Wednesday, 15 July 2020

MERAYAKAN ULANG TAHUN DI SINGAPURA

Singapore National Day = My Birthday 

Marina Bay Sands di Malam Hari


Setidaknya itulah yang aku ketahui pertama tentang Singapura. Cerita itu kudapat dari mamaku yang dulu pernah bekerja di negeri itu ketika aku masih SD. Sampai ketika aku dewasa, aku sudah bekerja dan pertama kali membuat paspor di tahun 2013, negara pertama yang aku kunjungi adalah Singapura. Ya, semua tahu alasannya karena paling dekat dengan Batam dan memang sudah tidak heran lagi jika warga Batam bolak-balik ke sana. 

Tapi aku punya alasan lain. Pertama kali aku mengunjungi Singapura, adalah di hari ulang tahunku, 9 Agustus yang mana bertepatan dengan hari kemerdekaan negara tersebut. Entah kenapa, aku merasa spesial saja. Seperti ulang tahunku dirayakan oleh orang satu negara..ha..ha..

Setidaknya, aku pernah berada di Singapura pada tanggal 9 Agustus sebanyak tiga kali yaitu di tahun 2013 ketika aku pertama kali ke luar negeri, tahun 2014 ketika aku pulang kampung melalui Singapura dan di tahun 2019 ketika aku sudah sedikit banyak mengenal Singapura. Momen yang aku lalui pun berbeda-beda. 

Tahun 2013, aku tidak mengenal seorang pun di sana. Satu-satunya orang yang aku kenal adalah Cheryl, rekan kerja satu perusahaan yang berada di cabang Singapura. Sebelumnya, aku sudah berbicara dengannya untuk saling bertemu di sana. Dia tidak berjanji untuk menemui, tapi aku tidak masalah karena pada akhirnya kami tidak bertemu. Aku menikmati hari itu di sekitar Marina Bay Sands melihat begitu banyak orang mengenakan baju berwarna merah sebagai simbol perayaan hari kemerdekaan. 

Pada hari itu aku untuk pertama kalinya menikmati lemon chicken rice dan jatuh cinta pada suapan pertama. Oh, aku rindu makanan itu. Aku membelinya di food court yang ada di pelabuhan Harbourfront. Enak sekali. Pada hari itu juga aku pertama kali mempelajari jalur MRT di Singapura yang ternyata sangat mudah walaupun kita baru pertama kali. 


Ulang Tahun ke 22 di Singapura


Kembang api perayaan hari kemerdekaan hanya bisa aku saksikan ketika aku sudah berada di ferry dalam perjalanan pulang kembali ke Batam. Sangat disayangkan aku belum bisa menginap di sana pada saat itu karena belum tahu menahu dan belum berani..hi..hi..


Tahun 2014, ketika pesawatku yang aku tumpangi mendarat di bandar udara international Changi di Singapura, tepat di hari ulang tahunku. Aku pun merasakan sensasi yang berbeda. Meskipun aku tidak menghabiskan waktu lama pada hari itu karena aku harus segera kembali ke Batam, tetapi aku sempat melihat percikan kembang api dari jendela ferry. Again, happy birthday to me and Singapore.  


Tahun 2019, aku kembali merayakan ulant tahunku di Singapura. Aku menyebut trip kali itu sebagai birthday trip. Tahun ini sungguh spesial karena selain aku akan merayakan ulang tahun, aku juga akan melanjutkan perjalanan ke Melaka keesokan harinya. Selain itu juga aku sudah mempunyai beberapa teman di sana dan juga kakak angkat. Kakak angkatku orang Indonesia yang mempunyai suami orang Melayu Singapura. 

Hari itu sesampainya di Harbourfront, aku langsung menghubungi kakakku dan kami memutuskan untuk bertemu di Bugis Street. Sebelum menuju Bugis, aku pun menyempatkan diri untuk memesan kopi c dan kaya toast serta menikmatinya di tepian pelabuhan. Setelah cukup kenyang, aku pun menuju Bugis menggunakan MRT. 

Hari itu sungguh panas dan ramai. Hampir semua orang lokal yang aku temui memakai baju berwarna merah. Anak-anak dengan tato bendera Singapura di pipi dan tangannya sungguh menggemaskan. Aku menunggu kakakku sembari duduk-duduk di depan pertokoan di Bugis Street. Aku memperhatikan orang berlalu lalang. Kakakku datang sekitar tigapuluh menit kemudian dengan sebuah tas besar. 

"Dek, tolong bawakan ke Batam ya," begitu katanya. 
"What? Sebanyak ini? Masa iya harus aku bawa ke Melaka?" kakakku hanya tersenyum. 

Aku pun mengajak kakakku ke hostel yang sudah kupesan di sekitar Kallang, untuk meletakkan barang-barangku sebelum bertualang menonton atraksi hari kemerdekaan. Aku memesan taksi online karena tidak memungkinkan untuk kami berjalan kaki lagi dengan bawaan yang berat serta dua keponakanku yang masih kecil yang jalannya lambat.


Aku, Kakakku & Anak-anaknya


Sesampainya di hostel, aku langsung check in dan menuju kamarku yang ternyata berada di lantai tiga. Hampir pingsan aku ketika sampai di kamar. Aku pun buru-buru menyimpang barang-barangku di loker yang tersedia. Ketika itu kamar masih sepi, hanya ada aku. Aku duduk-duduk sebentar sambil memikirkan bagaimana caranya agar tas besar kakak tidak ikut aku ke Melaka. Aku pun menghubungi beberapa teman yang bisa kumintai tolong. Salah seorang teman pun mau menolongku, dia berkata akan menjemput tasku malam hari seusai pesta bersama teman-temannya. Baiklah. 

Aku pun kembali menghampiri kakakku dan kedua keponakanku yang lucu. Si besar ketika ditanya apa dia rindu aku, dia menjawab iya. Lucu sekali. Kami pun naik bus dan berhenti di sekitaran Parliament of Singapore. Kami harus berjalan kaki cukup jauh ke Jubilee Bridge karena beberapa jalan ditutup untuk perayaan hari kemerdekaan. 

Aku berjalan bergandengan tangan dengan si besar, sementara si kecil terus berada di gendongan kakakku. Kakakku tidak kelihatan lelah meskipun berjalan jauh dengan menggendong si kecil. Aku saja hampir beberapa kali harus berhenti untuk minum dan berfoto sambil istirahat. 


Berebut Tongsis dengan si Besar


Kami berjalan cukup jauh di tengah keramaian yang membuat gerah. Kami kehabisan perbekalan di tengah jalan. Kami buru-buru agar cepat sampai di patung Merlion yang ada di dekat hotel Fullerton. Kami pun masuk ke sebuah minimarket yang hari itu dipadati pengunjung. Bayangkan, minimarket sekecil itu dan pengunjung penuh. Sesak, panas, kemudian si kecil dan si besar terus merengek bersahut-sahutan. Tidakkkkkk...tante mau pingsan iniiii!!! 

"Tante mau ini..tante please help to carry this, tante this and that," begitu si besar merengek.
"Bunda nak ini, nak itu, bunda," begitu si kecil merengek. 

Kami pun berhasil keluar dari kerumunan dengan menyangking beberapa botol minum, mi instan yang sudah diseduh dan beberapa makanan kecil lain, salah satunya adalah kacang yang ternyata mengandung pork setelah kucicipi satu gigit. Tidakkkkkk...kakakku langsung buru-buru membuangnya. Kami pun tertawa bersama. 

Jubilee bridge penuh tak berjarak. Semua orang menunggu momen-momen parade militer yang meriah. Kami berkali-kali harus menerobos rombongan orang-orang yang berkerumun tidak mau memberikan jalan. Di tengah-tengah suasana tersebut pula kami sempat berfoto..ha..ha.. 

Kami berjalan di sepanjang jubilee bridge dengan penuh perjuangan hingga tiba di ujung yang dekat dengan teater Esplanade. Semua orang bersiap dengan kamera dan tripod mereka. Ternyata pada hari itu sedang diadakan lomba fotografi internasional juga (salah satu pesertanya bertemu aku di hostel yang ternyata berasal dari Batam). Kami mencari tempat di bawah pohon untuk berteduh dan duduk menunggu parade militer. Aku sangat antusias, terutama menonton pesawat tempur.  


Semua Orang Merayakan Ulang Tahunku..ha..ha


Waktu menunjukkan sekitar 7 petang ketika parade dimulai.Untuk upacaranya sendiri dilaksanakan di tempat yang tertutup dimana hanya orang yang sudah membeli tiket saja yang diperbolehkan masuk.  Pertana-tama beberapa pesawat muncul dan beberapa penerjun akan turun menggunakan paralayang. Kemudian helikopter yang membawa bendera Singapura pun muncul dan melintas di atas teater. Terakhir mereka memamerkan pesawat tempur mereka dengan suaranya yang sangat menggelegar. Aku sangat menikmatinya. 


Penampilan Pesawat Militer Singapura 


Ketika parade militer telah selesai, acara yang kami tunggu-tunggu juga adalah pesta kembang api yang merupakan penutup acara. Namun kemudian kakakku berkata kalau dia tidak ingin ikut menyaksikan kembang api. Aku pun cemberut. 

"Kakak harus sampai rumah sebelum jam duabelas, lagi pun nampak nanti kembang api dari rumah kakak," ucapnya sambil berjalan mencari jalan menuju stasiun MRT terdekat, City Hall. 

Baiklah. Aku pun menurutinya dan mengantarkannya ke stasiun MRT terdekat. Beberapa ruas jalan ditutup sehingga kami pun harus berjalan memutar cukup jauh. Agar gerakan kami cukup cepat, aku pun menggendong si kecil dan kakak bersama si besar. Aku tergesa-gesa karena takut ketinggalan pesta kembang api. 

Setelah beberapa kali salah mengambil jalan, akhirnya kami pun sampai di stasiun MRT City Hall. Kami pun berpisah. Kucium pipi si besar dan kami pun mengucapkan selamat tinggal. Aku kembali ke teater dengan berlari-lari meskipun tidak cukup kuat. Namun sebelum sampai di teater, kembang api sudah dinyalakan dan jalan diblok. Aku hanya menyaksikan kembang api dari pinggiran jalan yang seharusnya dari dekat teater yang menghadap langsung ke Marina Bay Sands. Well, aku sedikit menggerutu karena seharusnya aku mengantar kakak lebih awal dan tidak beberapa kali tersesat. 


Salah Satu Penampakan Pesta Kembang Api


"Happy birthday to Singapore, happy birthday to myself!" begitu ucapku sambil memandang kembang api yang bermekaran di udara. Semua orang di negara ini merayakan ulang tahunku hari ini..ha..ha.. Well, getting older for sure but happier every single day :p 
 
Ketika jalan sudah dibuka, aku kembali ke teater sedangkan ribuan orang berjalan kembali ke stasiun MRT. Aku seperti melawan ribuan orang tersebut..ha..ha.. Aku mencari tempat duduk di atas rerumputan untuk duduk santai menikmati live music dari panggung dekat teater. Sesuatu yang membuatku terpana ketika itu adalah tidak ada sebuah sampah pun yang tertinggal padahal ribuan orang ada di tempat itu sebelumnya.

Hari itu kututup dengan menikmati secangkir kopi c dan roti bakar kaya dari Toast Box sebelum akhirnya kembali ke hostel. Once again, happy birthday to Singapore and myself


Nos vemos,

Kirei Khan




No comments:

Post a Comment