Day 2
Hari itu sesuai janji dari Ibtisham, aku dijemput di hotel untuk tur island hoping. Aku sudah bersiap-siap langsung menggunakan baju renang dan kulapisi gaun selutut tanpa lengan. Tak lupa topi fedora dan kacamata hitam kesayanganku pun ikut serta. Aku juga membawa makanan kecil, minuman dan handuk kecil.
Mobil jemputan sudah menunggu di depan gang. Mobil jemputan tersebut berupa mobil pick-up dengan atap lengkap dengan kursi penumpang. Ketika aku naik, ada beberapa orang sudah duduk di sana. Beberapa di antaranya adalah orang tua. Aku pun langsung memberikan senyuman kepada mereka yang mereka balas dengan senyum. Mobil tersebut ternyata masih menunggu beberapa tamu lain.
Tak berapa lama, datang satu per satu tamu yang dimaksud. Ada sepasang suami istri yang duduk di dekatku. Mereka kemudian menyapaku dengan Bahasa Thailand. Aku hanya terbengong dan mereka pun langsung meminta maaf karena mereka pikir aku orang Thailand. Aku pun jadi tidak enak lalu kujawab "it's ok" dan kusertai senyuman manis.
Setelah mobil penuh dengan penumpang, mobil bergerak perlahan sampai ke tempat di mana aku "dirampok" wanita pria kemarin. Ternyata kami semua dikumpulkan untuk semacam registrasi ulang dan diberi gelang sebagai penanda peserta tur. Nama grup tur yang membawa kami bernama Barracuda. Wow keren sekali. Setelah itu kami diharapkan untuk menunggu sebentar. Ternyata yang menjemput tadi bukan mobil yang akan membawa ke lokasi, melainkan sejenis angkot di sana, sedangkan yang kami tunggu adalah mobil truck dengan kapasitas yang lebih banyak.
Ketika itu kami menunggu di dekat patung ikan yang ada di dekat pantai. Aku duduk sendirian dan mengambil foto seorang diri. Di sebelahku duduk seorang wanita muda cantik Thailand dan wanita yang sudah cukup tua yang ternyata ibunya. Wanita tersebut memintaku untuk mengambilkan fotonya bersama ibunya. Aku pun mengiyakan. Kemudian kami pun berbincang-bincang. Ternyata dia bisa berbahasa Inggris. Aku bersyukur karena akhirnya ada orang yang bisa aku ajak bicara selama tur berlangsung. Oh iya namanya Sara, dia berasal dari Chiang Mai, daerah Utara Thailand.
Tak berapa lama mobil yang dimaksud pun datang. Rombongan bertambah. Aku perkirakan jumlah tamu tur saat itu yang satu rombongan dengan aku lebih dari 30 orang jumlahnya. Sebagian besar rombongan adalah orang India, lalu sebagian lagi orang Thailand lalu seorang pria dari Malaysia dan seorang pria lagi dari Singapura. Aku sendiri yang berasal dari Indonesia. Untung saja aku sudah bertemu dengan Sara yang menjadi temanku selama tur, oh dan juga ibunya meskipun beliau tidak bisa berbahasa Inggris namun aku bisa merasakan ibu Sara orang yang ramah.
Mobil berhenti di sebuah tempat pemberhentian boat yang ketika itu sedang surut airnya. Kami berjalan menuju long tail boat yang sudah disediakan. Pimpinan tur saat itu seorang wanita tomboy dengan badan mungil yang sangat aktif dan meyenangkan. Dia bertanya darimana aku berasal dan ternyata dia bisa berbahasa Indonesia. Kemudian dia pun bernyanyi lagu yang saat itu sempat booming "tak tuntuang" yang ternyata terkenal sekali di Thailand. Aku pun tertawa melihat tingkahnya.
Tur pun dimulai dan boat bergerak perlahan kemudian agak cepat dan sangat cepat menuju tujuan pertama yaitu Phra Nang Cave Island. Perjalanan dari Ao Nang Beach ke Phra Nang Beach Cave ditempuh dalam waktu sekitar tiga puluh menit menggunakan long tail boat, akan lebih cepat jika menggunakan speed boat. Cuaca hari itu sangat cerah sesuai dengan yang aku harapkan, langit biru dan matahari cukup menyengat.
![]() |
| Peserta Tur Barracuda |
![]() |
| Phra Nang Cave Beach |
Sesampainya di Phra Nang Beach Cave, kami pun satu per satu turun dari boat dan berhamburan menuju pantai. Aku, Sara dan ibunya menuju tempat yang teduh di dekat gua. Di mulut gua terdapat banyak kayu-kayu yang berbentuk alat kelamin pria, berwarna warni. Aku tidak tahu untuk apa. Aku pun kembali ke tepi pantai yang teduh dan melepas baju lapisan luarku dengan antusias lalu buru-buru mengajak Sara untuk berenang.
"Let's swim Sara," ajakku sembari memasukkan baju dan ponselku ke dalam tas.
"Yes, you go first, I will pray for a while," ujar Sara.
"Oh, okay!" sahutku.
Sara pun berjalan menuju gua. Aku sudah berlari ke dalam air laut yang sangat jernih dengan pasir yang putih. Dari kejauhan aku melihat Sara dan ibunya berdoa di mulut gua tadi. Ternyata setelah aku cari di internet, berdoa di sana dilakukan oleh beberapa warga lokal Thailand untuk meminta kesuburan. Legenda Phra Nang melekat kuat dalam kepercayaan beberapa orang lokal Thailand termasuk Sara dan ibunya. Buat yang mau baca tentang Phra Nang Cave bisa klik di sini.
![]() |
| Phra Nang Cave dengan Kayu-kayu Berbentuk Kelamin Pria |
Aku dan Sara sangat menikmati waktuku di pantai itu dengan berenang. Sementara ibu Sara duduk menunggui tas kami dan mengambil foto. Kami berenang hingga ke bawah tebing. Aku tidak sanggup berjalan di bebatuan sementara Sara dengan santai berjalan dan bermain-main. Aktivitas lain yang bisa dilakukan di sana adalah memanjat tebing.
Setelah puas berenang dan waktu kami di pantai tersebut habis, kami pun satu per satu kembali ke boat dan melanjutkan perjalanan ke pulau berikutnya, Tup Island. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Phra Nang. Tup Island merupakan salah satu pulau yang terkenal di Krabi. Tempatnya seperti pasir timbul yang menghubungkan dua pulau kecil jika airnya sedang surut. Di pulau tersebut aku dan Sara sibuk berenang dan bermain dengan ikan-ikan yang terlihat di permukaan air pinggir pantai sementara ibu Sara senang memotret kami berdua yang seperti anak kecil. Aku bisa melihat Sara senang sekali berada di pantai. Aku berpikir mungkin karena dia tinggal di daerah Chiang Mai yang jauh dari laut..ha..ha..
Kami menyempatkan berjemur sebelum melanjutkan perjalanan ke pulau selanjutnya. Pulau selanjutnya yaitu Chicken Island. Seperti namanya, pulau ini jika dilihat dari kejauhan terlihat seperti ayam lengkap dengan kepala dan leher. Di Chicken Island kami tidak mendarat melainkan snorkeling di perairan sekitar pulau. Ini menjadi pengalaman snorkeling-ku yang kedua setelah beberapa bulan sebelumnya aku mengunjungi Pulau Abang di sekitar Batam. Aku sudah jatuh cinta dengan dunia bawah air semenjak itu.
![]() |
| Aku dengan Latar Belakang Chicken Island |
Masing-masing kami dipinjami pelampung, kacamata dan alat pernapasan namun tidak ada alas kaki jadi terpaksa aku menggunakan sandal gunungku agar tidak terkena karang jika ada. Ternyata medan snorkeling nya cukup dalam dan aku beberapa kali kesulitan karena pelampungku yang longgar. Pemandu kami yang begitu perhatian pun langsung memanggilku ke atas dan menukar pelampungku dengan yang cukup ketat. Sara yang sebelumnya bilang tidak bisa berenang ternyata berenang kesana kemari cukup jauh tiada henti. Aku tidak tahu entah karena lokasinya atau bagaimana, aku tidak melihat banyak ikan dan terumbu karang. Atau mungkin aku berenang kurang jauh.
Waktu yang diberikan utuk snorkeling terlalu singkat menurutku, hanya sekitar tiga puluh menit. Setelah itu kami beranjak ke pulau terakhir yaitu Koh Poda atau Poda Island. Di sana kami menghabiskan waktu lebih lama dibanding di pulau lain. Kami juga menikmati makan siang di pulau tersebut. Makanan yang disajikan adalah makanan Thailand yang salah satunya adalah basil chicken yang ternyata enak. Salah seorang tamu pria yang tidak cocok dengan menu makanan yang disajikan tiba-tiba protes.
"Do you have another food?" tanya pria tersebut.
"No, we only have this. Do you know that Thai food is the best in the world?" celetuk pemandu tur kami seperti tidak mempedulikan protesan pria tadi.
Beberapa dari kami pun hanya tersenyum dan mengabaikan ocehan pria tersebut. Aku, Sara dan ibunya makan di atas sebuah kayu. Selesai makan, aku tak bisa menahan diri untuk menceburkan diri ke air laut yang begitu jernih dengan pasir putih bersih. Langit ketika itu sangat biru. Terlihat kilauan seperti kristal di permukaan air laut karena cuaca yang mendukung.
![]() |
| Koh Poda / Poda Island |
Aku menelepon Raja, temanku yang ketika itu sedang bekerja. Dia begitu terkagum-kagum dengan kecantikan pantainya dan membayangkan kalau kami bisa pergi ke sana bersama suatu hari. I wish so ;)
Sara sudah lelah berenang dan dia memilih untuk langsung berganti baju. Sedangkan aku asyik bermain di air sementara ibu Sara berjalan-jalan di sepanjang pantai. Aku melihatnya memunguti serpihan karang yang cantik-cantik. Hal itu sering aku lakukan juga di pantai Batam. Lalu akupun mengikuti apa yang dilakukannya. Aku memasukkan karang-karang cantik itu ke dalam botol air mineral yang rencananya akan kubuang. Saking asyiknya hampir satu botol penuh aku mengisinya dengan karang-karang.
![]() |
| Crystal Clear Water |
"I want to stay here forever Sara, I don't want to go home," ujarku kepada Sara.
"You can stay here if you want so you can swim every day to reduce weight," jawab Sara. Kami pun tertawa.
Waktu menunjukkan pukul tiga sore ketika kami dikumpulkan kembali untuk pulang ke Ao Nang Beach. Sebelum kami beranjak, pemandu tur menawarkan untuk mengambil fotoku, Sara dan ibunya. Kami berpose dengan latar belakang langit biru dan pantai serta air laut dengan warna yang senada. Setelah itu kami pun beranjak kembali ke Ao Nang. Matahari masih terasa menyengat. Aku tertidur sebentar karena buaian angin. Benar-benar trip yang menyenangkan.
![]() |
| Aku, Sara dan Ibunya Sara |
Kami tiba di Ao Nang dengan selamat namun cuaca sedikit mendung. Kami turun satu per satu dari boat. Oh iya, mereka menyediakan kotak di bagian depan untuk kita memasukkan tips. Jangan lupa berikan tips ya karena tur ini benar-benar menyenangkan. Oh iya, setelah itu mereka juga membuat souvenir dari foto kita yang dibingkai dengan hiasan pasir dan kerang. Aku membelinya seharga 150 baht. Foto itu dengan latar belakang ibunya Sara sebagai kenang-kenangan.
Sesampainya di Ao Nang, kami dijemput kembali oleh mobil yang mengantar kami. Kami diantar satu per satu ke penginapan masing-masing hingga akhirnya tibalah aku di gang hotel tempatku menginap. Aku, Sara dan ibunya langsung turun. Ternyata aku dan Sara tinggal di hotel yang berseberangan gang. Aku mengucapkan selamat tinggal kepada Sara. Sara memintaku untuk mengirimkan foto-foto kami ke Whatsapp yang sebelumnya dia berikan nomornya. Aku pun mengiyakan dan kukirimkan foto-foto tersebut ketika sampai di hotel, begitu juga Sara, dia mengirimkan foto yang diambil menggunakan ponselnya.
Ternyata setelah beberapa bulan Sara baru memberitahuku kalau dia tinggal bersama suaminya di Singapura. Kami pun bertemu kembali di bulan Februari 2019 ketika aku berkunjung untuk liburan akhir pekan di sana.
Aku langsung melepas baju renangku yang masih lembap dan buru-buru mencucinya agar sebelum pulang sudah kering. Aku kemudian mandi, cukup lama. Namun ada yang membuatku sedikit sebal karena sampo yang seharusnya aku beli ternyata adalah kondisioner (akibat tulisan yang tertera hanya tulisan Thailand). Tapi tidak apa, yang penting rambutku tidak mengeras akibat rendaman air laut.
Setelah mandi, aku pun bergegas tidur sore karena mataku sudah terasa sangat berat. Aku terbangun karena ada hujan badai yang suara anginnya cukup keras seperti mesin mobil. Aku tidak bisa tidur lagi hingga akhirnya aku memutuskan untuk mencari makan malam ketika hujan sudah reda.
Jalanan Pantai Ao Nang malam hari masih sangat ramai seperti tempat wisata umumnya. Berbagai macam restoran, tempat pijat dan toko-toko yang menjual oleh-oleh bertaburan lampu. Aku menyusuri jalanan hingga menemukan sebuah kedai makan halal (aku lupa namanya). Pegawainya memakai hijab dan samar-samar terdengar musik yang tidak asing di telingaku. Ternyata mereka memutar lagu Sabyan yang ketika itu sedang naik daun.
Aku membeli semangkuk tomyum dan segelas es teh susu Thailand yang juga sedang booming di Indonesia. Total yang aku keluarkan sebesar 180 baht ketika itu. Cukup mahal memang, tetapi tomyum yang disajikan sangat banyak dengan mangkuk yang besar (mungkin cukup untuk dimakan bertiga). Selesai makan aku pun kembali menyambangi minimarket untuk membeli makanan dan lagi-lagi aku disapa menggunakan bahasa Thai. Aku menyesal tidak belajar bahasanya terlebih dahulu.
Aku pun kembali ke hotel untuk beristirahat. Salah satu kebiasaanku ketika tinggal di hotel adalah membiarkan televisi menyala sepanjang aku tidur agar tdak sepi. Namun malang malam itu saluran televisinya hilang semua berganti semut-semut. Aku pun langsung tidur agar hari cepat-cepat berganti. Good night!
Nos vemos,
Kirei Khan
Catatan: beberapa foto hilang ketika pindah laptop :(








No comments:
Post a Comment