ke Thailand setelah sehari sebelumnya aku menginap di Singapura untuk sebuah janji dengan teman yang kebetulan sedang business trip di sana. Pesawatku terbang sekitar jam 3 sore waktu Singapura. Penerbangan memakan waktu kurang lebih 1 jam 40 menit, hampir sama dengan penerbangan ke Langkawi. Aku tidak mendapat window seat yang aku harapkan. Huh!

Selama penerbangan, aku duduk di antara dua orang yang sangat berkebalikan dalam hal penampilan. Sebelah kananku, seorang cowok parlente, potongan rambut yang rapi, sepatu mengkilat, memakai jas dan duduk tenang membaca buku di kindle nya. Sementara di sebelah kiriku, seorang cowok yang sangat lusuh, menggunakan celana pendek, jaket lusuh, rambut sedikit gondrong yang mungkin dia lupa kapan terakhir dicuci, sandal gunung dan aku ingat dia membawa ransel yang begitu besar. Selama penerbangan dia pun tidur dan terlihat lelah. Namun aku lebih suka untuk menyapa cowok di sebelah kiriku, dia lebih bersahabat kelihatannya. 

Tiba akhirnya kami diminta mengisi kartu kedatangan ke Thailand. Kartu tersebut dicetak dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Thailand. Setelah selesai mengisi, aku pun kembali melipat meja dan bersiap beristirahat lagi. Namun aku perhatikan cowok lusuh tadi yang sedang sibuk memainkan ponselnya. Sekilas aku melirik, kupikir dia lupa nomor passportnya dan harus dicari di ponselnya, ternyata dia menggunakan terjemahan untuk mengisi kartunya. Ohoooo...dan ternyata dia berbahasa Spanyol. Dengan kemampuan Bahasa Spanyolku yang hanya hola dan adios, aku pun membantu cowok tersebut. 

"Jadi kamu dari Argentina ya?" tanyaku sedikit dalam Bahasa Spanyol.
"Iya," jawabnya singkat. 

Cowok tersebut terlihat ingin mengobrol namun karena kendala bahasa dia jadi terlihat diam saja dan cuek. Aku pun bertanya lagi. Ternyata dia terbang dari Bali ke Singapura dan melanjutkan perjalanannya ke Krabi. Wah, aku suka sekali jika aku bisa berteman dengannya. Aku berpikir seandainya Bahasa Spanyolku sudah di level advance atau minimal intermediate lah. Duh!

Kami pun mendarat di Krabi dengan selamat. Cuaca sangat cerah meskipun sudah sore. Waktu Thailand sama dengan waktu Indonesia dan lebih lambat satu jam dari Singapura. Kami pun berbaris di antrian imigrasi. Petugas imigrasi yang bertugas mengecek pasporku tidak bertanya sama sekali. Beliau hanya mengecek paspor dan kemudian mengembalikannya padaku. Tetapi aku terkejut dengan caranya mengembalikan paspor, sedikit dilempar. Duh. Tapi walau bagaimanapun aku selalu mengatakan "thank you". 

"Welcome to Thailand!" seruku dalam hati. 

Aku turun ke pintu utama bandara dengan menggunakan eskalator. Sebelum aku memesan bus, aku terlebih dahulu membeli kartu telepon dan internet. Penjualnya bernama Ibtisham, seorang gadis muda dengan wajah khas Thailand, namun menggunakan jilbab. Aku bahkan hampir lupa kalau aku sedang di Thailand, karena selain berjilbab Ibtisham juga fasih berbicara Bahasa Melayu. Ibtisham yang saat ini masih berkontak denganku, menawarkan paket tur yang biasa dipesan turis-turis yang datang ke Krabi. Aku memesan tur four islands hoping seharga 800 Baht. Mereka mencatat nama hotel tempatku menginap dan akan menjemputku pukul sembilan pagi. Setelah sepakat dan membayar, aku pun menuju konter bus untuk membeli tiket. 

Aku kembali melihat cowok Argentina yang bahkan aku lupa bertanya siapa namanya tadi yang baru saja kembali dari konter tiket bus. Kami saling menyapa sebelum dia berpindah ke konter Ibtisham. Aku membeli tiket bus seharga 150 Baht untuk menuju Pantai Ao Nang, di mana aku akan menginap. Sekembalinya aku dari konter tiket bus, si cowok Argentina tadi masih di sana.

"Ayo kita sama-sama menunggu bus!" ucapku dalam Bahasa Inggris dengan bahasa tubuh yang kubuat sedemikian sehingga semoga dia paham. Dia pun mengangguk. Aku langsung menuju pintu depan bandara tempat menunggu bus. Aku berharap kami naik bus bersama supaya aku bisa menanyai namanya. 

Ketika bus datang, si Argentina masih belum menampakkan dirinya. Aku pun bertanya pada petugas kapan bus berikutnya akan datang agar aku bisa menunggu calon temanku itu. Ternyata bus berikutnya baru akan datang dua jam lagi. Aku pun tidak jadi menunggu karena kalau aku sampai di lokasi pada malam hari, aku akan kesulitan mencari hotel tempaku menginap. Jadi kutinggal saja dia. Adios amigo! 

Perjalanan dari bandara Krabi ke Pantai Ao Nang ditempuh dengan bus selama kurang lebih satu jam. Aku tidak bisa melewatkan begitu saja dengan tidur. Aku yang duduk di samping jendela pun mengintip dari balik tirai bagaimana sebenarnya Thailand itu. Ternyata hampir sama saja dengan di Indonesia. Keda-kedai pinggir jalan, anak-anak sekolah berjalan kaki, motor-motor bersliweran dan ada juga yang tidak memakai helm. Kemudian aku memperhatikan ternyata tidak sedikit juga aku melihat ibu-ibu berjilbab mengendarai motor. Persis seperti di negaraku! 

Aku sampai di hotel sekitar pukul lima sore. Masih cukup terang untuk mencari alamat. Hotel yang aku tinggali sementara yang tidak jauh jaraknya dari Pantai Ao Nang, berjalan sekitar lima menit. Lokasi hotel tidak jauh dari gang masuk namun sedikit menanjak. Aku pun langsung menuju resepsionis untuk check in. Lagi-lagi seorang gadis muda Thailand dengan jilbab dan juga Bahasa Melayu. Ternyata rata-rata orang di Krabi bisa berbahasa Melayu, karena daerahnya berbatasan dengan Malaysia. 

Proses check in ku saat itu ternyata sedikit lama karena ternyata baik kartu debit maupun kreditku tidak bisa digunakan. Akhirnya terpaksa uang tunaiku yang jumlahnya tidak terlalu banyak, kugunakan untuk membayar hotel sejumlah 810 Baht. Menurutku itu sangat murah untuk ukuran kamar pribadi yang cukup luas selama tiga malam. Saranku, bawa uang Baht yang agak banyak atau mata uang USD jangan rupiah karena belum tentu diterima oleh penukaran uang setempat. Saat itu aku membawa uang dolar Singapura yang ternyata cukup membantu. 

Sesampainya di kamar, aku pun langsung menata barang-barangku. Aku menyukai kamar yang terletak di lantai dua, dengan pemandangan sebuah tebing dan beberapa hotel yang terlihat dari jendela yang cukup lebar. Kamar tersebut dilengkapi dengan TV tabung, meja untuk makan, meja rias, lemari, penjemur handuk, kasur yang cukup nyaman serta kamar mandi dengan shower meskipun hanya air dingin. Aku sengaja memilih tanpa AC karena aku memang tidak bisa tidur dengan AC. Ini benar-benar harga yang gila. Memang sangat sepi tetapi aku merasa cukup nyaman berada di sana. 

Setelah beristirahat sebentar, aku pun memutuskan untuk berjalan kaki menuju pantai untuk menikmati matahari terbenam. Matahari terbenam dari pantai memang indah, sangat indah. Sore itu pantai Ao Nang sangat ramai. Di tepi jalan menuju pantai, aku mendapati banyak sekali kedai makan dan tempat pijat. Selain itu juga berjejer toko-toko kecil yang menjual souvenir khas Thailand serta minimarket yang selalu ramai. 

Sunset di Pantai Ao Nang, Krabi, Thailand


Sore Hari di Pantai Ao Nang, Krabi, Thailand


Aku berjalan di pasir dan menghirup udara sore pantai. Aku berjalan di sepanjang garis pantai hingga bertemu dengan patung ikan yang khas di pantai tersebut. Aku pun kemudian naik melalui tangga yang tersedia. Aku menyusuri jalan sambil melihat-lihat toko souvenir. Tidak lama kemudian tiga orang asing menghampiriku. Mereka ternyata wanita pria Thailand yang sedang menawarkan pamflet pertunjukan kabaret. Jujur, aku sangat takut dengan sosok wanita pria seperti mereka. Terlebih lagi mereka bertiga, aku sendirian dan di tempat yang asing pula. 

Aku pun dengan terpaksa menerima pamflet tersebut dan berpura-pura bertanya tentang pertunjukan tersebut. Mereka pun menjelaskan dan kemudian menanyakan asalku. Perasaanku campur aduk ketika itu. Aku ingin sekali kabur. Badan mereka besar-besar sekali untuk ukuran orang Asia menurutku. Ketika aku hendak pergi, mereka menawarkan diri untuk berfoto. Karena takut aku pun mengiyakan. Selesai berfoto dan aku hendak pergi, ternyata mereka meminta bayaran dengan menunjukkan sejumlah uang yang harus aku bayar, 100 Baht. Aku pun dengan polos mengeluarkan 100 Baht tersebut. Ternyata 100 Baht itu hanya untuk satu orang, sedangkan mereka bertiga jadi total yang harus ku keluarkan sebanyak 300 Baht. Sialan. Kemudian aku kabur dengan muka merah, ingin menangis tapi malu. 

Aku berjalan kembali menuju hotel. Sebelum sampai hotel, aku menyempatkan diri berbelanja di minimarket untuk membeli air putih, beberapa makanan ringan dan sampo. Ternyata kasir di minimarket tersebut tidak bisa berbahasa Inggris. Bahkan aku yang ketika itu tidak memakai jilbab diajak berbicara menggunakan Bahasa Thailand yang membuatku melongo. Kemudian aku membeli sebuah jajanan di pinggir jalan yang katanya cukup terkenal, banana pancake, yang ternyata seperti prata dengan isi pisang dan di atasnya diberi toping cokelat. Enak sih. Cukup untuk makan malam setelah jatah makan malamku 'dirampok' oleh ketiga wanita pria tadi.

Aku kembali ke hotel, mandi dan beristirahat sambil menikmati banana pancake serta menonton televisi tabung yang mengingatkanku pada jaman aku kecil. Malam itu aku bercerita pada Ahmed (my bf at that time) tentang pengalamanku hari itu, perampokan itu ha..ha.. dan tentu dia menertawakan aku. Huh! Good night!


Nos Vemos,

Kirei Khan


Saturday, 18 July 2020

KEJUTAN ULANG TAHUN: BERTEMU COWOK LATIN DI HOSTEL

Malam itu aku seperti mendapat.....kejutannnnnn!!!
Sesampainya di kamar hostel yang berada di lantai tiga setelah berjalan kaki dari stasiun MRT, aku sungguh merasa sangat lelah. Terlebih lagi keesokan harinya aku harus melanjutkan perjalanan ke Melaka. Kubuka pintu kamar hostel yang ternyata sudah dimatikan lampunya. Aku tidak berani menyalakannya karena takut mengganggu penghuni hostel yang lain yang sedang beristirahat. 

Ketika melangkah masuk menuju kasurku, mataku pun langsung menangkap sesosok cowok yang sedang terbaring di kasur yang berada tepat di dekat pintu, dengan laptop di atas badannya. Cukup tampan walau dilihat dalam kegelapan. Ternyata dia sedang asyik menonton sesuatu di laptopnya dengan earphone di kedua telinganya. 

Awalnya aku tidak ingin menyapanya. Tetapi rasa penasaranku langsung menghinggapi yang kemudian membuatku memberanikan diri untuk menyapa. 

"Hi, where are you from?" tanyaku gugup. 
"Hi, I am from Chile. What is your name?
"I am Qori, and you?" kemudian cowok itu menyebutkan namanya dan ternyata aku kurang mendengarnya. "What?"
"Pablo, like Pablo Escobar," jawabnya menghilangkan kegugupanku. Kami pun tertawa kecil.
"You're from Chile, it means you speak Spanish?" tanyaku antusias.
"Yeah, I do," jawabnya mantap. 
"Wah...very nice! I am learning Spanish!" ucapku bersemangat. 
"Really?" tanyanya tak kalah semangat yang membuatku senang dan tidak menyesal aku telah menyapanya terlebih dulu. 

Kami pun ngobrol tentang kegiatan dia pada hari itu. Ternyata dia juga baru sampai di Singapura dan mendapati beberapa hostel penuh, akhirnya memutuskan untuk menginap di tempat ini. Sama sepertiku. Random sekali karena tiba-tiba kami membicarakan buku dan dari sini aku jadi tahu dia menyukai tulisan Paulo Coelho. Aku mengatakan pada Pablo kalau aku akan melanjutkan perjalanan ke Melaka keesokan harinya. 

Kami pun saling bertukar akun Instagram dan nomor Whatsapp sebelum beberapa penghuni hostel lain masuk, sepasang kekasih India dan juga seorang cowok dari Batam yang ternyata pernah ikut dalam rombongan snorkeling Pulau Abang yang aku pandu sebelumnya. What a coincidence ha..ha.. dunia ternyata sempit. Ah, mungkin iya mungkin tidak. 

Aku pun meninggalkan Pablo sementara untuk menitipkan tas kakakku ke temanku sesuai janjinya (ceritanya ada di tulisan sebelumnya, Merayakan Ulang Tahun di Singapura). Dia sudah menunggu di depan hostel. Syukurlah bebanku teratasi sementara, tidak terbayangkan aku membawa tigas tas besar sekaligus ke Melaka.

Keesokan harinya aku berangkat pagi-pagi sekali ke Melaka ketika semua penghuni kamar hostelku masih terlelap termasuk Pablo. Suasana masih gelap ketika aku mandi dan check out dari hostel. Aku memberi tahu Pablo ketika aku sudah sampai di perbatasan Singapura - Malaysia dan Pablo mengatakan dia belum pernah ke Malaysia. 

Sekembalinya dari Melaka, aku sengaja menginap semalam lagi di Singapura. Aku memberi tahu Pablo kalau aku akan menginap semalam lagi. Pablo juga memberi tahuku kalau dia sudah pindah dari hostel sebelumnya dan sedang mencari hostel baru untuk hari itu. Dia menyebutkan sebuah hostel di sekitar Ferrer Park yang pernah aku tinggali beberapa bulan sebelumnya. Aku menyarankan Pablo untuk menginap saja di hostel tersebut. Dia berkata akan mempertimbangkannya. 

Aku sampai di hostel yang ada di Ferrer Park sekitar pukul enam sore dan langsung check in. Kamarku ada di lantai tiga. Aku memberi tahu Pablo kalau aku sudah sampai di hostel dan ternyata Pablo akhirnya akan menginap di sana juga. Wah....aku senang sekali. 

Setelah beristirahat sejenak, aku keluar hostel bersama salah seorang temanku untuk mencari buku sebagai hadiah ulang tahunku. Cukup lama aku keluar sebelum akhirnya kembali ke hostel. Ketika aku sampai di hostel, ternyata Pablo sudah sampai juga. 

"Let's go out to buy some drink!" ajaknya melalui Whatsapp. Ketika itu aku sedang di toilet karena sakit perut. Aku mengatakan pada Pablo untuk menunggu, dia pun setuju untuk menunggu di teras hostel. 
"Hola amigo, cómo estás?" tanyaku sok-sokan pakai Bahasa Spanyol.
Pablo pun menjawab dengan Bahasa Spanyol. Kata yang aku tangkap hanya cansado yang berarti lelah. Selebihnya aku tidak tahu. Terlebih aksen Pablo tidak terlalu jelas menurutku. 
"Let's talk in English..ha..ha.." kataku akhirnya menyerah.
"Ha..ha..OK," jawab Pablo. 
Temanku terheran-heran dan akhirnya bertanya,"what language did you guys talk to each other?" 
"Spanish," jawabku. 
"Wow, cool!" 
"I am still learning, that's why I don't really undertsand..he..he.." 

Aku dan Pablo menuju ke sebuah minimarket, temanku ikut serta. 

Ketika kami keluar dari minimarket, seseorang kemudian menyeletuk ke Pablo, "hey, you look like Lionel Messi!"

Aku pun menatap Pablo dan aku pun mengiyakan. Mirip sih. Sesampainya di hostel, kami duduk-duduk di teras hostel sembari ngobrol mengenai trip kami. Pablo bercerita, dia sedang tinggal sementara di Bali. Dia senang berada di Bali karena hampir setiap hari dia melakukan kite surfing, olahraga kesukaannya. Kami bercerita mengenai pekerjaan dan kehidupan kami masing-masing. Karena waktu sudah cukup larut ketika kami keluar, akhirnya kami memutuskan untuk  menyudahi pembicaraan kami. Pablo kembali ke kamarnya, aku dan temanku pergi berjalan kaki sebentar.

Keesokan paginya, begitu bangun tidur aku langsung mengirim pesan ke Pablo untuk sarapan bersama sebelum kehabisan. Kami berdua pun langsung menuju pantry hostel untuk sarapan. Hostel tersebut menyediakan sarapan sederhana yang cukup enak. Roti bakar dengan butter atau selai, kopi dan teh tersedia di sana. Semuanya self service. Aku memilih untuk membuat kopi hitam dengan gula serta dan roti bakar kaya, Pablo membuat kopi hitam tanpa gula.

"Do you know Pablo? This is my favourite, kaya toast!" ujarku sambil menggigit roti dengan nikmat.
"Oh, I want to try your favourite then!" Pablo bangkit dan mulai membuat roti panggangnya.

Kami melanjutkan cerita kami. Sebelum tiba di Bali, Pablo bekerja di Sidney, Australia. Sebelumnya dia seorang engineer di negaranya, Chile. Dia rela terbang jauh dan meninggalkan pekerjaannya serta memulai petualangannya. Dia mengumpulkan uang untuk membiayai perjalanannya. Setelah uang terkumpul, terbanglah dia ke Bali. Dia terbang ke Singapura agar bisa memperpanjang masa tinggalnya di Bali/Indonesia sebelum dia melanjutkan perjalanannya ke Eropa menemui kakak laki-lakinya. 

Pablo bercerita bahwa hari sebelumnya dia berjumpa dengan rekan senegaranya, yang juga sedang melakukan perjalanan. Bahkan temannya itu mengambil cuti panjang hanya untuk bisa berkelana. Pablo mengatakan kalau temannya itu tenaga kerja yang sangat dibutuhkan di tempatnya bekerja sehingga kapanpun dia kembali dari perjalanan, perusahaan akan menerimanya bekerja kembali. Enak sekali ya, pikirku. "Aku juga mau seperti itu..ha..ha..," batinku sambil berpikir bahwa kemarin aku baru saja menodong cuti tambahan pada bosku dengan janji tidak akan cuti lagi sampai November. 

Jujur aku iri dengan kehidupan orang-orang seperti Pablo dan temannya itu. Mereka seperti tidak ada beban sama sekali untuk berkelana melanglang buana menikmati dunia. Jika uang habis, mereka akan mudah mencari pekerjaan, apa saja, tanpa perasaan malu atau gengsi. Jika uang sudah terkumpul, saatnya mereka beraksi, berpindah dari negara satu ke negara lainnya. Ah, seandainya. Sebenarnya bisa saja, tapi nyaliku belum sekuat itu.

Selesai sarapan, aku dan Pablo kembali ke kamar masing-masing. Kamar Pablo ada di lantai dua. Hari itu aku harus check out dan segera pulang ke Batam karena keesokan harinya aku sudah harus kembali bekerja.

"Let me know when you're ready to leave so we can say goodbye to each other," kata Pablo. 
"Okay!" jawabku ketika kami berpisah di tangga menuju kamar. 


Kirei & Pablo


Foto diambil oleh bibi penjaga hostel

Selesai mandi dan bersiap-siap, aku menuju resepsionis untuk mengembalikan seprei dan check out. Sembari menunggu prosesnya, aku mengirim pesan ke Pablo memberitahu bahwa aku sudah ada di resepsionis. Tak lama kemudian Pablo muncul. Kami akan berpisah hari itu. Pablo tiba-tiba memelukku. Awalnya aku terkejut karena tidak biasa, namun aku tersadar kalau itu sebuah tradisi di sana, sebagai tanda pertemanan. Aku pun membalas pelukan Pablo. 

"Don't worry, no one is watching," kata Pablo seperti membaca keterkejutanku. 
"It's OK Pablo," jawabku. "Let's take picture!" 

Kami pun meminta bibi resepsionis untuk mengambilkan foto kami berdua. Akhirnya, aku pun harus pamit pulang. Sungguh, pertemuan dengan Pablo sangat mengesankan. Kami seperti sudah lama saling mengenal. Sebetulnya aku ingin sekali mengajak Pablo mengunjungi Batam, tetapi waktu tidak memungkinkan saat itu. Mungkin suatu saat nanti. Semoga. 

Oh, he is getting older this month..ha..ha.. he is a month older than me. 

Hey, mi querido amigo, feliz cumpleaños! Deseo todo lo mejor. Estoy esperando que vuelvas a Singapur..ja..ja.. so we can have longer conversation. Te extraño amigo! Cuídate! 


Nos vemos,

Kirei Khan

Wednesday, 15 July 2020

MERAYAKAN ULANG TAHUN DI SINGAPURA

Singapore National Day = My Birthday 

Marina Bay Sands di Malam Hari


Setidaknya itulah yang aku ketahui pertama tentang Singapura. Cerita itu kudapat dari mamaku yang dulu pernah bekerja di negeri itu ketika aku masih SD. Sampai ketika aku dewasa, aku sudah bekerja dan pertama kali membuat paspor di tahun 2013, negara pertama yang aku kunjungi adalah Singapura. Ya, semua tahu alasannya karena paling dekat dengan Batam dan memang sudah tidak heran lagi jika warga Batam bolak-balik ke sana. 

Tapi aku punya alasan lain. Pertama kali aku mengunjungi Singapura, adalah di hari ulang tahunku, 9 Agustus yang mana bertepatan dengan hari kemerdekaan negara tersebut. Entah kenapa, aku merasa spesial saja. Seperti ulang tahunku dirayakan oleh orang satu negara..ha..ha..

Setidaknya, aku pernah berada di Singapura pada tanggal 9 Agustus sebanyak tiga kali yaitu di tahun 2013 ketika aku pertama kali ke luar negeri, tahun 2014 ketika aku pulang kampung melalui Singapura dan di tahun 2019 ketika aku sudah sedikit banyak mengenal Singapura. Momen yang aku lalui pun berbeda-beda. 

Tahun 2013, aku tidak mengenal seorang pun di sana. Satu-satunya orang yang aku kenal adalah Cheryl, rekan kerja satu perusahaan yang berada di cabang Singapura. Sebelumnya, aku sudah berbicara dengannya untuk saling bertemu di sana. Dia tidak berjanji untuk menemui, tapi aku tidak masalah karena pada akhirnya kami tidak bertemu. Aku menikmati hari itu di sekitar Marina Bay Sands melihat begitu banyak orang mengenakan baju berwarna merah sebagai simbol perayaan hari kemerdekaan. 

Pada hari itu aku untuk pertama kalinya menikmati lemon chicken rice dan jatuh cinta pada suapan pertama. Oh, aku rindu makanan itu. Aku membelinya di food court yang ada di pelabuhan Harbourfront. Enak sekali. Pada hari itu juga aku pertama kali mempelajari jalur MRT di Singapura yang ternyata sangat mudah walaupun kita baru pertama kali. 


Ulang Tahun ke 22 di Singapura


Kembang api perayaan hari kemerdekaan hanya bisa aku saksikan ketika aku sudah berada di ferry dalam perjalanan pulang kembali ke Batam. Sangat disayangkan aku belum bisa menginap di sana pada saat itu karena belum tahu menahu dan belum berani..hi..hi..


Tahun 2014, ketika pesawatku yang aku tumpangi mendarat di bandar udara international Changi di Singapura, tepat di hari ulang tahunku. Aku pun merasakan sensasi yang berbeda. Meskipun aku tidak menghabiskan waktu lama pada hari itu karena aku harus segera kembali ke Batam, tetapi aku sempat melihat percikan kembang api dari jendela ferry. Again, happy birthday to me and Singapore.  


Tahun 2019, aku kembali merayakan ulant tahunku di Singapura. Aku menyebut trip kali itu sebagai birthday trip. Tahun ini sungguh spesial karena selain aku akan merayakan ulang tahun, aku juga akan melanjutkan perjalanan ke Melaka keesokan harinya. Selain itu juga aku sudah mempunyai beberapa teman di sana dan juga kakak angkat. Kakak angkatku orang Indonesia yang mempunyai suami orang Melayu Singapura. 

Hari itu sesampainya di Harbourfront, aku langsung menghubungi kakakku dan kami memutuskan untuk bertemu di Bugis Street. Sebelum menuju Bugis, aku pun menyempatkan diri untuk memesan kopi c dan kaya toast serta menikmatinya di tepian pelabuhan. Setelah cukup kenyang, aku pun menuju Bugis menggunakan MRT. 

Hari itu sungguh panas dan ramai. Hampir semua orang lokal yang aku temui memakai baju berwarna merah. Anak-anak dengan tato bendera Singapura di pipi dan tangannya sungguh menggemaskan. Aku menunggu kakakku sembari duduk-duduk di depan pertokoan di Bugis Street. Aku memperhatikan orang berlalu lalang. Kakakku datang sekitar tigapuluh menit kemudian dengan sebuah tas besar. 

"Dek, tolong bawakan ke Batam ya," begitu katanya. 
"What? Sebanyak ini? Masa iya harus aku bawa ke Melaka?" kakakku hanya tersenyum. 

Aku pun mengajak kakakku ke hostel yang sudah kupesan di sekitar Kallang, untuk meletakkan barang-barangku sebelum bertualang menonton atraksi hari kemerdekaan. Aku memesan taksi online karena tidak memungkinkan untuk kami berjalan kaki lagi dengan bawaan yang berat serta dua keponakanku yang masih kecil yang jalannya lambat.


Aku, Kakakku & Anak-anaknya


Sesampainya di hostel, aku langsung check in dan menuju kamarku yang ternyata berada di lantai tiga. Hampir pingsan aku ketika sampai di kamar. Aku pun buru-buru menyimpang barang-barangku di loker yang tersedia. Ketika itu kamar masih sepi, hanya ada aku. Aku duduk-duduk sebentar sambil memikirkan bagaimana caranya agar tas besar kakak tidak ikut aku ke Melaka. Aku pun menghubungi beberapa teman yang bisa kumintai tolong. Salah seorang teman pun mau menolongku, dia berkata akan menjemput tasku malam hari seusai pesta bersama teman-temannya. Baiklah. 

Aku pun kembali menghampiri kakakku dan kedua keponakanku yang lucu. Si besar ketika ditanya apa dia rindu aku, dia menjawab iya. Lucu sekali. Kami pun naik bus dan berhenti di sekitaran Parliament of Singapore. Kami harus berjalan kaki cukup jauh ke Jubilee Bridge karena beberapa jalan ditutup untuk perayaan hari kemerdekaan. 

Aku berjalan bergandengan tangan dengan si besar, sementara si kecil terus berada di gendongan kakakku. Kakakku tidak kelihatan lelah meskipun berjalan jauh dengan menggendong si kecil. Aku saja hampir beberapa kali harus berhenti untuk minum dan berfoto sambil istirahat. 


Berebut Tongsis dengan si Besar


Kami berjalan cukup jauh di tengah keramaian yang membuat gerah. Kami kehabisan perbekalan di tengah jalan. Kami buru-buru agar cepat sampai di patung Merlion yang ada di dekat hotel Fullerton. Kami pun masuk ke sebuah minimarket yang hari itu dipadati pengunjung. Bayangkan, minimarket sekecil itu dan pengunjung penuh. Sesak, panas, kemudian si kecil dan si besar terus merengek bersahut-sahutan. Tidakkkkkk...tante mau pingsan iniiii!!! 

"Tante mau ini..tante please help to carry this, tante this and that," begitu si besar merengek.
"Bunda nak ini, nak itu, bunda," begitu si kecil merengek. 

Kami pun berhasil keluar dari kerumunan dengan menyangking beberapa botol minum, mi instan yang sudah diseduh dan beberapa makanan kecil lain, salah satunya adalah kacang yang ternyata mengandung pork setelah kucicipi satu gigit. Tidakkkkkk...kakakku langsung buru-buru membuangnya. Kami pun tertawa bersama. 

Jubilee bridge penuh tak berjarak. Semua orang menunggu momen-momen parade militer yang meriah. Kami berkali-kali harus menerobos rombongan orang-orang yang berkerumun tidak mau memberikan jalan. Di tengah-tengah suasana tersebut pula kami sempat berfoto..ha..ha.. 

Kami berjalan di sepanjang jubilee bridge dengan penuh perjuangan hingga tiba di ujung yang dekat dengan teater Esplanade. Semua orang bersiap dengan kamera dan tripod mereka. Ternyata pada hari itu sedang diadakan lomba fotografi internasional juga (salah satu pesertanya bertemu aku di hostel yang ternyata berasal dari Batam). Kami mencari tempat di bawah pohon untuk berteduh dan duduk menunggu parade militer. Aku sangat antusias, terutama menonton pesawat tempur.  


Semua Orang Merayakan Ulang Tahunku..ha..ha


Waktu menunjukkan sekitar 7 petang ketika parade dimulai.Untuk upacaranya sendiri dilaksanakan di tempat yang tertutup dimana hanya orang yang sudah membeli tiket saja yang diperbolehkan masuk.  Pertana-tama beberapa pesawat muncul dan beberapa penerjun akan turun menggunakan paralayang. Kemudian helikopter yang membawa bendera Singapura pun muncul dan melintas di atas teater. Terakhir mereka memamerkan pesawat tempur mereka dengan suaranya yang sangat menggelegar. Aku sangat menikmatinya. 


Penampilan Pesawat Militer Singapura 


Ketika parade militer telah selesai, acara yang kami tunggu-tunggu juga adalah pesta kembang api yang merupakan penutup acara. Namun kemudian kakakku berkata kalau dia tidak ingin ikut menyaksikan kembang api. Aku pun cemberut. 

"Kakak harus sampai rumah sebelum jam duabelas, lagi pun nampak nanti kembang api dari rumah kakak," ucapnya sambil berjalan mencari jalan menuju stasiun MRT terdekat, City Hall. 

Baiklah. Aku pun menurutinya dan mengantarkannya ke stasiun MRT terdekat. Beberapa ruas jalan ditutup sehingga kami pun harus berjalan memutar cukup jauh. Agar gerakan kami cukup cepat, aku pun menggendong si kecil dan kakak bersama si besar. Aku tergesa-gesa karena takut ketinggalan pesta kembang api. 

Setelah beberapa kali salah mengambil jalan, akhirnya kami pun sampai di stasiun MRT City Hall. Kami pun berpisah. Kucium pipi si besar dan kami pun mengucapkan selamat tinggal. Aku kembali ke teater dengan berlari-lari meskipun tidak cukup kuat. Namun sebelum sampai di teater, kembang api sudah dinyalakan dan jalan diblok. Aku hanya menyaksikan kembang api dari pinggiran jalan yang seharusnya dari dekat teater yang menghadap langsung ke Marina Bay Sands. Well, aku sedikit menggerutu karena seharusnya aku mengantar kakak lebih awal dan tidak beberapa kali tersesat. 


Salah Satu Penampakan Pesta Kembang Api


"Happy birthday to Singapore, happy birthday to myself!" begitu ucapku sambil memandang kembang api yang bermekaran di udara. Semua orang di negara ini merayakan ulang tahunku hari ini..ha..ha.. Well, getting older for sure but happier every single day :p 
 
Ketika jalan sudah dibuka, aku kembali ke teater sedangkan ribuan orang berjalan kembali ke stasiun MRT. Aku seperti melawan ribuan orang tersebut..ha..ha.. Aku mencari tempat duduk di atas rerumputan untuk duduk santai menikmati live music dari panggung dekat teater. Sesuatu yang membuatku terpana ketika itu adalah tidak ada sebuah sampah pun yang tertinggal padahal ribuan orang ada di tempat itu sebelumnya.

Hari itu kututup dengan menikmati secangkir kopi c dan roti bakar kaya dari Toast Box sebelum akhirnya kembali ke hostel. Once again, happy birthday to Singapore and myself


Nos vemos,

Kirei Khan




Wednesday, 8 July 2020

FLASH HOLIDAY IN LANGKAWI

I've been heard the name of Langkawi since 2013, when I worked in previous company, because one of our Chinese supervisor could not say Tontowi (a name of our vendor), and he always called him Langkawi. I was so curious about Langkawi. My supervisor told me that Langkawi is one of the island in Malaysia. I started browsing about it and I was amazed because it is a beautiful island. 

I asked my mum whether she know about Langkawi. She said that his ex-boss used to visit that island for diving with his students. I got more curious. I thought that I want to visit that island, but I didn't know how can I make it happen because I was still a student. 

2017

I got more curious about Langkawi. On July, I kept checking the price of flight with AirAsia from Singapore to Langkawi. It kept changing every day. One day, I finally made my booking on AirAsia. The price was around 70 Singpore dollar for round trip Singapore - Langkawi - Singapore. I told a friend about this and he was shocked. 

"This is cheap mate!" he said.
"Oh, yes finally I will make my trip to Langkawi," I responded him excitedly. 

Every day after I booked the flight, I kept checking on the internet about what the best activities to do in Langkawi for a short visit. I checked Google Map with earth view so I could at least know what Langkawi looks like. I also planned to rent scooter to go around the island. 

In October, I was a little bit confuse about what to do because my holiday schedule collided the annual audit. I told my boss about this and finally he arranged my audit schedule on first day so I can enjoy my holiday (honestly I felt a little bit guilty because I left office for holiday during the audit). 

November 7th, 2017

I woke up early to take shower and prepare my bag. I ordered online taxi to go to Sekupang ferry terminal. It took around 45 minutes from Sekupang to Harbourfront Ferry terminal in Singapore. I was so excited. Once I arrived in Harbourfront Singapore, I took breakfast in the food court nearby (of course coffee and toast). 

I took train from Harbourfront Center to Changi Airport. First, I took the North East Line (Purple Line) to Outram Park. Once I reached Outram Park, I walked to the East West Line (Green Line) and took the train (choose the one towards Pasir Ris). The train stopped in Tanah Merah MRT station and from there I changed the train towards Changi Airport. It was easy to travel by MRT in Singapore. 

Once I reached Changi Airport MRT, I followed the sign to the shuttle bus stop to Terminal 4. It took around 10 minutes from Terminal 1 to Terminal 4 by shuttle bus. That time, AirAsia was in their first operation in Terminal 4 (Terminal 4 just opened in that time). By the time I wrote this blog, AirAsia is temporary moved their operation to Terminal 1. 

Flights from T4 Changi Airport


The check in process was smooth. I was worried because this was my first time flying with AirAsia and I didn't buy any baggage. Finally I could go to the waiting room for departure. I was super excited. 

Flight from Singapore to Langkawi took around one and half hours. Once I reached Langkawi Airport, the weather was clear, the sky was blue. I went to the immigration line. I didn't see any other Indonesian and I was feeling lonely. That was my first time to fly a little bit far from my country ha..ha..
Many of the people in the line with their partners (husband, boyfriend or friends). 

People with their family

Once I talked to the immigration officer, he looked doesn't believe that I came there for holiday. He asked me my return ticket, hotel booking and my plan. Lucky I didn't feel nervous to answer all of his question. He finally chopped my passport. Yeayyyy welcome to the paradise I've been dreaming of ha..ha..

For your information, at that time Langkawi didn't have any public transportation except taxi. I didn't use online transport much as well. So I chose airport taxi. I paid around 25 ringgit from the airport to Pantai Cenang, where I booked my hostel. I booked the taxi from the counter in the airport front door. I was a little bit confuse when I waited the taxi. In my mind was normal taxi like in another place. When the taxi arrived in front of me, I didn't notice that it was the taxi. 


Taxi in Langkawi, source: Google 


The taxi driver called me and I was in shock ha..ha.. 
Well, I was the only one in that taxi, with the driver. I felt like a private car. It took around 15 minutes from the airport to the hostel. I stayed in Rainbow Lodge Guesthouse which located 5 minutes walk to Pantai Cenang. I stayed in the shared room which only separated by temporary wall and curtain. Men and women stayed in the same room. Everything in Langkawi was all of my first experience like flying a little bit far from Indonesia, staying in the shared room, renting motorcycle and so on. 

Everyone in the room was so friendly but I was too shy to talk to them. I only talked to a girl from Spain, she traveled alone all the way from her country. I was amazed by her and I told her that I am learning Spanish. But that time my Spanish level was only hola and adios ja..ja..ja.. 

I spent my first day in Langkawi for being lazy. Once I reached the hostel, I cleaned up myself, I unpacked my bag, read my book a bit and had a nap for an hour. I made alarm so I woke up around 5. I went for a walk to Pantai Cenang. I knew from the internet that the sunset in Pantai Cenang is beautiful. There were many shops which sell , hostels, hotels, restaurants and many of street food vendors along the beach walk. My new friend, Hafeez (I met him in the evening), who worked there said it likes Pantai Kuta in Bali. Well, I have never been to Bali ha..ha..ha..

I saw many people enjoyed their time on the beach playing with their families, reading book, playing jet sky, taking pictures with the group of friends, and many more. I love to watch people. I walked quite far and ended up drinking coconut water and eating laksa. I waited for the sun to go down while enjoying the coconut water. Enjoyed the breeze. It was peaceful evening. 

Sunset in Pantai Cenang 

Laksa in Langkawi 

I went back to the hostel by walked along the shops. Some shops sell souvenirs but I wasn't interested to buy (well, I thought I just wanna buy chocolate for my sisters & brothers). I stopped by a shop which sell fruit salad. Looked delicious. I bought a cup but I thought it was costly, 15 ringgit for a cup..ha..ha.. While with that amount I could buy laksa and coconut water. It's ok. The taste was delicious. Tropical fruit salad. I sat down on the bench in front of the guesthouse room while eating salad. 

By that time, I saw a message request from a guy on Skout. He stayed in Langkawi and worked there. His name is Hafeez, a Sri Lankan guy. He came to my guesthouse later and we went for a walk to the beach. We talked a lot like we knew each other for long time. It was good to spent the whole evening there with a new friend. He said he will help me during my stay in Langkawi. I told him not to worried. You'll be missed Hafeez. 

November 8th, 2017

I woke up a little bit late because I was so sleepy. I took shower and got ready to the adventure. I rented a scooter from the guesthouse. It costed me 25 ringgit for 12 hours. They asked for the copy of my Indonesia driving license and copy of my passport. I had to return the scooter with fuel as full as when I took it. I spent around 4 ringgit to fill the tank. This was also my first experience to fill the fuel tank by myself. For your information, Langkawi is very safe place and we don't need to worried when we park our vehicle. But of course I always stayed safe because that's not my own bike. We need to check the vehicle before we leave the counter well because they will charge us if any damage found later. 

I brought the scooter to Langkawi Geopark. It took around thirty minutes from Pantai Cenang to there. I passed through forest, beach and some street foods vendors. I passed through some of nice hotels and local village too. I reached the Geopark entrance gate and parked the scooter there. I walked through the Oriental Village and took some pictures there. There are many shops which sell souvenirs. 

Oriental Village, Langkawi

Queue to the Sky Bridge by SkyCab

I had booked my ticket to sky bridge through here few weeks before my trip. It costed me around 55 ringgit for access to Langkawi Cable Car/SkyCab (round trip), 3D Art Langkawi & SkyRex. I went to queue with other people. We weren't allow to bring any bottled water inside, but lucky I put the bottle inside my bag and they didn't check. Don't worry, they put our bottle with our name in the entrance and once we return from the bridge we can take it back. 

I boarded the SkyCab with another four tourist. We really enjoyed the ride to the top station. From the cab I saw the eagle flying across the jungle. It was amazing that I saw elang (eagle) in Langkawi. Langkawi means the reddish brown eagle. It was quite scary because it is very high but glad I enjoyed the cab ride until the top. Once I reached the top station, I went to queue to get in to the sky bridge. We need to buy ticket here. It was 10 ringgit if we want to board SkyGlide or 5 ringgit if we want to take a little trek. I chose the trek one. It was a little bit slippery trek line after raining. It was scary too because there might me snakes, monkey or wild boar appear along the trek line. 

View from SkyCab, so foggy


After ten minutes trek, I arrived in the sky bridge. For your information, this is a 125 meters curved pedestrian bridge which located at an altitude of 660m from the sea level at the peak of Gunung Mat Cincang Langkawi and as high as 55m from the valley. To reach this bridge, we only can take SkyCab to the top station and then take SkyGlide or trekking to the bridge. This bridge can accommodate around 200 people at the same time.  

Short Trekking from the Top Station to SkyBridge


Did you know that I wanted to visit this bridge after I watched DON, a Bollywood film starred by Shahrukh Khan and Priyanka Chopra. There were some scene which taken in that place and I felt amazed because I was there, on the place Shahrukh Khan played in his film..hi..hi..
Unlucky because that day was so foggy. It was rainy season. The visibility was only few meters. But the fog was come and go, so I could take some clear pictures. 

Me on the bridge


I really enjoyed walking on the bridge. I saw many monkeys there. They enjoyed playing each other. But, don't forget we are not allowed to tease or give them food. Watching them playing was really nice moment because they were so funny. There is glass floor on the bridge where we can see the hill below when the weather is clear. I did enjoy my time in the bridge. There were so many people on that day. 

Glass Floor on the Bridge


I went back to the main station together with two Palestinian guys in the SkyCab. We talked a bit about our countries. I remember his name was Yasin and I forgot his brother's name. Sadly we didn't talk much. 

Once I reach the main station, I walked to 3D Art Museum Langkawi. This hailed as the largest 3D art museum in Malaysia and second largest in the world. It would be better if I visit this place with a friend because there are so many 3D arts where we can take fun and nice pictures. I took some interesting arts there. I suddenly met a woman in the same age as my Mum or older. She flew all the way alone from Johor. She told me that she want to go for a vacation but her children never take her. It's quite sad. 

3D Art Museum Langkawi


I helpt her to take pictures in some spots. She looked so happy. She helpt me too to take some nice pictures. I was about to say goodbye to her but she didn't stop talking about her..ha..ha..
I decided to run to toilet and told her I needed to pee. She said OK and we said goodbye to each other. *FingerCrossed
I didn't enjoy the place much because I thought I need friend to come with. It's ok. I just tried to take some nice pictures there and walked to the last zone (in the 3rd floor). 

Best Picture I could Take


The last thing I visited in the Oriental Village is SkyRex. The queue was very long and it took around 30 minutes to wait to get my turn. I would like to say that I love being in this place. It was only less than 10 minutes ride. A tracked tram which can carry around 30 people, carried us inside the dinosaur island.

I felt like in the Jurassic Park where some dinosaurs tried to attack me. This adventure brought adrenaline rush as it takes sensory and physical simulation to the whole new level. Sadly it was too short for me ha..ha..

I finished from the Oriental Village quite late from my schedule because I still needed to catch sunset in Tanjung Rhu beach. I continued to ride to Tanjung Rhu. Based on the map I checked last time, I think I remember the way to Tanjung Rhu. I rode back my scooter but I felt confuse when there were a junction. My smartphone was in low battery condition (I didn't bring power bank). 

I stopped in Teluk Yu beach when my smartphone finally off. I still have a small phone (without internet access) and I tried to call Hafeez. I tried to explain Hafeez about my location but he didn't get me. Sighed. I decided not to go to Tanjung Rhu as the day getting darker and colder. I didn't bring jacket. After I asked to the street vendor's lady nearby, I tried to find the way back to Pantai Cenang, where I stayed. 

I was lost! 
Almost an hour I was on the way, rode the scooter in the dark. OMG, I really wanted to cry. My phone was totally off. I tried to ask people. Still I lost. I stopped for a while to take a deep breathe and thought about where to go. Lucky I saw a sign board somewhere and I followed it. After long journey, I arrived at Pantai Cenang area. Soooooo happy and tired! I was scared that I could not return back..ha..haa..

I headed to Cenang Mall and chose KFC for my big dinner. I was starving. I took cola, big fried chicken and potato wedges. I ate all greedily with a cat beside my table. I sat for a while and watched people around the mall. It was so noisy. Honestly, I don't really like noisy and crowded place. I moved to a shop which sell chocolate, Perniagaan Haji Ismail. For your information, Langkawi is duty free island, everything is cheap here, included chocolate. I regretted that I didn't buy baggage for my flight, so I could only buy a few packs. 

I headed back to guesthouse, returned the scooter key, cleaned up and slept. 

November 9th, 2017

My very last day in Langkawi, as I had to flew back to Singapore around 10 am. I re-packed my bag and booked guesthouse's taxi. Headed back to airport and said goodbye to the beautiful Langkawi. Oh, I am gonna miss that island! I love you Langkawi. 



Nos vemos,

Kirei Khan




Bonus Picture from me lol