Wednesday, 15 April 2020

DI TENGAH HUTAN BERDUA DENGAN ORANG ASING


"Beep..beep..” ponselku bergetar. Sebuah pesan Whatsapp masuk.

“Mbulll..kamu baik-baik aja kan? OMG aku lihat video kamu di tengah hutan sama orang asing? Kamu gila ya? Berani banget kamu!”

Begitulah kira-kira isi pesan Whatsapp rekan kerjaku di kantor lama yang sudah seperti kakakku.
Aku langsung membalas, “I am okay, Kakak”.

Kamis, 7 November 2019
Jum’at pagi yang indah. Aku sengaja bangun agak siang karena masih agak lelah karena perjalanan yang cukup panjang dari Batam ke Bandara Senai di Johor melalui Singapura, kemudian terbang ke Penang selama kurang lebih satu jam dan menuju penginapan di George Town menggunakan bus selama kurang lebih satu jam.

Aku sengaja memilih waktu mandi agak siang karena sudah sepi di hostel. Setelah bersiap-siap aku pun langsung melangkah keluar hostel, menyambut matahari pagi menjelang siang yang cukup menyengat di Penang.
Aku mencari tempat makan yang menjual makanan halal dan setelah bertanya ke pemilik minimarket yang aku hampiri untuk membeli camilan dan minuman, aku pun makan di sebuah warung makan yang letaknya di seberang Masjid Kapitan Keling, namanya Mek Corner. Aku pun mencicipi lontong dengan kuah kacang dan beberapa kue, juga teh tarik.
Ini dia tempat sarapan pagiku 


Menu sarapan pagiku di Mek Corner 

Setelah kenyang aku pun menuju ke terminal Komtar untuk mencari bus menuju Taman Nasional Penang di Teluk Bahang. Seharusnya tidak terlalu jauh kalau aku berjalan, tetapi aku sedikit malas jadi aku memilih Grab dengan ongkos sekitar 5 ringgit.

Sesampainya di Komtar, akan ada beberapa line bus dengan tujuan masing-masing. Aku menuju line bus nomor 101 setelah Zhwan, seorang temanku, memberitahuku. Oh iya, ngomong-ngomong tentang Zhwan, dia itu temanku yang aku kenal melalui aplikasi Couchsurfing. Pada awalnya kami sudah menyusun rencana tentang apa saja yang akan kami lakukan di Penang. Akan tetapi, akhir bulan Oktober, Zhwan harus kembali ke negaranya di Irak karena kontraknya dengan USM tidak diperpanjang. Pergi ke Taman Nasional Penang adalah salah satu rencana kami. 

Tidak lama kemudian bus yang aku tunggu pun datang. Tetapi..oh tidak, antriannya panjang banget. Baiklah, aku pun tidak dapat tempat duduk dan terpaksa berdiri berdesakan dengan penumpang lain yang merupakan turis dan juga warga lokal. Perjalanan dari Komtar menuju Teluk Bahang (pemberhentian terakhir dari bus 101) memakan waktu sekitar satu jam, dan hampir separuh perjalanan aku habiskan dengan berdiri. Ongkos busnya berkisar 4 ringgit. 

Aku masih bingung bagaimana caranya nanti aku akan berjalan sendirian di dalam hutan. Aku pun mulai bertanya ke beberapa penumpang yang berdiri di dekatku apakah mereka akan pergi ke Taman Nasional Penang atau Monkey Beach. Ternyata tidak ada satupun dari orang yang aku tanyai akan pergi ke sana. Sedih. Kemudian mataku tertuju pada cowok mungil dengan ransel di dekat kakinya. Mataku pun berbinar-binar sambil membatin bahwa dia pasti turis dan mungkin akan pergi ke Taman Nasional Penang. Namun karena posisi berdiri kami agak jauh, jadi aku belum bisa bicara dengannya. 

Ketika beberapa penumpang turun, aku melihatnya menuju pintu. Aku hampir kecewa dan sedikit berdoa dalam hati semoga cowok itu tidak ikut turun. Ternyata benar, dia memilih tempat duduk paling belakang, dan di saat yang bersamaan aku pun akhirnya mendapatkan tempat duduk setelah sekitar setengah jam berdiri. Aku sangat menikmati perjalanan menuju Taman Nasional Penang. Walaupun jalanannya berkelok-kelok sedikit menegangkan, aku bisa melihat pantai di sepanjang jalan sisi kanan dengan batu-batu besar.

Ketika bus berhenti di pemberhentian terakhir, kami semua pun turun. Penumpang yang tersisa hanya aku, cowok mungil tadi, sepasang bule muda dan sepasang bule yang sudah tua. Aku semula bertanya kepada pasangan bule yang sudah tua apakah mereka akan pergi ke Monkey Beach. Mereka agak sedikit bingung dengan tujuan mereka lalu kemudian pergi. Aku pun bertanya kepada pasangan bule yang muda, tetapi jawaban mereka kurang bersahabat. Akhirnya aku pun memberanikan diri untuk bertanya pada cowok mungil tadi dan aku hampir menarik tasnya karena aku takut kehilangan jejaknya. 

"Are you going to hike to Monkey Beach?" aku bertanya.
"Yes," dia menjawab dengan sumringah. 
"Shall we go together?" aku bertanya agak ragu.
"Sure, let's go!" 

Namanya Casio. Dia berasal dari Bazil, umur 30 tahun. Dia sebelumnya bekerja di Australia untuk membiayai perjalanannya ke berbagai negara. Aku sedikit iri dengan pengalamannya keliling dunia. Dia juga jatuh cinta dengan Indonesia dan orang-orangnya. Dia berharap suatu hari bisa kembali lagi ke Indonesia. Aku pun memintanya untuk mengunjungiku jika dia datang. 

Kami lalu menuju kantor Taman Nasional Penang. Sebelum kita masuk ke Taman Nasional Penang, kita diwajibkan mengisi data di kantornya, begitu juga setelah kita keluar. Kami juga dibekali semacam surat ijin untuk memasuki kawasan taman nasional tersebut. Tidak ada biaya masuk yang dipungut. Ketika itu jalur trekking yang langsung menuju Monkey Beach sedang ditutup sehingga kami memilih jalur trekking ke Kerachut Beach atau yang dikenal dengan Turtle Beach dan melanjutkan ke Monkey Beach dengan menggunakan boat. Sebelum masuk, kami harus memesan boat di awal. Kami memesan boat untuk dua orang dengan harga 90 ringgit. Harga tersebut sebenarnya sama saja untuk satu orang maupun banyak. Akan tetapi karena kami hanya berdua jadi agak sedikit berat..ha..ha..ha.. Akan tetapi kami tidak punya pilihan lain selain menggunakan boat untuk menuju Monkey Beach. Oh iya, sebelum berangkat, kita harus menginformasikan ke pemilik boat-nya jam berapa kita minta dijemput karena di Kerachut Beach sinyal ponsel tidak akan muncul sama sekali. Kami pun minta dijemput sekitar pukul 14.30.

Gerbang Masuk Taman Nasional Penang 

Perjalanan pun dimulai. Menurut peta, perjalanan yang akan kami tempuh adalah selama kurang lebih satu jam. Kami sudah memperkirakan waktu lama perjalanan dan waktu ketika boat menjemput. Jalan masuk menuju taman nasional itu menggunakan paving blok dengan pemandangan pantai di pinggir sebelah kanan. Aku berpikir jalanannya akan seperti itu saja selama satu jam ha..ha..ha..
Aku pun ngobrol dengan Casio. Sekitar lima menit setelah pintu masuk, kami melihat jembatan (sebelumnya aku melihat jembatan ini di beberapa video trekking ke Monkey Beach di YouTube).  Aku pun berniat mengambil foto. Aku mengambil ponselku yang aku letakkan di dalam kantong plastik bersama beberapa camilan dan minuman. Tidak menyangka tiba-tiba segerombolan monyet datang untuk menyerang makanan yang aku bawa di kantong plastik. Oh tidakkkk... begitu aku berteriak sambil memandang pasrah kepada monyet-monyet yang sudah berlarian ke dalam hutan.

"How? They have robbed all of my food!" aku hampir menangis.
"Why didn't you put in your bag?" Casio nanya agak ngegas :(
"It's not fit, my bag is full!" nggak kalah ngegas.

Tempat kejadian "perampokan" oleh monyet
Monyet-monyet tersebut masih berusaha "mengincar" kami. Dua botol minuman berhasil diselamatkan Casio karena untung saja terjatuh dari kantong plastik saat mereka membawanya masuk ke hutan. Ketika seekor monyet akan menyerang lagi, Casio melemparnya dengan botol minum. Aku hanya bisa bersembunyi di balik badan Casio sambil ketakutan. Setelah itu kami memasukkan barang-barang kami ke dalam tas termasuk jam tangan. Kami kemudian mencari tongkat kayu untuk berjaga-jaga sepanjang perjalanan.


Kirei & Casio
Casio terus bertanya apakah aku masih menyimpan makanan di dalam tasku. Aku berkeras tidak ada lagi makanan tersisa di dalam tasku sampai kutunjukkan isinya. Setelah dia percaya kami pun melanjutkan perjalanan. Setelah sekitar lima menit berjalan, aku pun tersadar bahwa surat ijin masuk ke taman nasional tersebut ada di dalam kantong plastik yang dibawa monyet-monyet itu. Aku pun langsung panik karena di papan himbauan dituliskan dilarang masuk bagi yang tidak membawa surat ijin. Aku pun bertanya pada pemilik boat yang kami pesan sebelumnya apakah tidak masalah jika surat ijinnya hilang. Beruntung tidak masalah. Lalu kami juga menginformasikan kalau kami akan sedikit terlambat karena medan yang kami akan tempuh ternyata naik turun terjan dan licin. Jadi kami sepakat untuk dijemput sekita pukul 15.30. Kami pun kembali melanjutkan perjalanan.

Jangan takut tersesat karena ada petunjuk jalan 

Casio berganti sepatu untuk trekking karena sebelumnya dia memakai sandal jepit..ha..ha..
Beberapa rombongan bule pun lewat dan menyapa kami. Ada beberapa orang yang baru saja kembali. What? Bolak-balik trekking? Hebatttttt!!
Di tengah hutan itu mengingatkanku pada masal kecilku yang cukup adventurous. Hutan, pantai, sawah, bukit, dan lain-lain, sepertinya ketika itu aku selalu punya jadwal petualangan baru. Hanya saja ini di negara lain. Aku masih mempunyai semangat yang sama, tetapi tenagaku sudah tidak sama lagi. Aku pun berkali-kali mengeluh pada Casio agar berhenti sejenak untuk istirahat.

"Can we stop for a while? I am dying Casio," keluhku.
"Are you sure want to finish this or we just turn back?" Casio terlihat khawatir.
"No, I can finish this, amigo, I just need to take break for a while."
"Okay, good."
"I wish there is a helicopter come and take me out from this jungle," keluhku lagi. Casio pun tertawa.

Kembali lagi kami melanjutkan perjalanan. Jalanan mendaki, menurun, terjal dan licin. Aku pun dengan semangat mengikuti Casio. Terkadang aku berada di depan Casio. Casio sangat baik hati. Ketika aku tidak bisa melalui medannya, dia akan mengulurkan tangannya untuk membantuku. Ketika aku tertinggal jauh di belakang, dia akan sabar menungguku sebelum berjalan lagi. Kami pun mulai mengobrol mulai dari kebakaran hutan hingga petualangannya di Indonesia dulu. Dia jatuh cinta dengan keramahan orang Indonesia. Begitulah seterusnya hingga kami bertemu dengan air terjun, berfoto-foto, mengambil video, mencuci muka di sungai kecil dan berhenti untuk minum. Aku dan Casio tertinggal jauh dari rombongan orang-orang yang tadinya ada di belakang kami dan kami pun hanya tinggal berdua di dalam hutan.

Medan Trekking 

Bertemu Air Terjun

Bersama Senjata Tongkat Kayu

Kurang lebih dua jam kami berada di tengah hutan berdua. Ketika kami mencapai ujung, kami berjumpa dengan pasangan bule muda yang aku tanyai sebelumnya ketika turun dari bus. Ternyata mereka trekking bolak-balik...oh nooooo


Casio sudah sampai jembatan Kerachut Beach


Aku pun bertanya apakah pantainya masih jauh. Ternyata kami hampir sampai ke tujuan. Setelah keluar dari hutan, akan ada jembatan Kerachut Beach yang di bawahnya seharusnya ada danau meromiktik di mana ada danau yang bertemu dengan air laut, tetapi mereka tidak menyatu. Namun ketika itu airnya sedang kering jadi kami tidak bisa melihatnya.


Ketika kami sudah sampai di Kerachut Beach, rasanya aku ingin langsung tidur-tiduran. Aku dan Casio pun langsung duduk di bawah pohon melepas lelah. Minum air sebanyak-banyaknya. Sedihnya, kami tidak membawa makanan sama sekali. Jadi aku merasa sangat lapar. Duh gara-gara monyet itu!
Kami pun melanjutkan cerita-cerita tentang pekerjaannya di Australia, tentang kehidupan kami masing-masing, tentang pengalaman perjalanan kami dan masih banyak lagi. Casio orang yang sangat lucu. Dia langsung tahu kalau aku suka panik dan takut, dia terkadang menggodaku dengan menakut-nakuti dengan sesuatu..ha..ha..
Entah kenapa dari sini aku putuskan, aku sangat senang jika bertemu dengan orang dari Amerika Selatan (Latin). Mereka sangat bersahabat. Apa menurutmu juga? (I have another story about meeting Chileano).

Ketika kami baru saja sampai di pantai, ada serombongan turis juga tetapi tidak berapa lama mereka sudah dijemput oleh sebuah boat. Lalu tinggallah kami berdua, lagi. Casio orang yang mempunyai rasa ingin tahu tinggi. Dia pun langsung naik ke bebatuan di pinggir pantai untuk berfoto dan melihat-lihat pemandangan. Aku yang sudah kelelahan hanya bisa memandanginya sambil tersenyum. Dasar, mungkin di Brazil nggak ada kayak gini, pikirku. Hahahahaha....!!!
Setelah itu dia pun mendatangi tempat konservasi kura-kura. Aku hanya menunggu di bawah pohon karena ketika itu pasirnya sangat panas. Oh iyta kami juga tidak boleh berenang karena ada banyak ubur-ubur di sana.

Casio Ada di Belakangku

Pantai Kerachut yang Panas

Menuju Dermaga Boat

Aku hampir berpikir Casio kabur karena ketika sudah beberapa saat dia masuk ke tempat konservasi itu, tidak ada suara. Aku pun mulai memanggil-manggil dia. Sedikit panik aku mencoba untuk menenangkan diri dengan berfoto di dekat jembatan. Ketika aku akan kembali meneriakinya, dia pun muncul dari balik semak-semak dan mengejutkanku. Kami pun langsung bergerak ke dermaga menuju boat yang sudah menunggu kami untuk menuju Monkey Beach.

Kura-kura (Photo by Casio)

Tempat Konservasi Kura-kura (Photo by Casio)






5 comments:

  1. Amazing experience u had in malayisa..seems to be the most memorable time of ur life ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Umar, thank you fo visiting my first story hehe..
      Yes, this was amazing time in Penang. I am going to write another story about Penang too. Stay tuned ;)

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. nekad sekali kak, syukurlah kamu bertemu Casio, aku takut kamu berjalan sendiri ke hutan, but u r very lucky bcz menemukan org asing dan baik di negara org dengan tujuan sama itu sulit,bahkan aku sudah hampir 5 bln di Penang pun hanya komtar yang aku kunjungi, u make me so jealous, aku menunggu in the next trip

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you udah berkunjung ya Cla.
      Iya aku bersyukur banget selama traveling nggak ketemu sama orang jahat. Nanti coba keliling Cla kalau bisa naik motor pasti seru hehehe..

      Delete