Monday, 2 November 2020

REVIEW BUKU KIREI: 1Q84 OLEH HARUKI MURAKAMI

Hai semua, kali ini aku mau belajar review untuk buku-buku yang pernah aku baca biar tidak hilang dari ingatan begitu aja. Alasan lain yaitu biar teman-teman semua tahu gambaran buku-buku yang akan kalian beli atau baca. 

Untuk review pertama, dari beberapa buku yang ada di rak aku, aku pilih 1Q84 karena baru banget aku baca dan masih menempel di ingatan betapa serunya membaca buku ini. 




Judul buku            : 1Q84
Penulis                   : Haruki Murakami                           
Penerbit                 : Vintage International, New York                    
Tahun terbit           : 2011
Bahasa                   : Bahasa Inggris 
Penerjemah          : diterjemahkan dari Bahasa Jepang oleh Jay Rubin dan Philip Gabriel
Jumlah halaman   : 1157 halaman
ISBN                        : 978-0-307-47646-3
Tempat beli            : Toko Buku Popular Vivo City, Singapura 

Well, aku rasa sepertinya sudah banyak yang mengenal sosok Haruki Murakami, penulis asal negeri sakura yang sudah banyak mendapatkan penghargaan di bidang sastra. Buku-bukunya juga sudah diterjemahkan dalam beberapa bahasa di dunia. 

Aku sendiri baru mengenal Murakami sekitar enam tahun lalu ketika tanpa sengaja aku membeli bukunya yang berjudul Norwegian Wood, yang sekarang menjadi buku favoritku. 

Buku ini bercerita mengenai seorang gadis berusia berkisar tiga puluhan yang bernama Aomame, yang tanpa sengaja telah memasuki dunia aneh, setelah menuruni anak tangga di Metropolitan Expressway. Dunia aneh yang diciptakan oleh Little People ini memiliki dua bulan yang menggantung nyata di langit. Dunia ini juga yang tanpa sengaja dimasuki oleh Tengo, cinta masa kecilnya, yang membantu seorang gadis SMA menuliskan kembali novelnya yang berjudul Air Crysalis. Penulisan novel inilah yang kemudian membangkitkan kemarahan Little People hingga mereka mengancam akan menyingkirkan orang-orang terdekat Tengo, termasuk cinta masa kecilnya, Aomame, yang sudah tidak pernah dijumpainya sejak dua puluh tahun berlalu. Little People sendiri adalah bagian dari sekte keagamaan, Sakigake, yang ada pada saat itu. Mereka marah karena keberadaan mereka telah disebarluaskan oleh orang yang tidak tahu apa-apa yang kemudian dipaksanya masuk ke dalam dunia mereka. 

"Like it or not, I'm here now, in the year 1Q84. The 1984 that I knew no longer exist. It's 1Q84 now. The air has changed, the scene has changed. I have to adapt to this world-with-a-question-mark as soon as I can. Like an animal released into a new forest. In order to protect myself and survive, I have to learn the rules of this place and adapt myself to them."

Ada banyak peristiwa yang kemudian terjadi setelah Aomame menuruni anak tangga di Metropolitan Expressway yang membuat Aomame akhirnya ikut terlibat dengan Little People. Dia pun merasa galau ketika dihadapkan pada pilihan yaitu melupakan Tengo dan pergi jauh ke tempat yang tidak dikenalnya dengan mengganti identitas atau membiarkan Tengo mati. 

"I'm going to get you, Miss Aomame. You are quite clever, to be sure. Skilled, and cautious. But I'm going to chase after you until I catch you. So wait for me. I'm heading your way. Can you hear my footsteps? I don't believe you can. I'm like tortoise, hardly making a sound. But step by step, I am getting closer."

Begitulah ketika seorang detektif suruhan Little People, Ushikawa, berusaha mengejar Aomame. Aomame yang dalam persembunyianya dari Ushikawa mulai merasa gelisah karena waktunya semakin dekat dengan keputusan mana yang harus diambil. Tidak bertemu dengan Tengo sama sekali, atau membiarkan Tengo mati.

Hal yang aku sukai dari novel ini adalah ceritanya yang membuat penasaran setelah membuka halaman demi halaman. Aku membaca novel ini di tahun 2020 pertengahan, dimana dunia sedang dilanda kecarut-marutan, hingga aku sendiri membayangkan bahwa dunia di tahun ini seperti dunia yang dimasuki Aomame dan Tengo. Saking aku menghayati ceritanya. Aku merasakan bahwa mereka benar-benar ada di dunia ini dan aku ada di dalamnya juga. 

Novel ini diterjemahkan dari Bahasa Jepang ke Bahasa Inggris oleh dua penerjemah yang berbeda. Menurutku, di bagian depan masih sedikit membingungkan untuk kubaca, namun setelah lebih dari setengah buku, terjemahan semakin mudah dipahami. Namun yang paling membuat gemas adalah cerita di bagian akhir yang terkesan diulur-ulur sehingga membuatku sedikit kesal, menguras emosi lebih tepatnya yah 😂

Secara umum sejak aku membaca Norwegian Wood (akan aku bahas di review lain nantinya), aku menyukai cara Murakami menuturkan cerita. Mengalir, apa adanya dan sangat detil. Aku paling suka cara Murakami menggambarkan tokoh dalam novel. Dalam novel ini pun begitu. Bagaimana Aomame, bagaimana Tengo, bagaimana Ushikawa, Komatsu dan lain lain. Selain dari ciri-cici fisiknya, kebiasaan dan keahlian yang dimiliki setiap karakter pun tertulis jelas. 

Latar tempat yang dibuat Murakami adalah tempat-tempat yang nyata dan digambarkan secara detil. Seperti Metropolitan Expressway Number 3, apartment Tengo di Koenji, Koenji Station, beberapa bar, hotel dan lain sebagainya, yang berlatar di tahun 1984 dengan beberapa peristiwa lain yang membarenginya. Ini yang membuat novel 1Q84 semakin hidup dan terlihat nyata. 

Novel 1Q84 yang dalam Bahasa Indonesia terdiri dari tiga buku yang jika dijejerkan sampulnya akan membentuk gambar bulan. Namun buku yang aku baca dalam versi Bahasa Inggris hanya ada satu buku yang terdiri dari tiga bagian. Tebal novel yang lebih dari seribu halaman Novel ini diceritakan dari sisi Aomame dan Tengo serta tokoh Ushikawa di buku ketiga. Aku membutuhkan waktu sekitar empat bulan untuk menamatkannya karena memang aku baca ketika ada waktu luang meskipun dibayang-bayangi rasa penasaran. 

Banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari novel ini. Dari tokoh Tengo kita bisa belajar hidup sederhana tanpa ingin dibebani hal-hal yang tidak penting. Dari Aomame kita belajar untuk berpendirian kuat dan tidak terpengaruh kepada orang lain. Dari Ushikawa kita belajar untuk bekerja keras namun tetap berhati-hati dan fokus pada tujuan. Masih banyak lagi tokoh-tokoh yang memberikan pelajaran berharga lainnya. 

Novel ini cocok sekali dibaca oleh orang yang menyukai cerita cinta yang dibumbui misteri. Namun jangan berharap novel ini mempunyai konklusi yang indah atau sebagaimana cerita lain dengan akhir tertentu. Akhir cerita ini terkesan biasa saja, namun justru yang indah adalah bagian isinya. Oleh sebab itu, kalau kalian punya kesempatan baca buku ini, jangan lewatkan selembar pun ya. 



Selamat membaca,

Kirei Khan







No comments:

Post a Comment