Monday, 14 December 2020

REVIEW BUKU KIREI: THE ACCIDENTAL FURTHER ADVENTURES OF THE 100-YEAR-OLD MAN

Halo sobat buku, 

Kali ini aku mau review satu buku lagi dari Jonas Jonasson. Buku ini lanjutan dari buku sebelumnya, The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared.




Judul buku            : The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared
Penulis                   : Jonas Jonasson                           
Penerbit                 : Bentang Pustaka                    
Tahun terbit           : 2018
Bahasa                   : Bahasa Indonesia  
Penerjemah           : Yunita Candra 
Jumlah halaman   : 500 halaman
ISBN                        : 978-602-291-510-2
Tempat beli            : Toko Buku Gramedia, BCS Mall, Batam

"Ya, keadaan sekarang memang kelihatannya buruk, Teman. Kehidupanku sebelum ini juga suram, tetapi aku tetap berdiri di sini. Lihat saja nanti, angin akan berubah. Atau, sesuatu yang lain." (Allan Karlsson)

"Akan tetapi, mereka juga selalu tepat waktu, seakan-akan arloji Swiss ditanam dalam kepala mereka. Dan mereka sukses dalam setiap pekerjaan. Singkatnya, pakar senjata nuklir Swiss tidak mungkin dusta. Begitu, bukan? (Pemimpin Tertinggi Korea Utara)

"Lagi pula, negara yang terpecah belah adalah negara yang lemah." (Presiden Putin)

"Jika kau ingin naik pangkat, kau harus memilih tempat dan waktu yang tepat untuk beraksi." (Agen Berlin)

Masih dari penulis yang sama, Jonas Jonasson, buku ini adalah lanjutan cerita dari petualangan Allan Karlsson di buku pertama, The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared. 

Dilanda kejenuhan yang memuncak menjelang ulang tahun ke-101, Allan memutuskan bertamasya dengan balon udara. Doanya terkabul. Dia berakhir di Korea Utara sebagai ahli nuklir gadungan dan harus segera menyelamatkan diri sebelum kebohongannya terendus.

Petualangan konyol ini pun dimulai, melibatkan para pemimpin dunia, dari Presiden Trump, Kanselir Merkel, sampai perusahaan peti jenazah "Mati Bermartabat AB" dan seorang pemuda neo-Nazi penuh dengki yang terobsesi dengan insiden memalukan dalam pemakaman kakaknya. Lantas, bagaimana akhir keruwetan ini?

Di dalam buku ini Allan Karlsson digambarkan kecanduan gadget, sebuah tablet hitam yang dia bawa kemana-mana, nggak boleh sampai lepas dari tangannya. Dari dalam tablet hitam itu pula dia tahu keadaan politik dunia saat ini. Ini yang membuat Julius selalu kesal dan uring-uringan. Allan, dengan sikapnya yang selalu santai terbukti bisa menyelesaikan berbagai masalah pelik, termasuk saat dikejar pria neo-Nazi yang ingin balas dendam karena dipermalukan saat pemakaman kakaknya. 

Sama seperti buku pertamanya, aku suka isi buku ini karena bukan hanya lucu dan menghibur tetapi ceritanya juga cerdas. Bukan lucu yang bikin ngakak tapi nggak berisi sama sekali, justru cerita di buku ini mengandung banyak banget pelajaran yang bisa diambil. Kekurangan dari buku ini hampir nggak ada, mungkin hanya kurang panjang aja ceritanya, aku masih berharap ada kelanjutannya. 

Masih sama dengan buku pertama, aku masih mengidolakan sosok Allan Karlsson, si tokoh utama yang selalu bikin Julius uring-uringan dengan pemikirannya yang sering out of the box tapi sukses bikin masalah terpecahkan. 

Ditulis pakai alur maju, cerita di buku ini berlatar di banyak tempat mulai dari Bali (Indonesia), Korea Utara, Amerika Serikat, Swedia bahkan hingga di hutan Afrika. Ini menggambarkan kalau sosok Allan memang senang petualangan. Gaya penulisannya pun masih sama dengan buku yang pertama. Walaupun ini buku terjemahan tapi aku bisa ngerasain pesan dari penulis aslinya. 

So, buat sobat buku yang belum baca buku ini, coba baca deh. Buat yang suka drama komedi cerdas, ini cocok banget. Tebal 500 halaman itu bisa aku habisin selama seminggu (lama banget karena diselingi kegiatan lain sih), yang harusnya bisa beberapa hari aja saking ngalirnya ceritanya. 

Selamat membaca 😉

Kirei Khan 


No comments:

Post a Comment