Awal Januari 2024
"Yan, Desember 2024 kita ke Vietnam, yuk!" begitu kataku ke Rian, sahabatku melalui WhatsApp.
"Masih lama kali," balasnya.
"Justru itu, kan harus direncanakan jauh-jauh hari, he..he.."
"Ya udah ok, gas!"
Aku pun mulai menyusun itinerary untuk ke Vietnam lengkap dengan estimasi biayanya. Pantang banget kalau udah merencanakan trip pasti harus langsung disusun itinerary nya. Begitulah aku.
April 2024
Aku tiba-tiba kepikiran Rian. Aku pun kirim pesan lewat WhatsApp. Ternyata dia lagi dirawat di rumah sakit. Tipes katanya.
Tapi karena aku pikir aku pengin mengalihkan sakitnya ke hal-hal yang menyenangkan, aku pun masih sempat membahas itinerary kami untuk trip ke Vietnam sampai akhirnya dia nggak balas lagi pesanku.
"Oh, dia kan mesti istirahat," begitu pikirku dan aku tak lagi mengiriminya pesan.
Mei 2024
Aku bertanya kabar Rian lagi. Dia bilang kalau baru saja masuk rumah sakit lagi. Saat itu aku hanya bisa mendoakan agar dia lekas pulih.
Saat itu aku juga lagi punya segudang masalah yang rasanya ingin kuledakkan satu persatu jadi aku untuk sementara mengabaikan Rian. Bukan sengaja, aku hanya nggak ingin mengganggu waktu istirahatnya. Selain itu, waktu itu aku baru tahu kalau Rian sedang dekat dengan seseorang dan ada perasaan di hatiku yang ingin menghindar. Entah itu jealous atau apa aku nggak tau.
Juli 2024
Aku mendengar kabar kalau Rian sudah tiada.
Waktu itu aku sedang bekerja. Aku buru-buru lari ke toilet dan pecahlah tangisku. Aku merasa sudah berlaku jahat ke temanku sendiri. Dua bulan aku menghindarinya, tidak menanyai kabarnya sampai akhirnya dia pergi dari dunia ini. Padahal Desember tinggal beberapa bulan lagi yang mana harusnya kami ketemu dan bersenang-senang di Saigon.
Kenapa????
Jujur semenjak perginya Rian, aku jadi nggak bersemangat mau pergi ke Vietnam. Meskipun akhirnya aku tetap beli tiket, aku memperpendek waktu tripku jadi 4 hari saja di Saigon yang tadinya ada rencana ke Da Lat dan Nha Trang juga.
![]() |
| Difotoin Vinayak di depan Pagoda Vinh Trang |
Desember 2024
Tripku diawali dengan masuk ke kantor imigrasi Batam Center karena infonya negara tujuanku sedang "ketat" pemeriksaannya. Aku langsung berpikir kalau sama Rian, pasti dia bakal ngetawain aku dan langsung ngoceh dengan segala kejulidannya. Kejulidan yang bakalan aku kangenin.
Di Larkin aku ketemu Kak Salsa dari Medan dan Bu Yuliana dari Cilacap. Wah sekampung dong. Kami beli tiket bus yang sama biar bisa barengan. Kami menunggu bus sambil makan maggie karena lapar dan Bu Yuliana takut ketinggalan bus kalau kami pesan makan di resto. Baiklah.
![]() |
| Makan cup noodle bareng teman-teman baru |
Aku nginap semalam di rumah kos karena Bu Yuliana berubah haluan dari Port Klang ke Bukit Bintang. Tadinya beliau ngajak aku nebeng tapi aku pikir lebih baik ke rumah kos yang dekat dengan TBS biar besok paginya gampang ke KLIA2.
Besoknya di KLIA2, setelah deg-degan melewati timbangan AirAsia, aku cekikikan karena akhirnya aku berhasil packing backpack aku dengan berat tidak lebih dari 8 kilo. Yeayyy! Patut dirayakan dengan makan nasi lemak dan teh tarik enak. Kalau sama Rian, pasti dia komen "iya, elu traveling tuh bawa lemari bukan backpack."
Apesnya ketika menuju gate, ternyata dari awal aku salah baca. Aku baca gate Q dan setelah aku ngos-ngosan sampai gate Q, ternyata harusnya gate P. Sh*t! Aku pun lari-lari ke gate P. Astagaaaaaa!! Aku bisa lihat wajah Rian puas banget ngetawain kebodohanku.
![]() |
| Self reward karena packing light |
Selama penerbangan dari Kuala Lumpur ke Saigon, aku ngobrol sama teman sebangku aku. Namanya Tu Tu, cewek Vietnam yang baru lulus kuliah dan lagi cari kerja di KL. Wah... teman baru nih, Yan. Selama dua jam pula kami ngobrol ngalor ngidul nggak berhenti. Teman sebangku yang satu lagi risih nggak ya wkwkwkwkwk! Aku dan Tu Tu bertukar Instagram dan janjian mau ketemu di KL kalau dia keterima kerja disana. Eh, dua hari lalu dia ngabarin kalau dia keterima! Yeayyy!!
![]() |
| Teman bergosip selama penerbangan KL - Saigon |
Sampai di Saigon, aku pesan taksi online buat ke kota. Wah.. cantik banget ternyata Saigon, Yan. Sambil nunggu host Couchsurfing aku yang lagi nggak di rumah, aku pergi ke Book Street deket Notre Dame Cathedral. Disitu banyak banget toko buku yang lucu-lucu dan ada kafe. Setelah beli bukunya Murakami yang tipis, aku duduk di salah satu kafe disitu sambil baca. Lalu hujan, kayak berkah dan syahdu banget. Pengin flirting sama cowok yang lagi baca buku disitu tapi inget Alv. Gajadi deh! 😂 (Jangan ketawa kau Rian!)
![]() |
| Book Street Saigon |
![]() |
| Perfecto! |
Besok harinya aku ikut full day trip ke Delta Mekong. Seru banget. Kalau sama Rian, pasti bukan berondong India brewokan yang duduk sebelahku. Juga bukan Sebastian tampan yang naik sampan bareng aku.
![]() |
| Teman seperahu, Sebastian dari Jerman dan Ahjussi dari Korea |
Hari ketiga, aku janjian sama anak Couchsurfing yang udah beberapa bulan tinggal di Saigon. Dia berencana ngajak aku ke Air Terjun yang perjalanannya sekitar dua jam dari Saigon. Tapi di tengah perjalanan kami nyasar entah kemana yang ujungnya di tambang batu. Aku merasa ditipu, apalagi lihat gelagat dia yang "nyeleneh" pas di jalan. Aku memutuskan untuk putar balik ke kota. Jadi lah aku kram karena empat jam duduk di atas motor.
![]() |
| Nyasar hingga ke tambang batu |
Aku minta diturunkan di kota. Aku berhenti di tukang es kelapa, nongkrong bareng bapak-bapak di pinggir jalan. Merenungi kebodohan apa lagi yang udah aku perbuat. Ngakak dalam hati sambil membayangkan kalau sama Rian pasti udah jalan kemana-mana, bukannya ngabisin empat jam sia-sia di atas motor. 😡
![]() |
| Nongkrong bareng bapak-bapak di bawah pohon |
Setiap waktu di Saigon, pikiranku selalu ke Rian dan membayangkan betapa bedanya trip ini kalau ada dia. Aku tak lagi sedih tapi aku juga berharap Rian masih ada. He is not just a good friend, but he is a good travelmate.
Betapa beruntungnya traveling bareng teman se- easy going dia. Nggak uring-uringan, dan banyak ngakaknya. I wish you were here, on this trip.
Aku sering denger kalau orang baik itu cepat banget dipanggil Allah. Karena Allah sayang. Semoga Rian bahagia disana. Rest in peace my best friend. You'll be missed forever! Al-Fatihah 😇
Ini mungkin kedengaran klasik, tapi aku cuma pengin bilang, hargai setiap momen yang kalian punya dengan sahabat kalian, keluarga kalian, dan orang-orang yang berharga di hidup kalian. Jangan sampai kalian menghargai itu ketika sudah jadi kenangan.
| Rian, waktu kami traveling ke Johor Bahru Desember 2022 |
Thank you for reading
Kirei 😉



.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)

No comments:
Post a Comment