Monday, 16 November 2020

HAMPIR TERJEBAK DI CHANGI BEACH, SINGAPURA

Hari itu, Jum'at ... Februari 2019. Aku sengaja mengambil cuti sehari di akhir pekan untuk menikmati akhir pekan di Singapura. Berangkatlah aku Jum'at pagi dari Pelabuhan Batam Center setelah memarkirkan skuterku di parkiran Mega Mall (ini menjadi kebiasaanku kalau aku day trip atau menginap semalam di Singapura).

Sebelumnya, aku sudah janjian dengan Sara, teman baruku (ceritanya ada di tripku yang ke Krabi). Aku baru sadar ketika mengecek nomor Whatsapp nya, kalau dia tinggal di Singapura. Sara bekerja di sebuah restoran Thailand di daerah Pasir Ris, nggak jauh dari rumahnya. Hari itu Sara di shift pagi dan selesai sekitar jam 3 sore. Kami janjian untuk langsung ketemu di Changi Bach saja.

Sesampainya di Harbourfront, petugas imigrasi seperti biasa menanyaiku. Dia kelihatannya heran kenapa aku pergi ke pantai sendirian. Why not? Pikirku. Tapi tetep sih, buat dapat stempel dari imigrasi negara tujuan itu bikin deg-degan. Tetapi alhamdulillah selama ini aku selalu lancar tidak ada kendala. Setelah dapat stempel, aku pun langsung keluar dan langsung menuju ke stasiun MRT.

Dari Harbourfront aku menuju Outram Park dulu, lalu ganti kereta ke East West Line (yang warna hijau). Setelah kereta sampai di Tanah Merah, semua penumpang berhenti untuk ganti kereta, ada yang ke Pasir Ris dan satu lagi ke Changi Airport (jangan salah ya pilih yang Pasir Ris). Pasir Ris itu pemberhentian terakhirnya. Sampai di stasiun, aku langsung nyari warung makan. Sambil makan, aku cari informasi bus yang harus aku naiki untuk ke Changi Beach. 

Setelah kenyang, aku bangkit untuk mencari halte bus yang dimaksud Google. Sempat kacau karena di sana juga ada terminal bus. Aku sempat muter-muter bingung sebelum akhirnya ketemu halte bus yang dimaksud. Cuaca hari itu panas dan sialnya aku lupa bawa kacamata hitam. Hemmmm kok bisa-bisanya mau ke pantai lupa kacamata hitam. 

Berhubung itu hari kerja, jadi keadaan masih sepi. Di halte aku sendiri, di bus pun hanya beberapa penumpang saja. Aku berusaha biar nggak ketiduran selama di bus karena akan gawat kalau sampai kelewatan. Menurutku, aku seharusnya berhenti di Changi Beach Park. Tetapi setelah melihat peta bus, ternyata banyak bus stop nya. Mulai dari Changi Beach CP 1 sampai 4. Sialnya, aku buru-buru memencet bel sebelum Changi Beach CP 1 yang artinya aku harus turun di Changi Beach CP 1 (nggak harus sih, cuma karena penumpang sedikit dan cuma aku yang pencet bel, mau nggak mau ya turun). Baiklah.

Adem tapi berangin

Setelah turun.....eng ing enggggg.... itu pantai atau apa sepi banget. Aku sampe bingung mau ke mana, mau ngapain. Astagaaaa aku linglung. Akhirnya kuputuskan untuk jalan-jalan menyusuri taman pinggir pantai yang lumayan berangin. Niat awal ke sini memang selain ketemu dengan Sara, juga ingin duduk di pinggir pantai dan baca buku dan plane spotting. Tapi bayangan untuk baca buku sepertinya musnah karena tempat yang berangin (yang ada sibuk ngurusin buku yang ketiup angin terus). Posisinya juga kurang tepat untuk plane spotting. 

Sialnya hari ini kenapa aku bisa kepikiran sok cantik buat pakai wedges. Alhasil aku jalan kaki nyeker sampai lumayan jauh sampai ketemu spot yang bagus untuk melihat pesawat wara-wiri dari dan ke Changi Airport. Tepat di belakang gudang kargo bandara, akhirnya aku bisa duduk santai memandang orang-orang yang asyik main kite surfing dan memancing. Nggak ketinggalan orang pacaran yang berjarak kurang lebih dua meter dari tempat dudukku. hahahahaha

Mancing

Aku sempat baca beberapa halaman buku yang aku bawa sampai kemudian aku terima Whatsapp dari Sara. Dia ngabarin kalau nggak bisa datang ke Changi Beach dan bakalan nunggu di stasiun Paya Lebar buat dinner sekitar jam 6. Baiklah Mbak. Kemudian aku pikir aku bisa nih lama-lama di pantai ini sambil ngadem.

Aku jalan sambil kamera hapeku standby untuk ambil foto pesawat-pesawat yang lewat. Seru sih karena Changi Airport itu sibuk banget. Kayaknya selama aku di sana udah ada puluhan pesawat yang lewat. Aku ambil banyak foto dan aku sisihkan beberapa foto yang lumayan bagus. 

Foto pesawat terbaik yang pernah aku ambil 😂

Waktu lagi asyik foto-foto, tiba-tiba Sara kirim pesan kalau dia udah di jalan ke Paya Lebar. What? Baru jam 5 kurang loh, janjiannya kan jam 6. Tapi mataku sambil cek keadaan sekitar, ternyata nggak ada bus yang lewat. Jangan-jangan.....????  Tanpa pikir panjang aku pun memutuskan nanti pesan taksi online aja. 

Aku masih asyik menonton pesawat dan sempat ke toilet agak lama. Setelah selesai, aku langsung buka aplikasi taksi online. Yes, langsung dapat. Aku langsung kasih titik lokasi penjemputan. Ternyata menit demi menit berjalan, taksi itu nggak muncul juga, dan nggak balas pesanku juga, plus nggak bisa ditelepon. Dengan sangat terpaksa aku batalkan. 

Aku coba cari lagi, dan dapat lagi. Lalu sama lagi, setelah beberapa menit nggak ada respon. Aku batalkan lagi. Duh. Aku sempat galau. Sampai aku pilih beberapa opsi kayak hitchhiking. Tapi nggak ada yang nongol. Aku sempat panik tapi tetep optimis. Aku jalan balik ke tempat semula, kupikir bakal ada yang nyantol, nggak juga. 

Akhirnya aku jalan kaki lagi ke halte SAF Ferry Terminal. Setelah aku tunggu lumayan lama ternyata nggak ada satu bus pun yang lewat. Akhirnya setelah putus asa, aku telepon salah satu temanku untuk bantu pesan taksi online. Jeng..jeng..jeng...langsung nongol tanpa basa-basi. Aku sempat kesel sih kenapa kok aku nggak bisa ya. Jadi nggak enak ngerepotin temenku (lagi meeting pula waktu itu 😂). 

"Kamu nggak usah bayar, itu udah kubayar ya," begitu kata temenku lewat Whatsapp.

"Eh, seriusan? Nggak usah, pokoknya aku utang sama kamu ya, ingetin kalau ketemu," aku kaget sih.

"Alah kayak sama siapa aja."

Seneng tapi ngerasa nggak enak. Pokoknya nanti aku ganti kalau ketemu. Karena dia aku nggak jadi terjebak di pantai itu. 

Perjalanan ke Paya Lebar lumayan lama soalnya macet banget (maklum weekend). Untuk drivernya baik banget jadi aku nggak ngerasa bosan di jalan. Sepanjang jalan kami ngobrol banyak tentang Indonesia. Ternyata dia punya sodara orang Jawa juga makanya sedikit-sedikit tahu Bahasanya. Aku bangga deh. 

Ini drivernya cewek ya 😁

Sampai di Paya Lebar dan ketemu Sara, kami pun langsung pesan makanan kami masing-masing. Aku pesan nasi goreng yang entah rasanya hambar banget. Sedikit menyesal. Sara pesan mi sebakul yang dia sendiri nggak sanggup ngabisinnya terus dihibahkan ke aku. Alhasil aku kekenyangan dan nggak sanggup buat jalan. 

Dari Paya Lebar ke Expo

Setelah makan dan chit-chat, aku akhirnya mutusin buat nginep karena nggak mungkin lagi buat pulang (udah malam banget). Sebelum pulang ke hostel, aku dan Sara belanja di Expo. Sara nunjukkin tempat belanja yang murah-murah di sana. 

Selonjoran sebelum pulang

Sebelum kami berpisah, kami duduk-duduk di mall sambil meluruskan kaki. Sara ketawa lihat aku pegel-pegel dan karena aku pakai wedges. Aku meringis kesakitan. Okay nanti aku buang aja wedges ini. 😂😂


Nos vemos,

Kirei Khan


Monday, 9 November 2020

FIVE HOURS IN BINTAN

It was sunny Saturday morning in April 2019. My colleague from Jakarta, Mbak Sherlie came to Batam for a day trip to collect some documents from customer. Our office's driver picked her up from the airport while I was waiting at the office.  

Once she arrived in office, we went together to our client office in Kawasan Industri Kabil to collect the documents. We waited for quite long there in silent because their office was so quiet. After around thirty minutes, they were sorry to informed that we could not collect it because of some troubles. We meant to go to Bintan after collect it because Mbak Sherlie should go back to Jakarta at the same day (evening flight). 

Long story short, we decided to go to Bintan while waiting the documents to be settled. We asked our driver to drop us in office then we went to Punggur Port by my scooter. 

We parked our scooter at the port's parking lot and bought two of two tickets to Tanjung Uban Port by speedboat. It costed around fifty thousand rupiah. By speedboat, it takes around 15-20 minutes from Punggur to Tanjung Uban, much faster than by RoRo. For those who have short time, I advice you to take this option (even a bit costly). 

We departed from Punggur around 10.30 and arrived around 10.50. Once we arrived there, we rent a scooter from an ojek driver there. It costed 25.000 per hour exclude fuel. I remember we only filled the tank 20.000. Mbak Sherlie left her ID card to the driver and he shared his phone number in case something happen during the rent. 

Our destination was Lagoi Bay. I had been told by a friend of mine, Mas Joko, that from Tanjung Uban to Lagoi Bay should be taken around an hour. But our actual trip was two hours!!!!  😂😂 


Me at Lagoi Bay

Well, with the help from Google Map, we finally arrived in Lagoi Bay safely. The road was so quiet and best for road trip. I really enjoyed the ride even I had so painful butt after 😓 

We had a bit stop during our way to Lagoi Bay. We freely took picture in the middle of the road because no vehicle passed at that time. Don't worry, it is a safe place for traveling, even solo. 

Me, in the middle of the road in Bintan 😍

Sadly, there were so many forest burning along the way. We could see in the right side and left side. 

Can you see forest burning behind me? 😓

We had lost somewhere before we arrived in the right destination. Two hours!! We parked our scooter and made sure it is safe. It took quite long from the parking lot to the beach. We passed some empty shops and playground. It was free to enter the beach. 

Lagoi Bay is a tourist area in Bintan which completed with beach, resort, hotel and plaza. The most interesting thing is the beach. It is typical beach in Bintan with the white sand, clear water and calm waves. Lagoi itself known with its resorts and expensive life because they uses Singapore dollar standard. 

Some of my friends who live in Singapore been to Bintan so many times, much often than to Batam. Bintan is well-known in Singapore. 




We played and took some pictures at the beach before ate our lunch under a tree. We bought nasi lemak and some snacks at Punggur port before we departed. After lunch, we took some more pictures at the beach but unlucky, rain suddenly came and we ran to a shop. 

Before lunch under the tree

We had some ice cream and snacks in front of the shop while waiting for the rain to stop. We talked each other and kept updating the documents status from the client. 

Once the rain stopped, we walked back to the parking lot and rode back to the port. It was surprising me that the journey back took shorter time, an hour only, through the same road. 

We returned back the scooter to the driver and took the ID card back. We departed back to Punggur around four and rode back to office with tired and happy face. Such a short and nice adventure. 


Nos vemos,

Kirei





Sunday, 8 November 2020

REVIEW BUKU KIREI: THE KITE RUNNER OLEH KHALED HOSSEINI

Hai semua...aku kembali lagi dengan review buku yang lain. Kali ini sebuah novel yang mungkin kalian semua udah pada tahu ya. Novel ini adalah salah satu novel yang bisa bikin aku nangis. Kebayang nggak baca novelnya aja nangis? 



Judul buku            : The Kite Runner 
Penulis                   : Khaled Hosseini                           
Penerbit                 : Bloomsbury Publishing, London                    
Tahun terbit           : 2018 Edition
Bahasa                   : Bahasa Inggris 
Jumlah halaman   : 340 halaman
ISBN                        : 978-1-5266-0473-6
Tempat beli            : MPH Bookstore, Senai Airport, Johor Bahru

Aku pikir beberapa dari teman-teman pasti sudah mengenal siapa Khaled Hoessini. Beliau adalah seorang penulis kelahiran Kabul, Afghanistan yang sekarang menetap di Amerika Serikat. The Kite Runner merupakan novel pertamanya yang kemudian begity laris di pasaran hingga diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Hosseini yang sebelumnya berprofesi sebagai dokter kini menjadi duta persahabatan UNHCR dan telah mendirikah The Khaled Hosseni Foundation yang banyak membantu pengungsi Afghanistan untuk mendapatkan fasilitas kesehatan, pendidikan, rumah, dan lain-lain. 

"There is only one sin, only one. And that is theft. Every sin is a variation of theft." (Baba to Amir) - "Hanya ada satu dosa, hanya satu. Dan yaitu adalah pencurian. Setiap dosa adalah bentuk lain dari pencurian." (Baba kepada Amir)

"When you kill a man, you steal a life. You steal his wife's right to a husband, rob his children of a father. When you tell a lie, you steal someone's right to the truth. When you cheat, you steal the right to fairness." (Baba to Amir) - "Ketika kamu membunuh seorang laki-laki, kamu mencuri sebuah kehidupan. Kamu mencuri hak istrinya atas suaminya, merampok seorang anak dari ayahnya. Ketika kamu mengatakan kebohongan, kamu mencuri hak seseorang atas kebenaran. Ketika kamu melakukan kecurangan, kamu mencuri hak atas keadilan." (Baba kepada Amir)

"A boy who won't stand up for himself, becomes a man who can't stand up to anything." (Baba to Rahim Khan for Amir) - "Seorang anak laki-laki yang tidak mau berjuang membela dirinya sendiri, menjadi seorang pria yang tidak bisa berjuang membela apapun." (Baba kepada Rahim Khan untuk Amir)

Berlatar di tahun 1975, novel ini menceritakan tentang seorang anak laki-laki berumur 12 tahun di Afghanistan yang bernama Amir dan persahabatan dengan anak laki-laki dari pelayannya yang bernama Hassan. Bagaikan saudara, Amir dan Hassan seolah tak terpisahkan. Mereka sering mengabiskan waktu bersama. Amir serin membuatkan cerita-cerita untuk Hassan yang membuat Hassan selalu terkagum-kagum. 

Di Afghanistan, ada sebuah festival pertarungan layang-layang yang sangat diminati Amir. Amir selalu berusaha untuk bisa memenangkannya. Setelah berkali-kali kalah, Amir pun ingin menyerah. Namun sebagai seorang sahabat, Hassan berjanji untuk membantu Amir. Ketika Hassan berhasil menangkap layang-layang dengat tepat, ada sebuah peristiwa yang tidak disangka oleh Hassan maupun Amir yang kemudian memecah belah persahabatan dan kehidupan mereka.

Setelah Rusia menyerang Afghanistan, keluarga Amir terpaksa pindah ke Amerika. Amir menjalani kehidupannya di Amerika namun menyadari bahwa suatu hari dia harus kembali ke Afghanistan yang pada saat itu dibawah kuasa Taliban. Amir harus tetap kembali untuk menebus kesalahannya pada Hassan. 

Menurutku, novel ini hampir mendekati sempurna. Meskipun mengangkat tema yang cukup sensitif dan pernah menjadi kontroversi di Afghanistan, novel ini memiliki banyak peminat dan pernah diadaptasi menjadi film dengan judul yang sama. 

Novel ini salah satu dari beberapa novel yang berhasil membuatku menangis ketika membacanya. Bayangkan, hanya membaca saja bisa membuat kita menangis? Karena kita disajikan beberapa gambaran Afghanistan ketika konflik. Hosseini berhasil menghipnotisku. 

Novel yang ditulis dalam Bahasa Inggris ini memang memiliki beberapa bagian yang sulit kumengerti karena bahasa yang terlalu "berat" sehingga aku memerlukan beberapa waktu untuk menamatkannya. Tetapi ketika kalian sudah "kecemplung" masuk membacanya, kujamin kalian tidak akan berhenti, ikut mengalir bersama Amir dan Hassan. 

Banyak pelajaran hidup yang dapat kita ambil dari novel ini. Berikut yang dapat aku rangkum:

- Jangan pernah berbohong kepada diri sendiri, selalu ungkapkan apa yang kita inginkan, rasakan
- Bersikaplah berani menghadapi segala sesuatu meskipun sulit
- Jadilah sahabat yang setia, meskipun kau telah disakiti, tetaplah menjadi baik dan jangan membalas dengan kejahatan

Secara keseluruhan, aku menyukai jalan ceritanya, penokohannya, latar waktu dan tempat yang digunakan, kesemuanya sangat hidup. Aku sangat merekomendasikan novel ini untuk kalian baca tidak hanya untuk mengisi waktu luang, tetapi untuk diresapi maknanya dan diambil pelajaran berharganya. 


Selamat membaca,

Kirei Khan




Monday, 2 November 2020

REVIEW BUKU KIREI: 1Q84 OLEH HARUKI MURAKAMI

Hai semua, kali ini aku mau belajar review untuk buku-buku yang pernah aku baca biar tidak hilang dari ingatan begitu aja. Alasan lain yaitu biar teman-teman semua tahu gambaran buku-buku yang akan kalian beli atau baca. 

Untuk review pertama, dari beberapa buku yang ada di rak aku, aku pilih 1Q84 karena baru banget aku baca dan masih menempel di ingatan betapa serunya membaca buku ini. 




Judul buku            : 1Q84
Penulis                   : Haruki Murakami                           
Penerbit                 : Vintage International, New York                    
Tahun terbit           : 2011
Bahasa                   : Bahasa Inggris 
Penerjemah          : diterjemahkan dari Bahasa Jepang oleh Jay Rubin dan Philip Gabriel
Jumlah halaman   : 1157 halaman
ISBN                        : 978-0-307-47646-3
Tempat beli            : Toko Buku Popular Vivo City, Singapura 

Well, aku rasa sepertinya sudah banyak yang mengenal sosok Haruki Murakami, penulis asal negeri sakura yang sudah banyak mendapatkan penghargaan di bidang sastra. Buku-bukunya juga sudah diterjemahkan dalam beberapa bahasa di dunia. 

Aku sendiri baru mengenal Murakami sekitar enam tahun lalu ketika tanpa sengaja aku membeli bukunya yang berjudul Norwegian Wood, yang sekarang menjadi buku favoritku. 

Buku ini bercerita mengenai seorang gadis berusia berkisar tiga puluhan yang bernama Aomame, yang tanpa sengaja telah memasuki dunia aneh, setelah menuruni anak tangga di Metropolitan Expressway. Dunia aneh yang diciptakan oleh Little People ini memiliki dua bulan yang menggantung nyata di langit. Dunia ini juga yang tanpa sengaja dimasuki oleh Tengo, cinta masa kecilnya, yang membantu seorang gadis SMA menuliskan kembali novelnya yang berjudul Air Crysalis. Penulisan novel inilah yang kemudian membangkitkan kemarahan Little People hingga mereka mengancam akan menyingkirkan orang-orang terdekat Tengo, termasuk cinta masa kecilnya, Aomame, yang sudah tidak pernah dijumpainya sejak dua puluh tahun berlalu. Little People sendiri adalah bagian dari sekte keagamaan, Sakigake, yang ada pada saat itu. Mereka marah karena keberadaan mereka telah disebarluaskan oleh orang yang tidak tahu apa-apa yang kemudian dipaksanya masuk ke dalam dunia mereka. 

"Like it or not, I'm here now, in the year 1Q84. The 1984 that I knew no longer exist. It's 1Q84 now. The air has changed, the scene has changed. I have to adapt to this world-with-a-question-mark as soon as I can. Like an animal released into a new forest. In order to protect myself and survive, I have to learn the rules of this place and adapt myself to them."

Ada banyak peristiwa yang kemudian terjadi setelah Aomame menuruni anak tangga di Metropolitan Expressway yang membuat Aomame akhirnya ikut terlibat dengan Little People. Dia pun merasa galau ketika dihadapkan pada pilihan yaitu melupakan Tengo dan pergi jauh ke tempat yang tidak dikenalnya dengan mengganti identitas atau membiarkan Tengo mati. 

"I'm going to get you, Miss Aomame. You are quite clever, to be sure. Skilled, and cautious. But I'm going to chase after you until I catch you. So wait for me. I'm heading your way. Can you hear my footsteps? I don't believe you can. I'm like tortoise, hardly making a sound. But step by step, I am getting closer."

Begitulah ketika seorang detektif suruhan Little People, Ushikawa, berusaha mengejar Aomame. Aomame yang dalam persembunyianya dari Ushikawa mulai merasa gelisah karena waktunya semakin dekat dengan keputusan mana yang harus diambil. Tidak bertemu dengan Tengo sama sekali, atau membiarkan Tengo mati.

Hal yang aku sukai dari novel ini adalah ceritanya yang membuat penasaran setelah membuka halaman demi halaman. Aku membaca novel ini di tahun 2020 pertengahan, dimana dunia sedang dilanda kecarut-marutan, hingga aku sendiri membayangkan bahwa dunia di tahun ini seperti dunia yang dimasuki Aomame dan Tengo. Saking aku menghayati ceritanya. Aku merasakan bahwa mereka benar-benar ada di dunia ini dan aku ada di dalamnya juga. 

Novel ini diterjemahkan dari Bahasa Jepang ke Bahasa Inggris oleh dua penerjemah yang berbeda. Menurutku, di bagian depan masih sedikit membingungkan untuk kubaca, namun setelah lebih dari setengah buku, terjemahan semakin mudah dipahami. Namun yang paling membuat gemas adalah cerita di bagian akhir yang terkesan diulur-ulur sehingga membuatku sedikit kesal, menguras emosi lebih tepatnya yah 😂

Secara umum sejak aku membaca Norwegian Wood (akan aku bahas di review lain nantinya), aku menyukai cara Murakami menuturkan cerita. Mengalir, apa adanya dan sangat detil. Aku paling suka cara Murakami menggambarkan tokoh dalam novel. Dalam novel ini pun begitu. Bagaimana Aomame, bagaimana Tengo, bagaimana Ushikawa, Komatsu dan lain lain. Selain dari ciri-cici fisiknya, kebiasaan dan keahlian yang dimiliki setiap karakter pun tertulis jelas. 

Latar tempat yang dibuat Murakami adalah tempat-tempat yang nyata dan digambarkan secara detil. Seperti Metropolitan Expressway Number 3, apartment Tengo di Koenji, Koenji Station, beberapa bar, hotel dan lain sebagainya, yang berlatar di tahun 1984 dengan beberapa peristiwa lain yang membarenginya. Ini yang membuat novel 1Q84 semakin hidup dan terlihat nyata. 

Novel 1Q84 yang dalam Bahasa Indonesia terdiri dari tiga buku yang jika dijejerkan sampulnya akan membentuk gambar bulan. Namun buku yang aku baca dalam versi Bahasa Inggris hanya ada satu buku yang terdiri dari tiga bagian. Tebal novel yang lebih dari seribu halaman Novel ini diceritakan dari sisi Aomame dan Tengo serta tokoh Ushikawa di buku ketiga. Aku membutuhkan waktu sekitar empat bulan untuk menamatkannya karena memang aku baca ketika ada waktu luang meskipun dibayang-bayangi rasa penasaran. 

Banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari novel ini. Dari tokoh Tengo kita bisa belajar hidup sederhana tanpa ingin dibebani hal-hal yang tidak penting. Dari Aomame kita belajar untuk berpendirian kuat dan tidak terpengaruh kepada orang lain. Dari Ushikawa kita belajar untuk bekerja keras namun tetap berhati-hati dan fokus pada tujuan. Masih banyak lagi tokoh-tokoh yang memberikan pelajaran berharga lainnya. 

Novel ini cocok sekali dibaca oleh orang yang menyukai cerita cinta yang dibumbui misteri. Namun jangan berharap novel ini mempunyai konklusi yang indah atau sebagaimana cerita lain dengan akhir tertentu. Akhir cerita ini terkesan biasa saja, namun justru yang indah adalah bagian isinya. Oleh sebab itu, kalau kalian punya kesempatan baca buku ini, jangan lewatkan selembar pun ya. 



Selamat membaca,

Kirei Khan