Wednesday, 22 July 2020

LIBURAN SINGKAT DI KRABI, THAILAND (BAGIAN SATU)

Aku lupa kapan tepatnya aku memutuskan Krabi, sebuah daerah di Thailand bagian Selatan, untuk menjadi destinasi liburan singkatku berikutnya. Aku memang tergila-gila dengan pantai berpasir putih, berair jernih, akan lebih sempurna jika hari cerah dan langit berwarna biru. Nah, ketika itu melayanglah pikiranku ke sebuah negara bernama Thailand. 

Foto diambil oleh Teman Mereka


Setelah Langkawi, Thailand menjadi tempat terbangku yang lebih jauh. Jujur, aku dulu sempat bingung bagaimana nanti jika sampai Thailand aku tersesat, sedangkan di Langkawi saja aku bisa tersesat..ha..ha.. Selain itu, aku memikirkan akankah mudah mencari makanan halal di Thailand. Walaupun aku suka makan, tetapi aku bukan seorang foodie yang gemar mencicipi berbagai makanan. Setiap traveling, aku hanya makan makanan yang biasa aku makan saja (ayam, nasi, street food itupun yang kelihatannya bisa aku terima), sungguh ribet ya? 

Setelah membaca-baca beberapa blog dan postingan member di grup Facebook, aku pun memutuskan Krabi sebagai destinasiku. Alasan utamanya, Krabi merupakan sebuah daerah dimana mayoritas penduduknya beragama Islam, sehingga akan mudah menemukan makanan halal di sana. Selain itu, tiket yang aku dapatkan ke sana pun lebih murah dibandingkan jika aku pergi ke daerah lain di Thailand. Well, tiket sudah di tangan. 

Day 1 :

Aku terbang dari Singapura ke Thailand setelah sehari sebelumnya aku menginap di Singapura untuk sebuah janji dengan teman yang kebetulan sedang business trip di sana. Pesawatku terbang sekitar jam 3 sore waktu Singapura. Penerbangan memakan waktu kurang lebih 1 jam 40 menit, hampir sama dengan penerbangan ke Langkawi. Aku tidak mendapat window seat yang aku harapkan. Huh!

Selama penerbangan, aku duduk di antara dua orang yang sangat berkebalikan dalam hal penampilan. Sebelah kananku, seorang cowok parlente, potongan rambut yang rapi, sepatu mengkilat, memakai jas dan duduk tenang membaca buku di kindle nya. Sementara di sebelah kiriku, seorang cowok yang sangat lusuh, menggunakan celana pendek, jaket lusuh, rambut sedikit gondrong yang mungkin dia lupa kapan terakhir dicuci, sandal gunung dan aku ingat dia membawa ransel yang begitu besar. Selama penerbangan dia pun tidur dan terlihat lelah. Namun aku lebih suka untuk menyapa cowok di sebelah kiriku, dia lebih bersahabat kelihatannya. 

Tiba akhirnya kami diminta mengisi kartu kedatangan ke Thailand. Kartu tersebut dicetak dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Thailand. Setelah selesai mengisi, aku pun kembali melipat meja dan bersiap beristirahat lagi. Namun aku perhatikan cowok lusuh tadi yang sedang sibuk memainkan ponselnya. Sekilas aku melirik, kupikir dia lupa nomor passportnya dan harus dicari di ponselnya, ternyata dia menggunakan terjemahan untuk mengisi kartunya. Ohoooo...dan ternyata dia berbahasa Spanyol. Dengan kemampuan Bahasa Spanyolku yang hanya hola dan adios, aku pun membantu cowok tersebut. 

"Jadi kamu dari Argentina ya?" tanyaku sedikit dalam Bahasa Spanyol.
"Iya," jawabnya singkat. 

Cowok tersebut terlihat ingin mengobrol namun karena kendala bahasa dia jadi terlihat diam saja dan cuek. Aku pun bertanya lagi. Ternyata dia terbang dari Bali ke Singapura dan melanjutkan perjalanannya ke Krabi. Wah, aku suka sekali jika aku bisa berteman dengannya. Aku berpikir seandainya Bahasa Spanyolku sudah di level advance atau minimal intermediate lah. Duh!

Kami pun mendarat di Krabi dengan selamat. Cuaca sangat cerah meskipun sudah sore. Waktu Thailand sama dengan waktu Indonesia dan lebih lambat satu jam dari Singapura. Kami pun berbaris di antrian imigrasi. Petugas imigrasi yang bertugas mengecek pasporku tidak bertanya sama sekali. Beliau hanya mengecek paspor dan kemudian mengembalikannya padaku. Tetapi aku terkejut dengan caranya mengembalikan paspor, sedikit dilempar. Duh. Tapi walau bagaimanapun aku selalu mengatakan "thank you". 

"Welcome to Thailand!" seruku dalam hati. 

Aku turun ke pintu utama bandara dengan menggunakan eskalator. Sebelum aku memesan bus, aku terlebih dahulu membeli kartu telepon dan internet. Penjualnya bernama Ibtisham, seorang gadis muda dengan wajah khas Thailand, namun menggunakan jilbab. Aku bahkan hampir lupa kalau aku sedang di Thailand, karena selain berjilbab Ibtisham juga fasih berbicara Bahasa Melayu. Ibtisham yang saat ini masih berkontak denganku, menawarkan paket tur yang biasa dipesan turis-turis yang datang ke Krabi. Aku memesan tur four islands hoping seharga 800 Baht. Mereka mencatat nama hotel tempatku menginap dan akan menjemputku pukul sembilan pagi. Setelah sepakat dan membayar, aku pun menuju konter bus untuk membeli tiket. 

Aku kembali melihat cowok Argentina yang bahkan aku lupa bertanya siapa namanya tadi yang baru saja kembali dari konter tiket bus. Kami saling menyapa sebelum dia berpindah ke konter Ibtisham. Aku membeli tiket bus seharga 150 Baht untuk menuju Pantai Ao Nang, di mana aku akan menginap. Sekembalinya aku dari konter tiket bus, si cowok Argentina tadi masih di sana.

"Ayo kita sama-sama menunggu bus!" ucapku dalam Bahasa Inggris dengan bahasa tubuh yang kubuat sedemikian sehingga semoga dia paham. Dia pun mengangguk. Aku langsung menuju pintu depan bandara tempat menunggu bus. Aku berharap kami naik bus bersama supaya aku bisa menanyai namanya. 

Ketika bus datang, si Argentina masih belum menampakkan dirinya. Aku pun bertanya pada petugas kapan bus berikutnya akan datang agar aku bisa menunggu calon temanku itu. Ternyata bus berikutnya baru akan datang dua jam lagi. Aku pun tidak jadi menunggu karena kalau aku sampai di lokasi pada malam hari, aku akan kesulitan mencari hotel tempaku menginap. Jadi kutinggal saja dia. Adios amigo! 

Perjalanan dari bandara Krabi ke Pantai Ao Nang ditempuh dengan bus selama kurang lebih satu jam. Aku tidak bisa melewatkan begitu saja dengan tidur. Aku yang duduk di samping jendela pun mengintip dari balik tirai bagaimana sebenarnya Thailand itu. Ternyata hampir sama saja dengan di Indonesia. Keda-kedai pinggir jalan, anak-anak sekolah berjalan kaki, motor-motor bersliweran dan ada juga yang tidak memakai helm. Kemudian aku memperhatikan ternyata tidak sedikit juga aku melihat ibu-ibu berjilbab mengendarai motor. Persis seperti di negaraku! 

Aku sampai di hotel sekitar pukul lima sore. Masih cukup terang untuk mencari alamat. Hotel yang aku tinggali sementara yang tidak jauh jaraknya dari Pantai Ao Nang, berjalan sekitar lima menit. Lokasi hotel tidak jauh dari gang masuk namun sedikit menanjak. Aku pun langsung menuju resepsionis untuk check in. Lagi-lagi seorang gadis muda Thailand dengan jilbab dan juga Bahasa Melayu. Ternyata rata-rata orang di Krabi bisa berbahasa Melayu, karena daerahnya berbatasan dengan Malaysia. 

Proses check in ku saat itu ternyata sedikit lama karena ternyata baik kartu debit maupun kreditku tidak bisa digunakan. Akhirnya terpaksa uang tunaiku yang jumlahnya tidak terlalu banyak, kugunakan untuk membayar hotel sejumlah 810 Baht. Menurutku itu sangat murah untuk ukuran kamar pribadi yang cukup luas selama tiga malam. Saranku, bawa uang Baht yang agak banyak atau mata uang USD jangan rupiah karena belum tentu diterima oleh penukaran uang setempat. Saat itu aku membawa uang dolar Singapura yang ternyata cukup membantu. 

Sesampainya di kamar, aku pun langsung menata barang-barangku. Aku menyukai kamar yang terletak di lantai dua, dengan pemandangan sebuah tebing dan beberapa hotel yang terlihat dari jendela yang cukup lebar. Kamar tersebut dilengkapi dengan TV tabung, meja untuk makan, meja rias, lemari, penjemur handuk, kasur yang cukup nyaman serta kamar mandi dengan shower meskipun hanya air dingin. Aku sengaja memilih tanpa AC karena aku memang tidak bisa tidur dengan AC. Ini benar-benar harga yang gila. Memang sangat sepi tetapi aku merasa cukup nyaman berada di sana. 

Setelah beristirahat sebentar, aku pun memutuskan untuk berjalan kaki menuju pantai untuk menikmati matahari terbenam. Matahari terbenam dari pantai memang indah, sangat indah. Sore itu pantai Ao Nang sangat ramai. Di tepi jalan menuju pantai, aku mendapati banyak sekali kedai makan dan tempat pijat. Selain itu juga berjejer toko-toko kecil yang menjual souvenir khas Thailand serta minimarket yang selalu ramai. 

Sunset di Pantai Ao Nang, Krabi, Thailand


Sore Hari di Pantai Ao Nang, Krabi, Thailand


Aku berjalan di pasir dan menghirup udara sore pantai. Aku berjalan di sepanjang garis pantai hingga bertemu dengan patung ikan yang khas di pantai tersebut. Aku pun kemudian naik melalui tangga yang tersedia. Aku menyusuri jalan sambil melihat-lihat toko souvenir. Tidak lama kemudian tiga orang asing menghampiriku. Mereka ternyata wanita pria Thailand yang sedang menawarkan pamflet pertunjukan kabaret. Jujur, aku sangat takut dengan sosok wanita pria seperti mereka. Terlebih lagi mereka bertiga, aku sendirian dan di tempat yang asing pula. 

Aku pun dengan terpaksa menerima pamflet tersebut dan berpura-pura bertanya tentang pertunjukan tersebut. Mereka pun menjelaskan dan kemudian menanyakan asalku. Perasaanku campur aduk ketika itu. Aku ingin sekali kabur. Badan mereka besar-besar sekali untuk ukuran orang Asia menurutku. Ketika aku hendak pergi, mereka menawarkan diri untuk berfoto. Karena takut aku pun mengiyakan. Selesai berfoto dan aku hendak pergi, ternyata mereka meminta bayaran dengan menunjukkan sejumlah uang yang harus aku bayar, 100 Baht. Aku pun dengan polos mengeluarkan 100 Baht tersebut. Ternyata 100 Baht itu hanya untuk satu orang, sedangkan mereka bertiga jadi total yang harus ku keluarkan sebanyak 300 Baht. Sialan. Kemudian aku kabur dengan muka merah, ingin menangis tapi malu. 

Aku berjalan kembali menuju hotel. Sebelum sampai hotel, aku menyempatkan diri berbelanja di minimarket untuk membeli air putih, beberapa makanan ringan dan sampo. Ternyata kasir di minimarket tersebut tidak bisa berbahasa Inggris. Bahkan aku yang ketika itu tidak memakai jilbab diajak berbicara menggunakan Bahasa Thailand yang membuatku melongo. Kemudian aku membeli sebuah jajanan di pinggir jalan yang katanya cukup terkenal, banana pancake, yang ternyata seperti prata dengan isi pisang dan di atasnya diberi toping cokelat. Enak sih. Cukup untuk makan malam setelah jatah makan malamku 'dirampok' oleh ketiga wanita pria tadi.

Aku kembali ke hotel, mandi dan beristirahat sambil menikmati banana pancake serta menonton televisi tabung yang mengingatkanku pada jaman aku kecil. Malam itu aku bercerita pada Ahmed (my bf at that time) tentang pengalamanku hari itu, perampokan itu ha..ha.. dan tentu dia menertawakan aku. Huh! Good night!


Nos Vemos,

Kirei Khan


3 comments:

  1. Jadi pengen ke krabi. Btw aku pernah liat pantai krabi di film thailand judulnya "friendzone"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, banyak destinasi nya sih di sana. Cuma waktu itu sebentar aja dan isinya cuma leyeh-leyeh haha

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete