Maret, 2018
Pasporku baru diperpanjang karena mau expired di bulan Juli. Berhubung aku mau traveling dalam waktu dekat, jadi aku buru-buru perpanjang (minimal masa berlaku enam bulan ya kalau mau ke luar negeri).
Singkat cerita, kantor ngasih tugas buat jemput barang ke salah satu kantor supplier kami di Jurong, Singapura. Karena barangnya lumayan berat, jadi kami harus berangkat berdua. Terpilihlah aku dan Pak Eko, teman satu kantorku yang gokil abis.
Sesuai rencana, aku dan Pak Eko berangkat dari pelabuhan yang berbeda. Aku lewat Batam Center, sedangkan Pak Eko lewat Harbourbay, yang lebih dekat dengan rumahnya. Berhubung pagi itu aku sakit perut karena malam sebelumnya aku makan bakso yang super pedes, aku terpaksa naik ferry yang kedua (harusnya yang paling pagi).
Stempel pertama di paspor baru kudapat dengan mudah tanpa ba bi bu. Ternyata Pak Eko sudah nunggu di foodcourt BAGUS Harbourfront. Aku minta maaf karena sedikit terlambat. Sebelum berangkat ke Jurong, kami sarapan dulu di sana, apalagi waktu masih terlalu pagi.
"Mbak Qori hari ini buru-buru nggak?" Pak Eko tiba-tiba bertanya.
"Hmmm...enggak sih, kenapa memangnya Pak?" tanyaku balik.
"Udah pernah naik bus tingkat?" tanya Pak Eko membuatku penasaran.
"Belum sih, nggak berani naik bus sendirian di sini, bingung," jawabku polos sambil ketawa.
"Gimana kalau kita naik bus aja ke Jurong nya? Kita naik MRT dulu sampai mana gitu terus kita lanjut pakai bus. Lumayan kan ongkosnya bisa buat beli cokelat, sekalian belajar naik bus. Nanti naiknya di lantai dua pas paling depan biar kayak main play station," Pak Eko jelasin ke aku dan akhirnya aku pun setuju.
Jujur sejak pertama kali ngetrip ke Singapura, aku nggak pernah belajar naik bus. Pertama kali aku naik bus di Singapura itu pas ketemu Mas Stewart. Dia yang tahu tujuannya dan aku cuma ngikut aja. Kedua kalinya juga sama, pas ketemu Andy. Jadi, I had no idea about taking bus in Singapore.
Alasan kenapa menurut aku dulu naik bus di Singapura itu ribet adalah yang pertama nggak seperti MRT yang di setiap stasiun pasti berhenti, bus hanya akan berhenti kalau ada yang pencet tombol untuk berhenti di halte berikutnya. Kedua, nama halte bus yang terpampang nyata di plang haltenya nggak kebaca dari dalam bus, jadi aku ngerasa bingung harus turun di mana.
Okay, selesai sarapan kami pun bergegas ke stasiun MRT. Ongkos dari kantor kami bagi dua. Aku isi kartu EZ link ku yang saldonya tinggal sedikit. Pak Eko masih punya saldo di kartunya. Well, we are ready for the adventure!
Mengikuti rencana Pak Eko, kami seharusnya turun di stasiun terakhir, Tuas Link. Kami pun senyum-senyum saking bisa hemat buat trip ini. Stasiun demi stasiun kami lalui. Hari itu kereta sepi sekali karena masih di jam kerja. Sampai di suatu stasiun (aku lupa namanya, kalau tidak salah Joo Koon) kami terpaksa turun karena kereta tidak akan sampai ke Tuas Link, sedang ada perbaikan.
Kami pun turun dan keluar dari stasiun untuk mencari bus. Aku yang sama sekali nggak tahu arah, cuma bisa ngikut Pak Eko. Ya walaupun Pak Eko juga pakai Google Map tetep aja dia lebih tahu caranya 😁
Setelah keluar dari stasiun, kami mencari halte terdekat menurut peta. Ternyata nggak jauh hanya jalan kaki sebentar. Tapi ternyata bus yang kami maksud lama banget datangnya. Sebelumnya ada bus dengan nomer yang sama tapi penuh dan akhirnya kami tunggu ada sekitar setengah jam lebih.
"Itu jembatan apa Pak?" tanyaku ke Pak Eko.
"Itu lah Mbak Qor, kalau mau ke Johor dari Singapur lewat jembatan itu."
"Oh, deket juga berarti ya Pak?"
"Iya emang."
Akhirnya bus yang kami tunggu sampai juga. Tanpa basa basi aku langsung naik ke tingkat dua yang disusul Pak Eko. Sayang waktu itu tempat duduk paling depan sudah diduduki orang lain. Baiklah tak apa. Perjalanan lumayan panjang menuju ke tempat supplier kami di The Index, Tuas South Avenue.
Halte demi halte kami lalui. Pemandangan Singapura yang tak pernah membuat aku bosan meskipun dikelilingi gedung-gedung. Untuk daerah Tuas sendiri merupakan daerah industri jadi jalanan sepi dari turis.
Singkat cerita kami sampai di kantor supplier kami yang ternyata hanya berupa sebuah kontainer ukuran empat puluh kaki, tapi ketika masuk aku tercengang. Isinya kantornya lumayan lengkap. Di ujung dekat jendela, duduk seorang wanita, namanya Melisa. Dia menyambut kami. Kami duduk karena kelelahan.
Sembari menunggu Melisa siapkan dokumen untuk hand carry, kami bergosip membayangkan punya kantor begitu. Saking lamanya Melisa menyiapkan dokumen, waktu makan siang pun datang.
"Mbak Qor, makan siang nih," seru Pak Eko.
"Yah, mau makan di mana Pak? Sekitar sini udah jelas nggak ada, nanti aja deh di pelabuhan," jawabku lesu.
"Ibuku bawain aku nasi goreng, ayok kita bagi dua," Pak Eko nawarin yang sudah pasti nggak akan aku tolak.
"Nanti bapak kenyang nggak?"
"Aman itu," jawab Pak Eko setuju dan kami pun ijin ke Melisa untuk pakai pantry dan peralatan makannya.
Singkat cerita kami selesai makan dan transaksi dengan Melisa, kami balik lagi buat cari bus. Tujuannya sudah pasti, ke Joo Koon. Kami jalan kaki ke bagian depan The Index (kantornya Melisa ada di paling belakang) dan mulai balik ke Google Map lagi. Kali ini aku dapat bus di tingkat dua dan kursi paling depan. Asyikkk!
"Main playstation, Mbak!" seru Pak Eko.
"Iya ya, serasa luas banget layarnya, ha..ha..!"
Setelah sampai tujuan, Pak Eko turun duluan dan aku nyusul di belakang. Ternyata gerakan Pak Eko cepat banget, belum lagi aku sampai di tingkat satu, dia udah di luar. Tiba-tiba "gedebuk" aku jatuh bersama kardus-kardus yang aku bawa. Mukaku langsung merah padam, bangun lagi dan mungut lagi kardus yang sempat terpelanting.
"Mbak Qor, kenapa?" tanya Pak Eko.
"Nggak apa-apa!"
"Kardusnya aman kan?"
"Sialan..ha..ha..ha.. malu aku tapi untungnya nggak ada yang bereaksi apa gitu," hiburku.
Yup gaes, secuek itu memang orang di Singapur. Pas aku gedebuk jatuh nggak ada satu pun yang bereaksi apa gitu, cuma melongo aja. Semenjak itu aku takut mau naik bus ke tingkat dua. No more haha.
Stasiun Joo Koon masih sesepi pas pagi. Penumpang kereta cuma aku dan Pak Eko terus ada satu orang lagi.
Sampai di Harbourfront kami pun pisah karena Pak Eko masih nyari sesuatu. Aku pun pulang dengan tulang kering yang "awww" sedikit memar.
Sampai sekarang, aku masih mikir-mikir kalau disuruh naik bus karena bingung dan ribet. Kalau deket mending jalan kaki aja sih. Haha!
Nos vemos,
Kirei Khan




No comments:
Post a Comment