Saturday, 18 July 2020

KEJUTAN ULANG TAHUN: BERTEMU COWOK LATIN DI HOSTEL

Malam itu aku seperti mendapat.....kejutannnnnn!!!
Sesampainya di kamar hostel yang berada di lantai tiga setelah berjalan kaki dari stasiun MRT, aku sungguh merasa sangat lelah. Terlebih lagi keesokan harinya aku harus melanjutkan perjalanan ke Melaka. Kubuka pintu kamar hostel yang ternyata sudah dimatikan lampunya. Aku tidak berani menyalakannya karena takut mengganggu penghuni hostel yang lain yang sedang beristirahat. 

Ketika melangkah masuk menuju kasurku, mataku pun langsung menangkap sesosok cowok yang sedang terbaring di kasur yang berada tepat di dekat pintu, dengan laptop di atas badannya. Cukup tampan walau dilihat dalam kegelapan. Ternyata dia sedang asyik menonton sesuatu di laptopnya dengan earphone di kedua telinganya. 

Awalnya aku tidak ingin menyapanya. Tetapi rasa penasaranku langsung menghinggapi yang kemudian membuatku memberanikan diri untuk menyapa. 

"Hi, where are you from?" tanyaku gugup. 
"Hi, I am from Chile. What is your name?
"I am Qori, and you?" kemudian cowok itu menyebutkan namanya dan ternyata aku kurang mendengarnya. "What?"
"Pablo, like Pablo Escobar," jawabnya menghilangkan kegugupanku. Kami pun tertawa kecil.
"You're from Chile, it means you speak Spanish?" tanyaku antusias.
"Yeah, I do," jawabnya mantap. 
"Wah...very nice! I am learning Spanish!" ucapku bersemangat. 
"Really?" tanyanya tak kalah semangat yang membuatku senang dan tidak menyesal aku telah menyapanya terlebih dulu. 

Kami pun ngobrol tentang kegiatan dia pada hari itu. Ternyata dia juga baru sampai di Singapura dan mendapati beberapa hostel penuh, akhirnya memutuskan untuk menginap di tempat ini. Sama sepertiku. Random sekali karena tiba-tiba kami membicarakan buku dan dari sini aku jadi tahu dia menyukai tulisan Paulo Coelho. Aku mengatakan pada Pablo kalau aku akan melanjutkan perjalanan ke Melaka keesokan harinya. 

Kami pun saling bertukar akun Instagram dan nomor Whatsapp sebelum beberapa penghuni hostel lain masuk, sepasang kekasih India dan juga seorang cowok dari Batam yang ternyata pernah ikut dalam rombongan snorkeling Pulau Abang yang aku pandu sebelumnya. What a coincidence ha..ha.. dunia ternyata sempit. Ah, mungkin iya mungkin tidak. 

Aku pun meninggalkan Pablo sementara untuk menitipkan tas kakakku ke temanku sesuai janjinya (ceritanya ada di tulisan sebelumnya, Merayakan Ulang Tahun di Singapura). Dia sudah menunggu di depan hostel. Syukurlah bebanku teratasi sementara, tidak terbayangkan aku membawa tigas tas besar sekaligus ke Melaka.

Keesokan harinya aku berangkat pagi-pagi sekali ke Melaka ketika semua penghuni kamar hostelku masih terlelap termasuk Pablo. Suasana masih gelap ketika aku mandi dan check out dari hostel. Aku memberi tahu Pablo ketika aku sudah sampai di perbatasan Singapura - Malaysia dan Pablo mengatakan dia belum pernah ke Malaysia. 

Sekembalinya dari Melaka, aku sengaja menginap semalam lagi di Singapura. Aku memberi tahu Pablo kalau aku akan menginap semalam lagi. Pablo juga memberi tahuku kalau dia sudah pindah dari hostel sebelumnya dan sedang mencari hostel baru untuk hari itu. Dia menyebutkan sebuah hostel di sekitar Ferrer Park yang pernah aku tinggali beberapa bulan sebelumnya. Aku menyarankan Pablo untuk menginap saja di hostel tersebut. Dia berkata akan mempertimbangkannya. 

Aku sampai di hostel yang ada di Ferrer Park sekitar pukul enam sore dan langsung check in. Kamarku ada di lantai tiga. Aku memberi tahu Pablo kalau aku sudah sampai di hostel dan ternyata Pablo akhirnya akan menginap di sana juga. Wah....aku senang sekali. 

Setelah beristirahat sejenak, aku keluar hostel bersama salah seorang temanku untuk mencari buku sebagai hadiah ulang tahunku. Cukup lama aku keluar sebelum akhirnya kembali ke hostel. Ketika aku sampai di hostel, ternyata Pablo sudah sampai juga. 

"Let's go out to buy some drink!" ajaknya melalui Whatsapp. Ketika itu aku sedang di toilet karena sakit perut. Aku mengatakan pada Pablo untuk menunggu, dia pun setuju untuk menunggu di teras hostel. 
"Hola amigo, cómo estás?" tanyaku sok-sokan pakai Bahasa Spanyol.
Pablo pun menjawab dengan Bahasa Spanyol. Kata yang aku tangkap hanya cansado yang berarti lelah. Selebihnya aku tidak tahu. Terlebih aksen Pablo tidak terlalu jelas menurutku. 
"Let's talk in English..ha..ha.." kataku akhirnya menyerah.
"Ha..ha..OK," jawab Pablo. 
Temanku terheran-heran dan akhirnya bertanya,"what language did you guys talk to each other?" 
"Spanish," jawabku. 
"Wow, cool!" 
"I am still learning, that's why I don't really undertsand..he..he.." 

Aku dan Pablo menuju ke sebuah minimarket, temanku ikut serta. 

Ketika kami keluar dari minimarket, seseorang kemudian menyeletuk ke Pablo, "hey, you look like Lionel Messi!"

Aku pun menatap Pablo dan aku pun mengiyakan. Mirip sih. Sesampainya di hostel, kami duduk-duduk di teras hostel sembari ngobrol mengenai trip kami. Pablo bercerita, dia sedang tinggal sementara di Bali. Dia senang berada di Bali karena hampir setiap hari dia melakukan kite surfing, olahraga kesukaannya. Kami bercerita mengenai pekerjaan dan kehidupan kami masing-masing. Karena waktu sudah cukup larut ketika kami keluar, akhirnya kami memutuskan untuk  menyudahi pembicaraan kami. Pablo kembali ke kamarnya, aku dan temanku pergi berjalan kaki sebentar.

Keesokan paginya, begitu bangun tidur aku langsung mengirim pesan ke Pablo untuk sarapan bersama sebelum kehabisan. Kami berdua pun langsung menuju pantry hostel untuk sarapan. Hostel tersebut menyediakan sarapan sederhana yang cukup enak. Roti bakar dengan butter atau selai, kopi dan teh tersedia di sana. Semuanya self service. Aku memilih untuk membuat kopi hitam dengan gula serta dan roti bakar kaya, Pablo membuat kopi hitam tanpa gula.

"Do you know Pablo? This is my favourite, kaya toast!" ujarku sambil menggigit roti dengan nikmat.
"Oh, I want to try your favourite then!" Pablo bangkit dan mulai membuat roti panggangnya.

Kami melanjutkan cerita kami. Sebelum tiba di Bali, Pablo bekerja di Sidney, Australia. Sebelumnya dia seorang engineer di negaranya, Chile. Dia rela terbang jauh dan meninggalkan pekerjaannya serta memulai petualangannya. Dia mengumpulkan uang untuk membiayai perjalanannya. Setelah uang terkumpul, terbanglah dia ke Bali. Dia terbang ke Singapura agar bisa memperpanjang masa tinggalnya di Bali/Indonesia sebelum dia melanjutkan perjalanannya ke Eropa menemui kakak laki-lakinya. 

Pablo bercerita bahwa hari sebelumnya dia berjumpa dengan rekan senegaranya, yang juga sedang melakukan perjalanan. Bahkan temannya itu mengambil cuti panjang hanya untuk bisa berkelana. Pablo mengatakan kalau temannya itu tenaga kerja yang sangat dibutuhkan di tempatnya bekerja sehingga kapanpun dia kembali dari perjalanan, perusahaan akan menerimanya bekerja kembali. Enak sekali ya, pikirku. "Aku juga mau seperti itu..ha..ha..," batinku sambil berpikir bahwa kemarin aku baru saja menodong cuti tambahan pada bosku dengan janji tidak akan cuti lagi sampai November. 

Jujur aku iri dengan kehidupan orang-orang seperti Pablo dan temannya itu. Mereka seperti tidak ada beban sama sekali untuk berkelana melanglang buana menikmati dunia. Jika uang habis, mereka akan mudah mencari pekerjaan, apa saja, tanpa perasaan malu atau gengsi. Jika uang sudah terkumpul, saatnya mereka beraksi, berpindah dari negara satu ke negara lainnya. Ah, seandainya. Sebenarnya bisa saja, tapi nyaliku belum sekuat itu.

Selesai sarapan, aku dan Pablo kembali ke kamar masing-masing. Kamar Pablo ada di lantai dua. Hari itu aku harus check out dan segera pulang ke Batam karena keesokan harinya aku sudah harus kembali bekerja.

"Let me know when you're ready to leave so we can say goodbye to each other," kata Pablo. 
"Okay!" jawabku ketika kami berpisah di tangga menuju kamar. 


Kirei & Pablo


Foto diambil oleh bibi penjaga hostel

Selesai mandi dan bersiap-siap, aku menuju resepsionis untuk mengembalikan seprei dan check out. Sembari menunggu prosesnya, aku mengirim pesan ke Pablo memberitahu bahwa aku sudah ada di resepsionis. Tak lama kemudian Pablo muncul. Kami akan berpisah hari itu. Pablo tiba-tiba memelukku. Awalnya aku terkejut karena tidak biasa, namun aku tersadar kalau itu sebuah tradisi di sana, sebagai tanda pertemanan. Aku pun membalas pelukan Pablo. 

"Don't worry, no one is watching," kata Pablo seperti membaca keterkejutanku. 
"It's OK Pablo," jawabku. "Let's take picture!" 

Kami pun meminta bibi resepsionis untuk mengambilkan foto kami berdua. Akhirnya, aku pun harus pamit pulang. Sungguh, pertemuan dengan Pablo sangat mengesankan. Kami seperti sudah lama saling mengenal. Sebetulnya aku ingin sekali mengajak Pablo mengunjungi Batam, tetapi waktu tidak memungkinkan saat itu. Mungkin suatu saat nanti. Semoga. 

Oh, he is getting older this month..ha..ha.. he is a month older than me. 

Hey, mi querido amigo, feliz cumpleaños! Deseo todo lo mejor. Estoy esperando que vuelvas a Singapur..ja..ja.. so we can have longer conversation. Te extraño amigo! Cuídate! 


Nos vemos,

Kirei Khan

No comments:

Post a Comment